Banjir Pekalongan

January 28, 2014

Pagi ini banjir session 2 di Pekalongan datang menjelang subuh. Beberapa daerah yang pada banjir sesion 1 kering, malahan sekarang ikut kebanjiran. Banjir pagi ini warnanya bening, tandanya ini masih air hujan. Apakah curah hujan besar sekali? Atau adakah yang salah dengan drainase? Itu semua faktor pendukung. Faktor lain adalah karena kurangnya resapan air. Jalanan di gang-gang yang dulunya pakai batu sekarang sudah banyak yang diaspal atau dibeton. Halaman rumah pakai paving blok. Ya gimana air mau meresap?

              
 

Jangan salahkan daerah hulu saja. Kami di hulu masih memegang ikatan yang baik dengan alam. Rumah saya pavingan? Enggak. Malah sebisa mungkin kami menanam lebih banyak pohon. Banjir di Pekalongan ini harus dicarikan solusi secepatnya. Kalau sudah seperti Jakarta, apa kita mau pasrah tiap musim hujan? 

Salah satu hal yang bisa dilakukan di lingkungan perkotaan adalah membuat lubang biopori. Selama ini di Pekalongan, biopori masih asing banget. Biopori itu cuma lubang resapan, bukan sumur. Jadi, buatnya gampang dan nggak makan lahan.

Ini saya kutipkan di laman biopori.com mengenai cara pembuatan biopori. 

  1. Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diamter 10 cm. Kedalaman kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah bila air tanahnya dangkal. Jarak antar lubang antara 50 - 100 cm
  2. Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2 - 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang.
  3. Isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau pangkasan rumput
  4. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan.
  5. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.
  6.  Jaga lubang resapan selalu penuh teriisi sampah organik. Jika sampah organik belum/tidak cukup maka disumbatkan dibagian mulutnya. Dengan cara seperti ini maka lubang tidak akan berpotensi terisi oleh material lain seperti tanah atau pasir. Selain itu, jika ada jenis sampah yang berpotensi bau dapat diredam dengan sampah kering yang menyumbat mulut lubang resapan biopori.

               

Yuk..ah..jangan membuat lingkungan makin parah. Pekalongan nggak bisa pasrah saja dengan banjir. Saatnya kita punya taman-taman yang nggak hanya memperindah tapi juga bisa menyerap air. Perhatian juga buat para pengembang yang sedang giat-giatnya membangun perumahan, ruko, dsb tolong buat drainase sesuai standar. 


Gambar:

1. Beberapa titik banjir, sumber @infopekalongan

2. Kali pencongan 28 januari 2014, sumber @fadiaarafiq

3. Google

 

Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature