Biofuel tidak beracun

January 15, 2013
Mengingat bahaya global warming, negara-negara maju di dunia mulai menggunakan alternatif bahan bakar biofuel, yaitu bahan bakar yang diperoleh dari pengolahan benda organik. Selain harganya lebih murah, bahan bakar jenis ini lebih ramah lingkungan. Namun ada penelitian yang menjungkir balikkan fakta ini.
Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa biofuel tidak seramah lingkungan seperti yang dibayangkan. Emisi yang dilepaskan dari pembakaran biofuel bila dicampur dengan polutan lain dapat berubah menjadi senyawa kimia berbahaya.
flow process biofuel
Dua paragraf di atas adalah kutipan dari berita sebuah media online. Berita yang mengagetkan terutama bagi saya yang sangat tertarik dengan biofuel. 
Untuk croscheck berita di media tersebut, saya contact dosen pembimbing tugas akhir yang sangat mengerti tentang renewable energy Ibu Ir. Sri Endah Agustina, Ms. Berikut ini adalah paparan dari beliau.
Tentang biofuel, sejauh ini penggunaan biofuel tetap direkomendasikan sebagai sumber energi alternatif yang 'renewable' dan lebih bersih emisi pembakarannya dibanding dengan pembakaran energi fossil . Hal tersebut mutlak, tidak bisa dibantah.
Pemurnian minyak biji jarak (zaman praktikum di lab Teknik Mesin dan Biosistem IPB)
Hanya saja, tetap harus berhati-hati dalam proses produksinya karena bisa saja diproduksi dengan tidak memperhatikan aspek lingkungan sehingga justru malah secara keseluruhan menghasilkan lebih banyak emisi. Misalnya jika biomassanya (sawit, tebu, singkong, dll) ditanam di lahan yang dibuka dengan mengorbankan bio-diversity secara berlebihan, menggunakan pupuk kimia dan pestisida berlebihan, dalam pengolahannnya boros energi dan menggunakan bahan-bahan kimia berlebihan tanpa kontrol dan tidak dikelola dengan baik sehingga menimbulkan polusi.
Issue yang dibicarakan di media tersebut tampaknya adalah menyoroti tentang yang terakhir, yaitu dalam proses pembuatan biofuel tersebut menggunakan bahan-bahan kimia dengan tanpa management yang baik.
Secara prinsip, semua kegiatan manusia memang bersifat merusak. Hanya saja jika dilakukan dalam batas wajar maka alam akan me'recover' kerusakan tersebut dan menghasilkan kesetimbangan baru. Masalah timbul pada saat manusia berlebihan sehingga alam tidak mampu mengimbangi laju kerusakan tersebut.
Kita tidak bisa menghentikan tingkah laku kita yang merusak karena kita perlu makan, minum, melakukan perjalanan, melakukan pengolahan untuk memproduksi pangan dan barang-barang serta aktifitas kehidupan lainnya   sehingga semuanya bersifat polutan dan merusak.
Yang bisa kita lakukan hanyalah mengurangi laju polusi dan kerusakan tersebut dengan cara melakukan semua aktifitas kehidupan secara effisien dan menghasilkan kerusakan atau gangguan alam seminim mungkin. Ciptakan teknologi dan alat atau mesin yang efektif dan tidak berlebihan.

Dalam agama hal itu diberikan dalam bentuk ajaran ajaran "jadilah KHALIFAH dimuka bumi, hargai waktu (wal assrhi), selalu berpikir sehingga pandai bersyukur".
Penjelasan yang melegakan, dan menyejukan. Jangan ragu untuk tetap mengkampanyekan penggunaan biofuel. Media masa tanpa kecuali, harus bisa mencerdaskan masyarakat dengan informasi yang benar dan valid.

image source: www.tumblr.com/tagged/environment
Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature