Menyikapi Surat Terbuka Untuk Rektor

September 13, 2013
Ada sebuah surat terbuka untuk rektor dari seorang mahasiswi yang hampir DO karena sudah 3x mendapat nilai E di IPB. Sempat bahas ini di forum grup facebook angkatan saya. Tanggapan kami kebanyakan negatif ke mahasiswi itu setelah baca isi suratnya. Bukannya ingin membantu tapi malah 'kasihan'. Di situsnya BEM KM IPB juga dibahas mengenai hal ini. Berikut adalah tanggapan yang saya kutip: 

1. Sikap dan Mental seorang Mahasiswa

            Sikap dan mental dalam menghadapi setiap ujian menjadi sebuah indikator seberapa dewasa kita dalam hidup ini. Jatuh bangun merupakan sebuah pola kehidupan tapi yang lebih penting bukan sebarapa banyak kita terjatuh, tapi seberapa banyak kita bangkit. Ada dua yang walaupun secara normatif, mestinya ada sikap preventif (penguatan diri) untuk mencegah hal yang sama berulang, misalnya kuliah rajin, mengerjakan semua tugas dan bersikap tanpa ada rasa minder (walaupun mesti kuliah dengan adik kelas misalnya). Selain itu, ada semangat yang lain ketika harus mendapat hasil yang kurang memuaskan, yakni tetap tegar dan terus berusaha seoptimal mungkin terutama diri sendiri, bagaimanapun caranya, karena yang mampu membantu diri kita sendiri adalah diri kita bukan orang lain, serta harus selalu siap mendapatkan apapun konsekuensinya. Mental yang harus tertanam kuat ini adalah mental para pejuang yang memperjuangkan haknya setelah semua kewajibannya ditunaikan. Inilah hidup dengan segala dinamikanya.

2. Lingkungan Sekitar (teman)

            Lingkungan sekitar menjadi penting setelah seseorang yang bertahan kuat dan membutuhkan sebuah dorongan bahkan pendampingan. Kepedulian terhadap sesama bukan hanya sebatas ketika sebuah masalah terjadi, tetapi penjagaan selama dalam sebuah proses pun penting. Misalnya, dorongan mental dan semangat semasa kuliah, mengerjakan tugas, dll. Lingkungan menjadi sebuah tempat yang paling nyaman ketika seseorang butuh sandaran ketika dalam sebuah perjalanan, bukan hanya ketika dalam pencapaian hasil. Kita sebagai teman mampu memetakan dan mengambil langkah preventif untuk membantu, itulah teman.

3. Identitas Institusi

            Sistem punishment berupa pemberian surat Peringatan Keras atau bahkan DO,  menjadi salah satu identitas ketegasan institusi dalam penerapan peraturan. Hal tersebut penting ada,  karena ini juga akan menentukan mahasiswa yang akan dicetak didalam sebuah institusi. Reward dan punishmentsebagai budaya corporate yang juga menentukan kualitas sebuah sistem, mutlak harus ada.

4. Sistem Pengajaran

            Sebuah kesalahan, jika terjadi sebuah masalah dari seorang mahasiswa dan seorang dosen merasa tidak ada kesalahan. Ketika ada hasil yang kurang memuaskan pasti sedikit banyak ada kontribusi kesalahan dari setiap elemen yang ada. Sistem manajemen dan kontroling secara normatif, penting selalu ada (pengawasan dan pengarahan) terutama dosen sebagai tenaga pengajar dan pendidik, baik dosen mata kuliah atau bahkan dosen Pembimbing Akademik. Dosen matakuliah harus selalu terus meningkatkan kinerja dan mutu pendidikannya agar masalah- masalah terkait anak didiknya tidak terjadi. Dan dosen pembimbing akademik bukan lagi hanya sebatas formalitas persetujuan KRS, tetapi harus juga ada sistem pengawasan terhadap anak bimbingannya sebagai upaya- upaya preventif dari berbagai kesalahan.

Sejak munculnya surat terbuka di FB, saya sudah menduga bahwa 'model' si mahasiswa DO yang satu ini yang males belajar. Tadi saya dapat tambahan info dari forum tentang riwayat nilai beserta tugas, kuis di mata kuliahnya. Ternyata benar, dia bukan termasuk mahasiswa yang memanfaatkan kesempatan mengulang. Setidaknya untuk mendapat nilai D, termasuknya bisa ditambahi dari kuis, PR, dan nilai border. Kalkulus itu bukan mata kuliah yang rumiiiiiit sekali. Saya juga dasarnya tidak suka angka, tapi saya berusaha 'banget'. Jaman itu, saya ikut les kalkulus. Karena saya dapat dosen yang kurang saya pahami, saya hampir tiap minggu nyusup di kelas lain (3 kelas) yang dapat dosen "enak". Jika kita benar benar tidak memahami, benci, atau apapun dengan suatu mata kuliah maka jangan biarkan kita ketemu lagi sama dia. Jadi, ya minimal dapatkan nilai D meskipun kamu jadinya tidak bisa cumlaude.

Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature