Bukan Refrain

January 30, 2013

“Banyak orang yang berharap dapat memutar kembali waktu karena penyesalan, sampai hanya itu yang tinggal di benak mereka. Sampai penyesalan menggerogoti jiwa mereka, sampai lama-kelamaan mereka mati bersamanya. Penyesalan, sama seperti hidup, sama seperti kenangan, adalah hal yang sangat mengerikan.” 


Coba kalau kita dengar lagu, yang paling pertama dihafal pastilah refrain nya. Refrain itu biasanya terletak di tengah lagu. Refrain adalah bagian paling enak dan paling sering disenandungkan. Bahkan seringkali judul suatu lagu terselip di refrainnya.

Ini bukan lagu, ini sebuah tugas. Banyak yang bilang “aduh..susah banget memulai sesuatu dari 0”. Ternyata, memulai sesuatu dari 40% atau 50% sekalipun itu jauh lebih susah. Kembali ke analogi refrain. Tanpa tahu intro suatu lagu, dengan cukup tahu refrain kita bisa menyimpulkan “mau” si lagu itu apa. Beda dengan film, kalau sudah jalan seperempat atau bahkan separo dan kita baru nonton..itu gag seru banget. Perlu perjuangan memahami dan kadang jadi salah paham karena tidak tahu awal ceritanya.
Tugas ini bukan lagu, tugas ini seperti sinetron kejar tayang tanpa iklan. Nonton dari tengah bakal bertanya-tanya. Ganti channel? Maaf tidak bisa. Mau tak mau hidup harus dilanjutkan. 
“Hidup juga kayak cuaca. Hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. Tapi, lo nggak akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya. Kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, sebuah bentuk keseimbangan.” 
― Winna Efendi

#random posting. Intinya, saya penat. Ada dua alasan ketika seseorang dimasukkan ke suatu zona. Pertama, karena dia mampu. Dan kedua, karena dia dibuang dari zona lain.

image source: http://web.stagram.com/p/370109635739747142_258713551
Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature