Madre dan Tentang Roti

March 17, 2013
Kamarku yang hangat mendadak bau toko roti, lebih tepatnya bau ragi. Memang ada dua potong roti yang masih tergeletak di meja sejak kemarin. Ini semua terjadi gara-gara saya membaca Novel “Madre” nya Dee. Ngulik kisah seonggok madre, mendadak mengaktifkan sensor otak saya untuk makan roti. Bahkan dalam sehari, saya mengunjungi dua toko bakery.

mirip roti saya kemarin tapi ada potongan keju berbentuk dadu ditengahnya

Madre adalah adonan. Hasil perkawinan antara air, tepung, dan fungi bernama Saccharomyses exiguous. Sebagai adonan biang, sebagian madre selalu dipakai untuk mengembangkan roti. Sementara sisa Madre beristirahat dalam lemari pendingin. Kumpulan Sacharomyses exigus dan Lactobacillus yang disumbangkan tadilah yang meronggakan, mewangikan dan merenyahkan roti. Secara rutin, kultur hidup yang ada di dalam madre diberi “makan” lagi dengan tepung dan air baru hingga ia terus berkembang biak menjadi ibu bagi roti-roti berikutnya.
Bakery modern yang menggunakan adonan biang sudah jarang. Mereka memakai ragi instan. Madre itu jenisnya sourdough sehingga rasanya beda. Roti yang memakai madre memiliki kerak cokelat yang tebal di permukaanya, kenyal seperti permen karet, tetapi lembut di kedua sisi sampingnya.
Dari novel Madre saya belajar tentang jenis-jenis roti. Roti tawar putih, roti gandum utuh, roti kibbled yang merupakan gabungan dari bermacam-macam biji-bijian, roti rye yang menggunakan tepung kaya serat, foccarica yang bertaburkan dedaunan rempah, ciabatta alias roti “sendal” khas Italia, pita alias roti pipih khas India, baguette si roti panjang yang renyah, roti buah yang dipadati kismis dan aneka berry kering, roti jagung yang dibuat dengan corn meal gurih, roti ricotta yang berkeju dan bermentega, banana bread yang mirip bolu pisang, dan semolina yang berselimut wijen. Luar biasa, saya hanya tahu roti tawar,,hehe. Roti yang saya beli kmearin juga entah termasuk jenis yang mana.
ini roti semua
banana bread
artisan
Orang yang jago bikin roti namanya bukan cheef tapi artisan. Hehe artisan bukan selebritisan dan beda pula dengan seniman yah. Tiap orang memang punya tangan dan sense yang beda-beda dalam mengolah roti. Entah ada zat apa di tangan yang menjadikan hasil adonan  bisa berbeda-beda.
Mengenai adonan biang, saya pernah tahu waktu bereksperimen dengan seorang teman kuliah yang mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan. Waktu itu kami bertiga, berniat membuat roti. Nimbang bahan-bahan di sekretariat BEM, dan buat adonan biang. Tapi adonan biangnya pakai ragi instan. Hehhe. Basecamp selanjutnya pindah ke rumah saya. Nguleni adonan pakai mixer, lalu tangan, dan membiarkan si adonan mengembang. Tadaa…setelah berjuang berjam-jam jadilah roti bantet.

source:
Madre, Dewi Lestari
pinterest.com/bread


Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature