Insinyur Pertanian

November 25, 2012
Kalau saya berada di beberapa puluh tahun lalu, saya ini insinyur pertanian. Sebuah titel yang sering saya dengar waktu kecil. Biasanya yang menyandang gelar itu bapak-bapak yang ngurusin hama, sawah, dan irigasi. Keren sekali sepertinya, bagaikan dokter bagi dunia pertanian.
Bung Karno Pernah bilang "Pertanian itu masalah hidup dan mati bangsa" waktu awal mula meresmikan IPB tempat saya belajar. IPB yang fleksibel banget haha. Sewaktu saya wawancara kerja ada pengalaman seru.
“Anda dari mana?” Tanya General manager
“IPB pak”
“oh Institut Pleksibel Banget”
Hahhaaa…
Seperti kebanyakan alumni IPB, saya bukan jadi dokter bagi petani tapi malah jadi dokter Ban. Ban? Iya..meskipun ban sebenarnya juga industry hilir dari karet yang merupakan komoditi perkebunan. Ada yang salah dengan ini? “Life is choice” kalimat andalan saya. jujur sih kalau ditanya jenis-jenis bajak saya pasti mikir lama dulu. hahaha...tapi coba tanya bagian-bagian ban, pasti saya jawab detil. bukannya melupakan, tapi ini tuntutan profesi. selow..buku-buku kuliah dari pengantar ilmu pertanian, kalkulus, sampai teknologi hidroponik masih tersimpan dan tidak saya kiloin :) saya masih suka merhatiin tanaman. Termasuk juga pohon pohon karet merana di samping kantor yang ditanam dengan sangat "asal-asalan"
praktikum persiapan penanaman padi (saya lagi kasih instruksi entah apa itu hahah  )

Sering denger celetukan, "Kenapa ada IPB, tapi masalah pertanian kok gak beres-beres?"
Kata teman Saya, “IPB hanya satu tapi dijadikan kambing hitam semua masalah pertanian. Di negeri ini banyak universitas punya fakultas ekonomi, banyak sekolah tinggi ekonomi, tapi taraf ekonomi rakyatnya belum juga seimbang. Banyak yang belajar hukum tapi tetap banyak juga pelanggaran dan permainan hukum bahkan oleh orang yang ngerti. Banyak yang belajar teknologi tapi teknologi kita pun dibilang masih ketinggalan. Banyak yang belajar perencanaan dan kebijakan, tapi masalah di jalanan pun masih menumpuk. Saya pikir, orang tidak bisa dipaksa untuk terjun sepenuhnya ke dalam sesuatu yang dimengertinya, jika dia memang tidak mau. Tapi orang itu bisa dipaksa untuk peduli. Tentang bagaimana bentuk kepeduliannya, mungkin hanya orang itu sendiri yang tau. Dan kita? Siapa kita? Sepertinya tidak perlu berpikiran buruk terhadap sesuatu yang tidak kita tau, cukup diam jika tidak perlu bicara lalu lakukan apa yang bisa dan perlu kita lakukan”.  Sangat setuju dan diplomatis pendapat ini.
Kabarnya Indonesia sedang kekurangan insinyur karena pada berDiaspora ke luar negeri. Alasannya karena di luar negeri lebih diakui. Lalu siapa yang majuin Negara kita? Rencananya pemerintah akan mendirikan institut teknologi sumatera, dan institute teknologi Kalimantan. Hem..IPB bagaimana? Semoga tetap sesuai kodratnya yah, , tak perlu lah 100% mengikuti keinginan pasar yang sekarang sedang condong ke bidang manajemen.

1 comment on "Insinyur Pertanian"

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature