Mertua VS menantu, karenamu aku cemburu

November 06, 2012
Pernah seorang teman bertanya kepada saya "Rul kalau kamu nanti nikah, mau tinggal dimana?". Saya jawab "dimana saja, terserah suami",
Nasehat teman saya "sebisa mungkin sih jangan sama mertua, meskipun ngontrak, itu rumah kamu sendiri. Kalaupun mertua tidak mau jauh, ya kasih jaraklah beberapa meter rumah kamu darinya".
Saya belum mengerti karena memang belum mengalami sendiri tentang apa dan bagaimana sih sebenarnya yang membuat seseorang kebanyakan pihak istri seperti terkesan memusihi mertua dan juga sebaliknya. Penggambaran ini bukan Cuma di Sinetron, tapi faktanya memang banyak terjadi di sekitar saya. bahkan juga terjadi kepada seorang yang sudah saling kenal cukup lama. Jadi si menantunya itu ya sudah dikenal lama oleh si mertua jauh sebelum mereka menjadi keluarga. Kalau difikir pakai logika kan, orang yang sudah cukup kenal itu akan lebih mudah menyesuaikan diri karena saling mengetahui plus minusnya dan bisa memaklumi kalau ada sifat-sifat yang berseberangan. Tapi antara hati wanita, bukannya logika kadang tak jalan ya? J
Ketika membaca buku "Catatan hati yang cemburu" karya mbak Asmanadia, saya diperlihatkan objek-objek cemburu ketika sudah menjadi istri. Trenyata cemburunya istri itu tidak hanya ke wanita lain yang notabene dikhawatirkan ada "rasa" dengan suami, tetapi juga cemburu ke mertua. Bagi saya yang masih lajang, lagi-lagi ini bertolak belakang dengan logika. Dan lagi-lagi kenapa saya pakai logika? Lalu saya berfikir, ketika jaman sekolah saya memiliki seorang sahabat akrab sekali. Saat dia karab dengan teman yang lain, rasanya ada perasaan, "wah teman saya diambil". Padahal sih sahabat saya itu sesama wanita juga, tetap saja ada rasa cemburu (mungkin itu istilahnya).
Bagaimana mengahadapi cemburu? Kata mbak Asmanadia sih hadapi dengan elegan. Jujur saja, saya tidak tahu karena saya belum menjalani hubungan mertua menantu. Mertua sendiri pasti menginginkan menantu yang se-visi, sejalan, bisa diatur. Begitupun menantu yang menginginkan mertua yang mengerti dia, balance perhatian antara ke suami dan ke mantu, dsb.
Saya akui saya memang lebih banyak pakai logika, jadi tidak bisa menyarankan untuk hal-hal yang bersifat perasaan. Intinya, tetap berlaku baik. Jika tak sejalan, tak perlu membicarakannya kepada orang lain. Tak menyakiti, salah satunya dengan tak mengucapkan kata bantahan jika memang tak sejalan. Selama hal-hal yang dipertentangkan bukan mengenai syariat agama, masih bisa diatur InsyaAllah. Yang paling sering melatarbelakangi konflik adalah saat si mertua selalu merasa benar dengan pendiriannya. Kadang memang beliau itu benar, tapi untuk hal-hal kekinian tidak mau dirubah. Istilah politiknya "status Quo". Kalau sudah begini, yang bisa menjadi jembatan tentu bukan tetangga, tapi suami. Membanding-bandingkan menantu dan menilainya hanya dari kacamata mertua tentu tak bijak. Dari sisi menantu, cobalah tetap berpegang pada prinsip. Dan yang tak bisa dilupakan adalah, peluklah dengan doa.
Cinta.aku ingin tua bersamamu menatap anak-anak yang meneruskan jejak kita.tanpa perlu sesaat pun merasa khawatir hatimu pergi meninggalkanku
"Berhati-hatilah kalian dari buruk sangka sebab buruk sangka itu sedusta-dusta cerita (berita) ; jangan menyelidiki ; jangan memata-matai (mengamati) hal orang lain ; jangan tawar-menawar untuk menjerumuskan orang lain, jangan hasut menghasut, jangan benci-membenci ; jangan belakang-membelakangi, dan jadilah kalian sebagai hamba Allah itu saudara"
(HR Abu Hurairah)
Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature