Percakapan dengan hujan (sebuah cerpen kala gerimis)

September 10, 2012

Inilah momen yang kutunggu..
Hujan kala senja, aroma khasnya dan juga hawa segarnya selalu memunculkan inspirasi. Kudekati jendela dan kutatap dalam-dalam. Tampak makhluk makhluk bersayap bening itu bertaburan dari langit lalu berubah jadi riak-riak kecil tatkala menyentuh bumi. Berteriak lantang ku kepada segerombolan makhluk itu..
“Hujan,,taukah kau, aku rindu sekali denganmu. Kenapa kau baru turun?”

Hujanpun menjawab “inilah kehendak Allah swt, Allah ingin kami turun sekarang, hari ini, detik ini, dan di sini”.
Aku makin kegirangan karena pertanyaanku dijawab “apa kalian tak kasihan melihat bumi kering, ternak mati? Apa kalian tak bisa mendesak Allah agar mau menurunkan hujan sedari bulan lalu?”
Salah satu makhluk bersayap bening yang tampak bijak mendekatiku dan berkata “la haula wa laa kuwwata illa billah, tiada daya dan upaya kecuali karena allah”.
Akupun terdiam mendengar jawaban itu. Tertegun ..lalu berdoa
“Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”
Makhluk itu masih di depanku dan melanjutkan kalimatnya ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan”.
Lalu tiba-tiba suara dahsyat itu terdengar..”duar duar..” aku berteriak “astaghfirullah”..kubuka mata dan,,ternyata sedari tadi aku tertidur dan bermimpi. Bergegas kubuka jendela, hujan lebat..langit hitam, dengan suara petir bersahutan. Tampak air bening turun dari langit, tapi tanpa sayap. Kuingat kalimat tadi, tentang berdoa kala hujan.  Segera kupejamkan mata dan melontarkan beberapa permohonan kepada sang pemberi hujan.

Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature