Engineer Woman At Manufacture Factory

October 22, 2012
Inilah saya, seorang wanita yang disekolahkan orang tua atas pilihan sendiri mendalami jurusan teknik mesin dan akhirnya mendapat gelar engineer. Merasakan kehidupan perkuliahan yang didominasi kaum pria. Minoritas? Engga juga sih. Tak masalah bagi saya untuk tetap berjilbab, bahkan memakai rok lebar atau gamis saat kuliah. Tak pernah merasakan mendapat diskriminasi oleh teman sekelas di ensemble44 ataupun oleh para pengajar. Semua diperlakukan sama sebagai mahasiswa teknik mesin.
Lain cerita ketika saya memilih bidang pekerjaan di sebuah industry manufaktur terlebih di bagian riset yang benar-benar didominasi pria. Bahkan se- factory jumlah perempuan bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar job memang harus dilakukan oleh pria. Bukannya saya "menye-menye" ya J tapi memang tidak pantas dan berbahaya dilakukan perempuan.
Akibatnya apa? Terkadang saya merasa kurang berkembang. Entah saya yang salah bagian, atau gimana. Tapi saya tetap enjoy. Hal yang menurut sebagian besar orang membosankan entah bagaimana itu menarik buat saya. Life is choice ladies. .jikalau saya mau kerja di Bank biar selalu tampil OK, saya pun bisa.
Saya hanya berharap agar ilmu saya semakin bertambah. Kalaupun ilmu engineer beberapa terlupa semoga bayak ilmu baru yang masuk. Mati 1 tumbuh 1000 gitu. Amien..
Analoginya seperti permainan yang pernah saya lakukan di cansebu, Bogor beberapa waktu lalu. Mendorong telur ayam melewati bambu secara maraton. Sebuah tim, tidak hanya terdiri dari kaum lelaki. Wanita juga dibutuhkan untuk hal-hal tertentu meski tak sedominan pria. Menyelesaikan pekerjaan yang bersifat temporary tapi cepat, itu salah satu keahlian saya J. Fungsi dari seorang pemimpin sebagai komando utama bukan hanya membimbing agar para karyawan mendorong telur ayam (job) melewati bambu dengan hati-hati tetapi juga memahami si A  ini cocoknya dimana ya, Si B ini cocoknya dimana. Kemampuan interpersonal dan memahami seperti ini yang seharusnya ada pada level manajerial di semua lini. Jika posisi ditempati karyawan yang tak sesuai maka synergi akan tidak optimal.
Saya tak pernah menyesal memilih menjadi engineer, demikian pula saya tak protes dilahirkan sebagai wanita. Bekerja di manufactur factory pun saya syukuri, life is choice.
Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature