Smell Beringharjo

April 27, 2013

Hiruk pikuk penjual batik menjajakan daganganya adalah pemandangan yang setiap saat kulihat. Makin ramai jika hari libur tiba, aku sampai susah bernafas. Di kios ini, aku sudah duduk hampir setahun. Kios mungil milik Uda Fadli yang selalu membuat pengunjung pasar Beringharjo ini berkata “loh kok ada kios parfum di sini?”. Aku sudah berkali-kali bertanya pada Uda “mengapa tidak pindah saja, ini area pedagang batik”. Uda selalu menjawab “Rizki itu ada dimana-mana, justru karena kita ‘nyelip’ diantara batik gini, kita akan semakin terlihat..penghasilan kita tak kalah dengan pedagang parfum di Malioboro sana”. Uda menjawab dengan berapi-api, sedang aku diam saja. Aku masih disini, dengan harapan akan segera ada yang membawaku pergi.
Siang itu, seorang wanita memegangku. Ah..akhirnya datang juga. Setelah tawar menawar, beberapa lembar uang dia keluarkan sambil berkata “parfum aroma cokelat ini akan saya campur dengan vanilla Uda, biar mantap” senyum menyeringai wanita itu.
“Uda..jangan jual aku, aku tidak mau diselingkuhi siapapun, aku mau aku sendiri yang mengharumkan pemilikku” aku berteriak sambil berontak.
“Prak..” aku terjatuh dari genggaman wanita itu. Aromaku menyebar seantero los batik Beringharjo. Langkah kaki pengunjung akan menyeret aromaku kemana-mana. Aku ingin tetap murni, tak ada yang mengganggu aromaku. Perkenalkan, aku parfum aroma cokelat.
http://pinterest.com/pin/165999936234588667/


Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature