Nyadran, Pendekatan Sufisme Walisongo

April 20, 2014
Suatu pagi di sebuah desa di selatan kabupaten Pekalongan, warga berbondong-bondong ke pemakaman dengan membawa bakul berisi nasi dan lauk. Saat sinar matahari mulai menyentuh dahan-dahan pohon kamboja, bacaan surah yasin mulai mengalun. Gemuruh suara kalimat Allah menderu dari mulut jamaah. Di ujung majlis itu, terdapat sebuah bangunan rumah kecil. Di dalamnya ada makam yang sudah dipercaya masyarakat sejak dahulu kala sebagai makam penyebar agama Islam di desa ini.
nyadran  (sumber: Republika )

Orang sini menyebutnya "mbah wali cempo". Makam ini memang tanpa nama dan tanpa keterangan tertulis sedikitpun. Hari ini jumat kliwon di bulan jumadil akhir, diperingati sebagai haulnya. Masyarakat desa menyebut haul dengan sebutan nyadran. Istilah yang juga telah turun temurun diwariskan dari jaman kakek buyut barangkali.

maqam Mbah Wali Cempo sehari sebelum nyadran

"Mbah wali cempo" memang mungkin bukan bagian dari Walisongo, tapi pastilah perannya cukup besar di desa ini. Di "Atlas Walisongo" karya Agus Sunyoto disebutkan bahwa sebutan Walisongo memiliki makna khusus yang dihubungkan dengan keberadaan tokoh-tokoh keramat di Jawa, yang berperan penting dalam usaha penyebaran dan perkembangan Islam pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi. Menurut Solichin Salam dalam "Sekitar Wali Songo", kata Walisongo merupakan kata majemuk yang berasal dari kata "wali" dan "songo". Kata wali berasal dari bahasa Arab, suatu singkatan dari waliyullah, yang berarti 'orang yang mencintai dan dicintai Allah'. Sedangkan kata "songo" berasal dari bahasa Jawa yang berarti 'sembilan'. Jadi, walisongo berarti 'wali sembilan' yakni 'sembilan orang yang mencintai dan dicintai Allah'. Mereka dipandang sebagai ketua kelompok dari sejumlah besar mubaligh Islam yang bertugas mengadakan dakwah Islam di daerah-daerah yang belum memeluk Islam di Jawa.

Nama tokoh penyebar islam yang "nyadran" hari ini yaitu "mbah wali Cempo" bisa saja adalah nama alias dari asal daerah beliau. Dalam konteks kesejarahan, keberadaan walisongo di satu sisi berkaitan erat dengan kedatangan muslim asal Champa. "Atlas Walisongo" menjabarkan tentang kedatangan bangsa Champa ke Nusantara. Kedatangan penduduk Champa beragama Islam ke Nusantara pada pertengahan abad ke-15, setelah jatuhnya Champa akibat serbuan Vietnam dicatat dalam berbagai historiografi; misalnya, dalam sulalatus Salatin, Babad Tanah Djawi, Babad Ngampeldenta, Purwaka Caruban Nagari, dan Serat Kandha.
Seperti kita ketahui bersama khususnya bagi masyarakat Ahlussunah Wal Jamaah, Walisongo berdakwah dengan cara damai. Sedikit-sedikit, alon-alon asal kelakon. Pastilah bukan perkara mudah mengislamkan penduduk yang masih menganut animisme, dinamisme, atau kapitayan. Ada berbagai pendekatan yang dilakukan para mubaligh tersebut, diantaranya dari jalur sufisme. Kaum sufi sangat luwes, terbuka, dan adaptif dalam menyikapi keberadaan ajaran selain islam. Tentu hal ini yang patut kita contoh. Di zaman sekarang, makin banyak ajaran selain islam atau islam tapi berbeda paham. Sikap terbuka bukan malah menyerang dan antipati akan jauh lebih baik.

Melalui pendekatan sufisme, dakwah islam era walisongo memasuki ranah adat-istiadat yang berhubungan dengan tradisi keagamaan baru. Melalui proses asimilasi dengan tradisi keagamaan Hindu-Budha yang disebut sradha, yaitu upacara 'meruwat arwah' seseorang setelah 12 tahun kematiannya, lahirlah tradisi baru Islam yang disebut Nyradha atau Nyadran yaitu upacara 'mengirim doa kepada arwah' orang mati setiap tahun yang sebagian bermakna mengucap syukur kepada Tuhan karena telah melimpahkan kesuburan dalam usaha pertanian dengan persembahan sesaji kepada Sri-Sadhana. (Atlas Walisongo). 


nyadran adalah pengingat
Nyadran di zaman sekarang sudah bukan lagi upacara dengan membawa sesaji ke Sri-Sadhana. Tradisi ini menjadi ajang silaturahim, pengajian, dan tahlilan. Banyak yang mengira bahwa nyadran yang masih dilestarikan oleh kaum Ahlussunah Wal Jamaah sarat nuansa magis dan penyembahan roh nenek moyang. Dalam kehidupan yang sudah makin individual, silaturahim tatap muka sudah makin sulit terjadi atau dianggap sulit oleh sebagian besar masyarakat. Padahal, makin sedikit interaksi langsung satu sama lain maka makin banyak kecurigaan dan ketidak pedulian. Beginilah yang terjadi dalam masyarakat perkotaan dewasa ini, sehingga memunculkan benih-benih kebencian meski bertetangga. Jika nyadran terus dilestarikan, setidaknya ada satu event berkumpul selain lebaran. Yang tidak kalah penting, saat nyadran biasanya diceritakan tauladan mubaligh yang di nyadrani. Ini yang harus kita ingat-ingat, konsep diri yang kuat yang akan menyelamatkan iman kita di tengah gempuran aliran-aliran baru. Tauladani ketabahan dan keluwesan para wali dalam dakwahnya yang damai tapi menghanyutkan. 

Tanpa adanya para Wali yang membawa ajaran Islam ke desa ini, entah seperti apa peradaban yang ada sekarang. Pun dengan Indonesia, tanpa para walisongo apakah kita yakin bisa seperti sekarang? Nusantara bisa bertahan dan punya budaya salah satunya berkat Walisongo. Bayangkan jika yang dilakukan walisongo berupa doktrinasi dan pemaksaan? Sebagai generasi muda Ahlussunah Wal Jamaah, salah satu yang bisa dilakukan adalah tetap nguri-uri (melestarikan) yang sudah diwariskan. Indonesia harus jadi mercusuar dunia. Kenapa mercusuar, bukan puncak atau singa? mercusuar itu pemberi petunjuk bagi yang di laut lepas bahwa ada daratan. Mencintai Indonesia adalah pertanyaan self reflection... once your answer is Yes, the next things is to make action of GIVING. Tak perlu menetang yang berbeda, semua hanya berdasarkan sudut pandang kita. Tak berarti semua perspektif perlu disetujui. Menerima tiap orang punya perspektif berbeda akan meluaskan wawasan berpikir. Luwes dengan keberagaman adalah syarat utama untuk bisa berjalan di dunia global.

sumber:
Atlas Walisongo, Agus Sunyoto
Sekitas Walisanga, Solichin Salam
3 comments on "Nyadran, Pendekatan Sufisme Walisongo"
  1. Kabupaten Pekalongan, Batang dan Pemalang sangat kaya dengan jejak ( petilasan, makam ) para penyebar agama islam. Contoh sederhana Petilasan syeikh Jambu Karang ? tersebar di beberapa tempat, mulai dari rogoselo, sragi, duwet, mulyorejo, alhamdulillah msh terawat/dirawat dgn baik oleh masyarakat setempat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah saya malah baru tahu istilah "jambu karang", alhamdulillah ya masyarakat Ahlussunah wal jamaah di Pekalongan dan sekitarnya msh nguri-uri yg demikian.
      Makasih kunjungannya

      Delete
  2. Syeh jambu karang ada juga di Doro, diwonobodro juga ada.. yang di wonobodro dekat makam Sunan kudus dan syeh maulana magribi

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature