Hotel Amarosa Vs Tugu Kujang

March 28, 2013

Mata terperangah saat melihat bangunan menjulang menyaingi tugu kujang minggu lalu. Saya heran, kenapa ada bangunan di tempat yang lahannya mring serta masih masuk kawasan pinggir sungai? Ternyata ini memang jadi polemik. Berikut ini adalah isi kultwit dari @bemkmipb_move dengan hastag #savekujang.

Tugu kujang yang selama ini menjadi simbol perjuangan masyarakat kota Bogor tergusur keberadaanya akibat hotel amarosa. Pembangunan hotel amarosa secara estetika mengganggu tugu kujang sebagai bangunan yang menyimpan warisan nilai budaya. Dalam kaidahnya, kujang termasuk dalam Tosan Aji. Kedudukan Tosan Aji diatas senjata dan perkakas. Tosan Aji dalam berbagai sumber merupakan besi yang bernilai. Kujang merupakan simbolis jati diri. Tugu kujang diciptakan dalam waktu yang lama, ini bukti sejarah bahwa kujang sebagai simbolis dimana nilai luhur ditanam. Bagi masyarakat Sunda, kujang merupakan penguatan karakter bahwa manusia Sunda itu memiliki ageman atau disiplin ilmu tertentu.

Polemik tugu kujang vs hotel amarosa tidak diatur dalam perda kota Bogor. Pasalnya, perda RTRW no.8 tahun 2011 tidak mencantumkan tugu kujang sebagai cagar budaya yang harus dilindungi. Mengenai cagar budaya sebenarnya sudah diatur dalam UU no.11 tahun 2010. Cagar budaya benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai cagar budaya apabila memenuhi kriteria berikut:

1. Suatu bangunan dapat diusulkan sebagai cagar budaya jika berusia 50 tahun atau lebih

2. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun

3. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan.

4. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Tugu kujang sendiri dibangun sejak tahun 1982, jadi belum genap 50 tahun. Tapi, kujang memiliki nilai budaya bagi masyarakat Sunda. Ini sebuah kelalaian yang fatal ketika tugu kujang sebagai bangunan dengan nilai budaya tidak dilindungi dalam perda RTRW. Disini perlu dipertanyakan kajian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) hotel Amarosa ini. Kalau kita cermati, dalam kajian AMDAL salah satu yang harus dikaji adalah kesesuaian dengan kondisi sosial budaya masyarakat. Selain itu, kajian AMDAL lalu lintas hotel tersebut belum selesai dan dibuat terpisah. Kajian AMDAL yang terpisah dikarenakan hotel ini tidak memiliki parkiran dan akan jadi masalah kemacetan yang baru. Kabarnya, hotel ini menggunakan parkiran di Botani atau sekitar KFC. Tapi sejauh ini AMDAL lalu lintas belum disetujui. AMDAL lalu lintas hotel ini belum selesai tapi sudah kantongi IMB. Tanya kenapa?

Selain masalah AMDAL, hotel ini cacat juga lingkungan karena dibangun di garis batas aliran sungai. Saat ini kita tak lagi bisa melihat indahnya gunung salak dari tugu kijang karena terhalang oleh hotel tersebut. Padahal menurut beberapa orang, melihat gunung salak saat sunset dari tugu kujang adalah pemandangan yang indah. Jika telah rampung ini akan jadi hotel tertinggi di Bogor dengan 15 lantai. Sedangkan sebelumnya hotel tertinggi hanya 11 lantai.

Kasus hotel Amarosa ini hanya sekelumit dari carut marutnya tata kota dan perizinan pembangunan kota Bogor.

Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature