Fenomena Es Dawet Ireng

July 03, 2012

Sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta, mata saya  disuguhi dengan berbagai hal termasuk sajian kuliner. Nah, yang berbeda pada akhir juni ini semenjak masuk jalur selatan tepatnya Purworejo, hamper setiap 5 meter terdapat tukang es dawet hitam. Apa itu? Lapaknya sederhana dan menyebar hingga wilayah kulonprogo dan Yogyakarta.


Setahu saya, es dawet itu cendolnya warna hijau atau kadang merah. Dan Dawet yang terkenal ya Dawet Ayu Banjarnegara. Lalu apa dawet hitam atau dawet ireng ini. Dawet ireng ini minuman berjenis dawet tapi dengan cendol yang berwarna hitam legam. Proses pembuatannya sangat alami yaitu diolah dengan tangan dan nggak pake bahan pewarna. Pewarna hitam buat cendol dibikin dari daun padi kering (oman) yang dibakar hingga menjadi abu, kemudian abu dicampur dengan air dan menghasilkan warna hitam. Sedangkan cendolnya dibuat dari sagu bukan dari tepung beras seperti cendol hijau biasa. Pemanisnya menggunakan gula aren. Ada keunikan dalam penyajian dawet ireng ini, yaitu pemerasan santan dari parutan kelapa langsung yang dapat dilihat oleh pembeli dan jumlah cendol ireng yang jauh lebih banyak dibanding kuahnya (santan dan air gula aren), kemudian ditambah es. Harganya berapa??? dawet ireng ini dibandrol cuma Rp 2.500,- saja per mangkok. Buat yang lagi travelling atau mudik atau sekedar lewat di jalur selatan Purworejo – Jogja, mampirlah sejenak melepas lelah sambil menikmati dawet ireng, yang terkenal adalah dawet ireng  jembatan butuh.
mirip dengan fenomena banyaknya tukang tutut di jalanan Bogor beberapa waktu lalu, semoga konsumen tidak cepat jenuh dan para pedagang terus berkreasi memelihara kekayaan kuliner nusantara tentunya dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan. 

Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature