Perenungan

January 24, 2014
"Hanya kematian yang tetap membangkitkan emosi-emosimu, entah kau merenungkannya saat kehidupan berjalan aman dan menjemukan, atau kau melarikan diri darinya saat kehidupanmu terancam dan jadi terasa begitu berharga".

"Semakin jatuh dalam penderitaan, semakin tinggi pikiranmu ingin lepas. Wajarlah kalau dalam keadaan tanpa harapan dan putus asa, dalam terjangan penderitaan yang tak ada habisnya, aku jadi berpaling kepada Tuhan".

"Iman kepada Tuhan berarti kita membuka hati, memasrahkan diri, menunjukan rasa percaya yang dalam, memperlihatkan kasih dengan sukarela--tapi kadang sungguh sulit untuk mengasihi. Kadang hatiku begitu berat oleh amarah, kesedihan, dan kelelahan, sampai-sampai aku takut hatiku bakal tenggelam ke dasar Samudera Pasifik yang paling dalam, dan aku takkan sanggup mengangkatnya kembali". 

"Ketika diri kita dipenuhi rasa takjub, pikiran sepele apapun terlupakan, benak kita diisi oleh pikiran-pikiran yang menjangkau alam semesta, mencakup gelegar petir dan denting lonceng, tebal dan tipis, dekat dan jauh".

"Waktu merupakan ilusi yang hanya membuat kita terengah-engah. Aku bertahan hidup karena aku lupa sama sekali perjalanan waktu. Yang kuingat hanyalah peristiwa-peristiwa, rutinitas-rutinitas, dan pertemuan-pertemuan, berbagai penanda yang muncul di sana-sini dari lautan waktu dan menorehkan diri masing-masing dalam ingatanku". 

Dikutip dari halaman-halaman terpilih di buku Life of Pi. 


Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature