Museum Batik Pekalongan

May 29, 2014
Pernah ke Pekalongan? Sudah pernah belajar membatik belum? Tak lengkap rasanya jika kita berkunjung ke kota Batik cuma belanja batik saja. Sekali-kali cobalah belajar membatik, it's amazing. Saya orang Pekalongan, kalau melihat proses membatik...dulu waktu kecil sering sih. Waktu SMA juga ada tugas membuat motif batik. Tapi, kalau menggoreskan canting langsung di kain...baru kemarin.


Selama ini pekalongan dikenal sebagai tempat wisata belanja. Belum banyak yang tahu bahwa pekalongan memiliki daya tarik wisata heritage. Tengoklah kawasan Jetayu Pekalongan. Semilir angin pesisir menyibak pepohonan di samping lapangan yang dikelilingi bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda. Sebagai penggemar bangunan tua, saya tak sabar memasuki salah satunya. Sebuah gedung bekas kantor keuangan yang membawahi tujuh pabrik gula di Jawa. Inilah dia...sejak 2006 sudah diresmikan sebagai museum batik.
Saya datang hari minggu, memanfatkan waktu di sela-sela quality time dengan keluargaku di kampung halaman. Cukup membayar Rp. 5000 kita bisa berkeliling, dan foto-foto (kecuali di ruang pamer). Pernah lihat batik dari seluruh Indonesia? Di sini ada. Jenisnya ada batik tulis, batik cap, batik lukis, serta jenis lain yang saya tidak tahu. Hehehehe. Koleksi batik ini diganti tiap 4 bulan sekali kok, jadi kalau Anda datang lagi...nggak lihat yang itu saja. Entah apa maksudnya, ada juga koleksi batik dari pak SBY dan Bu Ani juga Pak Hatta Rajasa. Saya sih lebih berkesan kalau ada koleksi batik punya siapaa gitu yang berkaitan dengan budaya. Misal, ini lho koleksi batik dari bupati Pekalongan yang pertama, hahahha.
Setelah berkeliling, pengunjung bisa mengikuti workshop membatik. Yuhuuu. Siapkan kreativitas dan kesabaranmu. 
       
Batik sederhana kreasi saya, yang harusnya ada 12 step...ini sih cuma 3 step (jadinya apa adanya banget). Yang saya renungkan saat belajar membatik tulis ini adalah ide improvement. Hasil batikan saya nggak seragam karena viskositas lilin "malam" nya berbeda. Hal ini terjadi karena temperature kompor berbeda. Makin panas api dari kompor, makin cair lilin yang masuk ke canting. Lilin yang terlalu cair akan mudah "mbleber" meskipun hasil sapuan canting jadi lebih halus. Jika temperature kompor tidak terjaga dengan stabil, pastilah hasil sapuan canting jadi berbeda-beda. Jadi, perlunya standarisasi suhu api yang keluar dari kompor untuk memanaskan lilin "malam" sehingga viskositas lilin bisa stabil. Aduhh ini saya ngomong apa...hahahah.
Di Museum Batik tersedia cenderamata pernak-pernik batik kalau mau beli. Saya sih engga, saya malah asik foto bangunan tua museum. 
Pekalongan Heritage di Jetayu nggak hanya museum batik, ada juga kantor pos besar..dan tugu kecil yang konon adalah titik tengah dari pulau jawa. Di tugu yang seperti "tak dianggap" itu ada goresan bertuliskan "myPaal".
Kalau ke Jetayu, kurang rasanya jika tidak foto di tulisan B A T I K. Hahahha...this is a landmark of Pekalongan, the world city of Batik.






Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature