Aku dan PLN, Saat terang menyambangi desaku

October 06, 2012

Aku tinggal di sebuah dusun yang berjarak sekitar 40 km dari Pantura Pekalongan. Dusun yang cukup maju di bidang pertanian karena letaknya di dataran tinggi. Meskipun aku lahir di akhir tahun 80an, tapi aku masih merasakan kegelapan yang bersahaja. Aku kecil, tak mengenal PLN. Yang kutahu hanya lampu minyak yang selalu dinyalakan oleh ibuku dan semua warga desa menjelang magrib.
sumber: http://zulmasri.wordpress.com

sumber: http://www.pasarkreasi.com

Meski gelap, syiar islam di desaku cukup maju. Habis magrib kami mengitari sebuah lampu minyak dan mengaji bersama. Saat ada acara penting seperti selamatan, barulah petromaks muncul. Menyalakan petromaks selalu jadi aktivitasku yang menyenangkan bersama simbah. Bagiku waktu itu, petromaks adalah teknologi canggih karena dari sebuah kaos dan spiritus bisa menenerangi serumah. Terangnya menyilaukan, karena saking terbiasanya dengan lampu minyak.
Tahun 90an listrik PLN sebenarnya sudah masuk ke daerah kami, tapi baru sampai kecamatan. Karena tidak ada PLN, tidak ada pula barang elektronik yang menonjol di rumah-rumah. Sebatas Televisi dan radio. Televisi bertenaga accumulator (aki) yang selalu memunculkan fenomena seru saat sedang asik menonton lalu akinya habis. Apa boleh buat. Begitupun untuk sound di masjid dan musola menggunakan accumulator yang harus rajin diisi ulang di ibukota kecamatan.
Sekitar tahun 1996, saat itu aku baru masuk SD terobosan baru ditemukan. Daerah kami yang berada di dataran tinggi dan memiliki sumber air cukup melimpah mendorong kami membuat kincir air. Dengan bergotong royong, 2 buah kincir air itu akhirnya terwujud. Kabel-kabel mulai melintang di jalanan antar RT meskipun tiangnya pendek-pendek dari bambu. Desa kami mulai menggeliat, meski tak banyak namun lampu-lampu neon mulai dinyalakan. Listrik dari kincir tidak se stabil listrik PLN. Saat kemarau, debit air mengecil akibatnya listrik redup. Saat hujan lebat, debit air sangat tinggi sampai-sampai pulli yang mengait antara kincir dan dynamo putus sehingga listrik padam. Tapi, kemajuan ini luar biasa bagi kampungku.
Antusiasme warga muncul saat truk-truk masuk ke desa kami membawa tiang-tiang listrik PLN di tahun 1997 akhir. PLN membawa terang ke desaku. Desaku tak gelap lagi, dan lebih bersemangat. Muncul home industry – home industry, kegiatan kemasyarakatan lebih ramai, dan tentunya aku bisa belajar di malam hari dengan lampu yang terang.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya 2009 saat aku berada di Bogor untuk menuntut ilmu, aku mengambil focus jurusan pada energy dan elektrifikasi pertanian. Bahkan penelitian skripsiku pun di bidang itu yang aku lakukan di daerahku.

Sepercik Harapan
dari desa yang sempat menjalani gelap lebih lama, aku mewakili warga desaku berharap agar PLN dapat memberikan pelayanan yang lebih baik lagi. kami masih awam tentang penghematan listrik, safety, dsb. ajarilah kami. PLN yang aku tahu hanya memeriksa meteran setiap bulan, tak pernah mengadakan acara bersama dan duduk bersama warga. Kalaupun ada, mungkin hanya di kota besar. Sebagai BUMN sudah seharusnya PLN lebih merakyat.
Dirgahayu PLN ke 67, semoga semakin merakyat, merapat, dan bersemangat menarangi Indonesia.

5 comments on "Aku dan PLN, Saat terang menyambangi desaku"
  1. mba'nya pekalongan daerah mana ya??
    aku juga pekalongan tapi deket pantura, kecamatan Tirto.... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Donowangun, kecamatan Talun.

      Terima kasih sudah berkunjung

      Delete
    2. owh..donowangun tho....:)
      aku pernah kemah di situ mba'..pas kemah KSIP 2010...hehe

      Delete
  2. lg ikutan kontes blog pln ya?
    semoga menang ya.
    di tunggu kungjungan baliknya di pondoklukman

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature