Setahun Jadi Karyawan

September 30, 2012
Malam senin nih besok siap-siap memulai pekan sekaligus bulan baru. Hemm,,harusnya ada resolusi baru yang ingin dicapai terlebih ini sudah hampir di penghujung 2012. Kalau kenyataanya malah makin drop semangat kerjanya bagaimana? Tak terasa tanggal 3 Oktober nanti, anniversary saya di perusahaan tempat saya kerja. Tanggal 3? Dengar-dengar ada demo nasional. Whatever lah ya,,yang jelas saya belum merasa berbuat apa-apa untuk perusahaan meskipun selalu digaji tepat waktu.
Proses adaptasi yang terus berjalan, rutinitas senin-jumat jam 7-jam 17.30, itu-itu saja. Tidak ada libur semesteran yang ditunggu, tidak ada istilah jam kosong jadi bisa main-main. Inilah kerja, beda banget sama kuliah. Menengok ke belakang, rutinitas ini mengajarkan banyak petuah. Yak..petuah by practice  tentang kerasnya dunia, terutama di lingkungan yang didominasi buruh.
Gambar di bawah ini benar-benar memperlihatkan yang saya rasakan. saat kerja membayangkan tidur, dan saat tidur masih mikir kerjaan. hahahaha. bahkan sampai pernah ngelindur mau jalan ambil sampel, padahal di kamar. Awal-awal kerja bahkan sering mendengar suara mesin saat tidur (bayangan).

Tinggal di kos yang sempit, panas, berebut air, dan tak pernah bisa merasakan weekend di sana. Lalu pindah ke kontrakan 3 petak di pinggir rel kereta yang seadanya dan lonely abis. Kalau dipertahankan kayaknya bakal stress akut. Keseringan diare juga disana. Sekarang, pindah ke lingkungan komplek premium yang lebih nyaman. Ya..akhirnya merasakan hidup disini. Nonton TV, bergaul, bersepeda, Alhamdulillah hidup terasa lebih aman dan sentosa.
Semangat kerja memang naik turun, itulah makanya butuh rekan kerja yang bisa memotivasi bukan malah men-demotivasi karena selalu mengkampanyekan “resign”. Bagi saya, terima saja jalani ikhlas sampai tanggung jawab disini selesai. Kalau masih nyaman, ya untuk apa beranjak?kecuali memang ingin yang lebih menantang.
Apa harapan saya? Siapa sih yang mau jadi karyawan terus. Yah..meskipun penghasilan tidak serutin jadi karyawan, dan resiko lebih besar, menjadi wirausahawan sepertinya lebih cocok untuk saya wanita yang punya keinginan jadi full mom and full wife. insyaAllah..
Saya tidak bisa membayangkan jika pagi-pagi harus menyiapkan kerja sekaligus menyiapkan keperluan suami dan anak. Apa bisa maksimal? Lalu saat siang, siapa yang menemani anak main dan buat PR? Pengasuh..ah..tidak. saya ingin mengasuh anak saya sendiri. Dan tak terbayangkan pula saat sore pulang kerja capek, tetapi harus menyiapkan makan untuk keluarga, menyambut suami, menemani anak belajar, dll.
Mumpung masih belum berkeluarga, saya akan maksimalkan kesempatan ini. 
Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature