Review Manusia Setengah Salmon

October 27, 2013

Pertama kali baca buku Manusia Setengah Salmon didasari niat menghalau penat. Siang itu saat kerjaan di kantor tak juga beres, kubuka lembar demi lembar "ocehan sehari-hari" Raditya Dika. Hahahahaha..langsung saja tawaku membahana (padahal di kantor). Makin dibaca makin cekikikan. Teman sebelah sampai heran. 
Meskipun pembawaan Raditya Dika selalu sama di film dan di novel-novelnya tapi tetep aja bikin "ngekek dhewe". Tadi sebenarnya sudah mikir kalau film Manusia Setengah Salmon kemungkinan besar sudah sepi di bioskop. Eh salahhh. Meski udah terbilang lama di "now playing list" tetap saja studio full. 
Disini saya nggak akan bahas kesamaan buku dan film. Ya pasti ada donk bedanya. Tapi tetap saja sama..BIKIN KETAWA. 

Pas banget sih nontonnya sekarang. Jujur saja nih sejak sebulan yang lalu, saya merasa hidup dipenuhi perpindahan orang-orang sekitar dengan begitu cepat. Malah kemarin-kemarin jadi pesimis gegara mikir "aku gini udah nggak lama..ya..pasti ada perubahan dan perpindahan lagi. Suasana beda, orang beda, hal beda..aku udah nyaman kayak gini". Tapi kata Raditya Dika "Berpindah (move on) itu bukan karena bisa atau engga. Tapi mau atau engga. Hidup memang selalu ada perpindahan, dinamis. Kayak salmon yang pindah rumah demi bertelur meskipun dalam perjalanan hambatannya besar dan taruhannya nyawa". 
Oke, perpindahan yang nyata di depan saya adalah perpindahan usia dan meja kerja. Kapan? BESOK. Saya harus berani move on, pindah dari kotak kecil nyaman saya ke kotak yang lebih lega. 
Thanks Raditya Dika, cerita sehari-harimu ngga istimewa. Hampir semua orang ngalamin hal-hal kayak gitu. Tapi bisa membagi dan menginspirasi orang lain..itu yang hebat.
1 comment on "Review Manusia Setengah Salmon"

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature