IPB Terus Maju (menjawab IPB SUDAH LAYAK DITUTUP?)

March 29, 2014
Saya alumni IPB dan saya bukan penjilat. Terima kasih buat Esther Wijayanti yang sudah menuliskan opininya tentang IPB dengan judul provokativ layaknya laman berita online “IPB SUDAH LAYAK DITUTUP?”. Saya jawab, Tidak. Memang sudah sering dengar kalimat “kedelai impor, bawang impor, lulusan IPB kemana?”. Ini Bu Esther..saya disini lho, kerja di industry DALAM NEGERI yang mengolah KARET INDONESIA. Ini lapangan kerja yang menurut Bu Esther “pelayan industri modern”?. Produk hilirnya berupa karet alam di Kalimantan sana, 90% alumni IPB yang berperan. Ada 3 General manajer yang alumni IPB, da nada 1 Board of Director yang juga alumni IPB. Alumni IPB tidak harus menjadi pengambil keputusan di pemerintah agar bisa memajukan pertanian menurut saya Bu. Terbukti, buah pikir kami dan keringat kami terpakai untuk pertanian bangsa.
Mengenai tulisan Ibu yang men’capture’ FB seorang dosen IPB…ah..saya sempat marah Bu. Di Fakultas saya, Fakultas Teknologi pertanian tak seperti itu. Di komentar-komentar alumni maupun mahasiswa pada tulisan Bu Esther sudah jelas bahwa kegiatan keislaman di IPB itu semarak. Pengajian itu ya hanya di kesempatan pengajian. Teman- teman saya memang ada beberapa orang yang ‘gencar’ sekali ikut aksi Palestine, mengumpulkan sumbangan, bahkan jadi kader partai. Tapi,hello hello…NGGAK SEMUA MAHASISWA DAN ALUMNI IPB ITU KADER “PKS”  ATAU AKTIVIS HTI, NII, etc. Dan mengenai keaktivan seseorang dalam hal menjurus ke ‘agama’, ‘aliran’, tidak bisa dikaitkan dengan prestasi Pertanian Indonesia. Ya lucu,kalau kasus suap impor sapi yang melibatkan petinggi partai yang katanya banyak kadernya di IPB itu (sebut saja PKS) lalu dikait-kaitkan kepada sebuah institusi BESAR tempat saya belajar ini. Sudahlah saya tidak mau membahas dan mengungkit perguruan tinggi lain juga.
Kalau saya lihat dari gaya bahasanya dalam menjawab komentar-komentar yang terus mengalir..seakan sisi psikologis Bu Esther pernah terluka atau sedang terluka dengan IPB. Kalau Cuma karena kondisi pertanian Indonesia, Bu Esther tidak akan sampai seperti itu..SAYA YAKIN.

Untuk civitas akademik IPB, mohon jika ada yang tidak puas dengan suatu hal misal pelayanan harap tidak mengaitkan dengan hal berbau SARA yang menjadi boomerang untuk almamater kita sendiri..di luar tulisan seorang dosen di FB yang di’capture’ Bu Esther misalnya saja kasus server mati. Server mati lalu dikaitkan dengan “wah ini petugasnya pada ngaji semua kayaknya..sampe nggak ada yang benerin”ya jangan begitu. Isu SARA siapapun juga sangat ampuh memicu konflik. Untuk para aktivis dakwah di kampus,jika kalian ingin mengadakan pengajian rohis di kelas atau meminta sumbangan untuk Palestina dsb harap minta ijin dahulu ke mahasiswa lain yang beda kepercayaan, atau satu kepercayaan tapi beda paham. Saya tahu kalian menyebarkan kebaikan, tapi suatu kemaslahatan jika akhirnya mendatangkan keburukan yang lebih besar..tidak harus dilakukan. Siapa tahu ada yang diam-diam tersakiti.
Untuk adik-adik SMA yang sedang atau akan memilih kampus, IPB MASIH SANGAT LAYAK JADI PILIHAN KALIAN. Input mahasiswa IPB itu sebagian besar hasil saringan PMDK,bibit unggul. Jadi, kalau ada yang komentar “kuliah di IPB itu jadi pilihan terakhir karena tidak diterima di universitas lain” …tertawakan saja mereka. 
Untuk alumni IPB, kita yang sudah terjun di masyarakat saat ini adalah cerminan kampus kita. Jangan malu untuk bilang “saya alumni IPB”. 
38 comments on "IPB Terus Maju (menjawab IPB SUDAH LAYAK DITUTUP?)"
  1. Sependapat mas..terimakasih. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi yang nulisnya salah (yang seolah-olah pengen bangsanya maju padahal nggak ada kesan positif ataupun pikiran membangun untuk maju, buat tulisan yang mendidik nb: saran semoga diterima).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf saya bukan "mas-mas" hehe..saya "mbak-mbak"..,

      Delete
  2. Wah kak, ini artikel bantahan pertama yang saya baca,
    Begitu bangga dan kagum mendengar alumni IPB banyak yang terjun langsung di bidang yang terkait di Kalimantan sana,
    dimana tidak semua lulusan universitas (di daerah jawa) mendalami bidangnya di daerah yang lebih membutuhkan.
    melainkan (selain yang kembali ke daerah asalnya) banyak yg mencari kehidupan yg lebih mapan di kota.
    Terimakasih karena kakak sudah menunjukkan bahwa,
    IPB ADALAH KAMPUS YANG TURUT MEMBANGUN INDONESIA.
    SAYA BANGGA MENJADI MAHASISWA IPB. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekelas saya..yg di luar Jawa banyak, yg di jawa banyak,,yang di pertanian pastinya plg banyak (ingat..bahwa pertanian nggak harus on farm..kan?)hehe :-)

      Delete
  3. Setuju. Sypun berkecimpung di pertanian tnp sibuk menjilat. Hehe. Salam kenal.

    ReplyDelete
  4. klo gaya medannya gni:
    aku mahasiswa IPB, trus kau mau apa?
    hehe,,,,
    saya bangga jadi mahasiswa IPB

    ReplyDelete
  5. Anak Pertanian Ada banyak Mbak.. saya dukung karena saya mahasiswa pertanian.

    ReplyDelete
  6. Keren Rul tulisannya, tapi memang wajar jika banyak orang berpendapat seperti itu. Mudah-mudahan bisa menjadi semangat buat semua civitas akademik IPB untuk berbuat lebih dalam pembangunan pertanian (dalam skala luas) Indonesia. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih wawat...iya Wat..dalam arti luas itulah yg mgkin orang luar IPB blm tau :-) semangat buat riset nya yah Kamu...

      Delete
  7. saya masih mahasiswa aktif IPB,
    indonesia masih impor barang elektronik juga kan? handphone lah gampangnya. kemana ahli teknologinya? ekonomi juga belum bener, kemana ahli ekonominya? hukum masih acak adut, kemana orang-orang adilnya?

    intinya sih, kita sama sama kerja sama buat indonesia sesuai passion kita, jangan salahin satu institusi aja, nggak adil buat mereka. Kebijakan pemerintah yang tetap mau impor beras juga harus dikoreksi, kalo kayak gitu, gimana petani indonesia bisa jadi raja di negeri sendiri? lagian nggak selamanya barang impor itu bagus loh. yang saya tau, institusi yang disebut di atas adalah penyumbang inovasi terbesar di antara perguruan tinggi jadi ya itu tadi, institusi itu masih ada saja, beras masih impor, gimana kalo nggak ada? simpel kan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya benar..padahal di dunia kerja, kami bersinergi. Satu divisi ku..ada dari ITB..ITS..Undip.. :-)

      Delete
  8. Setuju Mbak, Saya Mahasiswa dari pulau terjauh di IPB, dari PAPUA saya bangga kuliah di IPB. Biarkanlah orang mau bicara apa. saya pengen ngomong ke bu esternya seperti ini " Pake gaya Papua : KO EPEN KAH ?? artinya : Kamu eamng penting kah ??. eheheh Jaya IPB , I Love IPB.

    ReplyDelete
  9. Walau saat ini sy adalah analis kredit (ODP) di sebuah perbankan syariah bumn, namun bukan berarti tdk peduli dan tdk bisa ikut mengembangkan pertanian. Buktinya nasabah sy pun tetap ada yg memiliki usaha dibidang pertanian (mekanisasi), perikanan, dan peternakan.. artinya baik secara langsung maupun tdk, seluruh civitas akademika IPB apapun jurusannya, tetap WAJIB mengembangkan pertanian. Baik itu on farm maupun off farm, karena pertanian itu memiliki makna makro yg sangat luas.
    Institut pertanian..pengemban cita suci.. Institut Pertanian Bogor.. almamater kami..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teman-teman di Perbankan selalu jadi kambing hitam kalau lagi mbahas ttg karir alumni IPB :-)
      "Tri dharma nan mulia..IPB terud maju.."

      Delete
  10. menurut saya .. jika memang ada indikasi mohon diperiksa dengan jalur hukum jangan main tuduh-tuduh saja.
    IPB merupakan salah satu kampus terbaik di indonesia
    namun menurut saya IPB layak ditutup tanggal 29 - 31 Maret
    karena LIBURRRRRRRRRRRRRRRRR , masak belajar terus
    ayok liburan dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...selamat libur..bener banget :-)

      Delete
  11. SEPAKAT sama mba...
    Kayak warung aja, seenaknya bilang ditutup.
    Gini aja deh, JANGAN tanyakan: apa yg sudah negara berikan untukmu, TAPI tanyakan: apa yg sudah kau berikan untuk negaramu !
    Gaperlu buang2 energi buat nyalahin pihak lain, cukup KONTRIBUSI NYATA.
    Talk less, do more !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suara dari Fakultas Perikanan nih. Selamat berkontribusi...bro..

      Delete
  12. Setuju banget kak. Kalo bisa kasih link nya di artikel nya mba ester. Biar dia gak ketinggalan informasi bahwa IPB tuh hebat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak perlu :-) saya cuma ingin mengutarakan opini dan berharap menyemangati yg baca kok hehe..

      Delete
  13. Luar biasa sekali kaka kita ini. Pada dasarnya u/ menyimpulkan sesuatu dibutuhkan data-data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan, statement yang mendeskriditkan almamater kita ini jauh sekali dari syarat-syarat ilmiah. Hal ini menunjukkan bahwa subyek yang melakukan hal itu tidak kompeten dalam segi keilmuannya, selain itu hal yang disampaikan hanya berupa opini permukaan yang benar-benar jauh dari kebenaran. Kita sebagai generasi terpelajar harus mampu memfilter opini-opini seperti ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan harus berfikir jernih dalam menanggapi :-)

      Delete
  14. Walaupun saya kerja di bidang distributor otomotif khususnya motor banyak kok petani yg di Acc buat kredit motor..berarti kan saya mendukung petani biar lebih gampang wara wiri beli pupuk pake motor..."apa sih"heheh salam kenal

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Semangat untuk kita semua..IPB Layak MAJu....Tunjukkan klo kita bisa membangun Pertanian Indonesia..karna saat ini hanya bukti yg dapat menjadi senjata kita..:)

    ReplyDelete
  17. sebenernya sih, kadang ada benarnya juga yang di bilang esther itu, tetapi kaitan antara pembubaran dengan isu SARA itu sangat ga nyambung..dan IPB ga cuman pertanian, banyak sektor2 semisal perikanan yang udah mulai berkembang seperti di indramayu, yang gerakin siapa?alumni IPB, trun langsung ke pesisir dengan langkah nyata, bahu membahu bermitra langsung dengan nelayan setempat, dari mulai pembuatan kapal, info tentang efektivitas alat tangkap, dan juga manajemen setelah penangkapannya..itu baru sebagian kecil..jadi, sebenernya untuk kita alumni "asli" bukan abal2, mending pengabdian kita ga usah gembar gembor atau di show up, buktiin aja kita akan sukses, toh nanti penulis2 macem itu bungkam sendiri toh..hehe..dan saya tidak pernah kehilangan kebanggaan sebagai Lulusan IPB..

    ReplyDelete
  18. Hahahaha mana nih bu esternya nih itu di atas contoh2 alumni ipb yg berhasil di bidangnya. Ibuu klo mau mengkritisi sesuatu harus punya alasan yg kuat doong. Jangan jadi pengecut buu haha

    ReplyDelete
  19. Ahey ahey!
    Awalnya pengen bikin post respon juga, eh udah keduluan, lebih kumplit pula. Gud job! :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulis aja..kamu kan masih mahasiswa aktiv :-) pasti lbh menggebu-gebu

      Delete
  20. aku sedih banget bacanya rul....
    karena terus terang itu tidak cuma menjangkit IPB. dampaknya sih semua universitas di Indonesia ya nggak sih?
    serius aku juga nggak paham semasa kuliah kenapa temen2 sibuk banget bahas politik. repotlah masalah kayak gitu nggak selesai2.. dan kita cuma bisa komentar sana sini aja. udah mending deh sibuk belajar cari ilmu. kerja atau buka lapangan kerja baru sebagai pengusaha. gitu lebih berguna kontribusinya. mahasiswa emang sibuk banget dengan idealisme dan politik. bukannya nggak boleh... cuman yah... memajukan bangsa kan cara orang beda2. ah entahlah ya

    ReplyDelete
  21. Setuju. Buat saya, Novia Darwis (SKPM, FEMA, Angkatan 46), IPB itu jadi pilihan pertama saya dan satu-satunya hingga saya pun tak mencoba mencari Universitas lain untuk saya tempati menimbah ilmu.

    ReplyDelete
  22. Saya fresh graduate teknik pertanian 46.. dan sekarang saya berwirausaha dalam produksi gula merah higienis.. *dalam tahap pembangunan* salam yaa buat bu esther.. kog saya belum liat komen beliau...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature