teh arab, methylone dan menikmati hidup

February 03, 2013
Bagaimanapun cara kita me-refresh diri, apakah itu dengan hedon atau tidak itu bukan masalah, yang terpenting adalah kita jangan sampai terlalu fokus menjalankan amanah hingga menghilangkan sisi humanis kita sebagai manusia biasa. 
Kalimat di atas ditulis teman saya di blog pribadinya. nyentil banget sih, saya yang akhir-akhir ini sering marah tidak jelas dan migrain parah lalu berkesimpulan bahwa saya sudah lupa sisi humanis saya sebagai manusia biasa. Manusia yang fitrahnya capai, butuh istirahat, dan refreshing yang bukan sekedar tidur. 
media masa beberapa hari ini meributkan keterlibatan seorang artis dalam suatu pesta narkoba. biasa? artis digrebek memang bukan kali pertama, tapi ini adalah seorang bintang muda yang sedang sangat bersinar serta dikenal ceria, baik, dan berbakat. Tidak hanya menghebohkan media serta masyarakat, kasus ini juga mengehebohkan BNN (Badan Narkotika Nasional) karena obat yang ditemukan adalah narkotika jenis baru.
catcha edulis, teh arab
Sejak ramainya diberitakan narkoba jenis baru yang digunakan artis Raffi Ahmad, warga di Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat, mulai mencabuti sejumlah pohon khat yang selama ini dikenal sebagai teh arab. Katinon berasal dari tanaman catha edulis atau khat yang tumbuh di Afrika dan sebagian wilayah Arab. Katinon menimbulkan efek seperti kokain. Pengguna akan terbawa kegembiraan berlebihan, membangkitkan stamina, pemakai tidak merasa lapar, dan sulit tidur. Namun, zat ini menyimpan bahaya karena merusak sistem saraf pusat mengganggu panca indra hingga menimbulkan depresi dan hasrat ingin bunuh diri.

Turunan atau derivat dari katinona (cathinone) yang sudah terdaftar sebagai narkotika golongan I adalah methylone. Zat ini yang terkandung dalam narkotika yang ditemukan bersama RA cs. Jika dikonsumsi, zat ini menimbulkan efek stimulansia dan halusinogen. Pada titik tertentu pengguna akan mengalami kejang-kejang yang tidak terkontrol dan detak jantung yang semakin cepat. Jika penggunaan dosis lebih tinggi, bahkan bisa menimbulkan kram jantung, yang berujung kematian.   

Karena saya perantauan, aktivitas akhir pekan saya terpusat pada me-malaskan-diri. Baca buku, blogging, sepedaan, nonton, semua sendiri. Padahal ada yang terlupa...ya..itu tadi sisi humanis. manusia yang butuh sosialisasi, berbagi, berbicara, face to face, merasakan, dan..masih banyak lagi.
Waktu kuliah saya juga punya dateline, kesibukan, target, tapi saya jarang migrain, jarang marah tanpa sebab absurd, dan saya sering tertawa. sosialisasi masa kuliah memang tinggi banget, dari mulai bangun tidur sampai menjelang tidur selalu berinteraksi dengan manusia lain. 

keseringan galau, stress, migrain, akhirnya saya resmi kecanduan teh tubruk. Kerja di kantor tidak semangat kalau belum ngeteh, bahkan beberapa waktu lalu saat saya migrain minum paracetamol saja tidak cukup karena saya butuh segelas teh tubruk pahit. efeknya memang memberikan ketenangan, tapi teh yang saya konsumsi itu bukan teh arab kok hehhe..teh biasa yang ada di warung-warung.
Weekend ini saya mencoba merasakan lagi sisi humanisme dengan nonton film komedi dan berhasil tertawa lagi. Tertawa yang terbahak-bahak kan sudah jarannngg sekali. Dan sore tadi saya kumpul dengan teman-teman di city walk. walaupun sekedar makan siang, rasanya beda banget kumpul santai di kantor dan di luar kantor tanpa pakai seragam. 

Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature