Saat mbah pergi selamanya

October 17, 2012

Alasan saya tidak posting selama lima hari adalah karena ini, salah satu orang yang sangat menyayangi saya pergi selamanya,  melepas rasa sakit yang sudah membelenggunya selama 4 tahun.
Semenjak senin pekan lalu, yang saya rasakan dengan aktivitas di kantor hanya kelesuan. Saya pikir, saya mau sakit sehingga memasukan beberapa tablet multivitamin dalam kurun ebberapa pagi sebelum kerja. Tapi tak ada efek berarti, bahkan tiap pulang kerja, sudah malas keluar rumah lagi. Biasanya, ba’da maghrib sering sms an dengan keluarga, entah kenapa rasanya malas dan hanya ingin tidur.
Malam jumat itu, seusai sholat maghrib saya mebaca surah yasin. Di tengah bacaan, ada telfon dari orang tua di rumah. Hanya beberapa kalimat yang mengabarkan bahwa mbah saya sedang di ruang ICU. Tanpa salam, telpon itu ditutup. Perasaan campur aduk kala itu, dan saya lanjutkan bacaan yasin sekaligus mendoakan untuk beliau. Kami semua ikhlas jika memang sudah saatnya beliau pergi. Lagipula, jika terlalu lama beliau akan makin menderita.
Jumat pagi saya masih beraktivitas seperti biasa di kantor. Hanya saja, entah kenapa banyak masalah. Mulai dari salah ketik email, salah lihat kode kabel LAN, confuse. Saat para karyawan pria sholat jumat, saya makan siang dan membaca sms dari orang tua saya. Sms yang singkat namun mendorong saya untuk langsung pulang saat itu juga. Mbah dibawa pulang kerumah, karena tidak ada lagi perubahan dan mungkin saja menunggu Saya.
Pertolongan Allah
Mendapatkan tiket kereta saat itu juga, kemungkinannya kecil.  Segera saya cari taksi ke stasiun senen yang berjarak sekitar 60 km dari Cikarang. Dini hari saja, cikarang-senen bisa ditempuh 1 jam dengan biaya taksi 168.ooo. siang itu jalanan padat. Saya sudah pasrah jika biaya taksi lebih besar dari biaya kereta. Alhamdulillah, entah bagaimana ARGO taksi terlihat 157.000 saat berhenti di stasiun senen. Lumayan
Bergegas saya antri di loket kereta, seperti yang saya duga sebelumnya tiket bisnis untuk keberangkatan malam itu sudah ludes. Lalu saya tanyakan tiket eksekutif. Ada sih tapi harus ke gambir dulu dan baru berangkat jam 8 malam. Saya bilang ke penjaga loket sambil emnyodorkan uang. “oke mbak”. Tapi tiba-tiba si mbak loket bilang “ada nih, berangkat sebentar lagi jam 4 (20 menit lagi) dari sini, itu keretanya sudah ada”. Rasanya seperti disiram “Sprite” di siang bolong..”Plonggg”...alhamdulillah. dengan harga yang lebih murah, eksekutif, langsung berangkat.

Perjalanan senja itu bersama kereta Bangun Karta tujuan Jombang dan saya berada di shit 1 orang. Sendiri dan di depan, membuat saya bebas nangis, berdoa, nangis lagi. 9.30 malam, saya sudah berada di jalanan pekalongan menuju rumah.
Hari terakhir bersama beliau
Sesampainya di teras, rumah memang sudah ramai. Keluarga besar sudah berkumpul mengelilingi mbah yang nafasnya sudah sangat dalam. Badannya dingin, keningnya berkeringat. Tak ada satupun kalimat yang kuucap karena tak sanggup lagi berkata-kata. Malam itu saya dan keluarga menjaganya, menemaninya dengan lantunan firman Allah, sampai sore itu..saat malaikat mencabut nyawa beliau.
Sekian...terlalu sesak untuk menulis kisah ini lagi. Semoga beliau husnul khotimah, dan mendapatkan surgaNya. Amien..
Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature