Privasi di Social Media

May 23, 2014

“Jangankan Path, conversation di grup WhatsApp aja suka discreenshot terus ditaro di blog,” begitu tulis Oknum F dalam suatu diskusi di grup WhatsApp.

Saya hampir tersedak membacanya.

“Gue ga ngomongin elo ya, Yun. Gue juga sering screenshot dan taro di tumblr kok,” Oknum F menambahkan. Sepertinya dia sadar kalau takut menyindir saya.

Pada kenyataannya saya memang relatif “rajin” meng-capture hal-hal di grup WhatsApp yang menurut saya dapat dibagikan ke khalayak ramai.

Saat itu topik perbincangan kami di grup WhatsApp adalah soal privasi di era sosial media. Perbincangan terjadi dipicu oleh sebuah postingan milik seseorang di Path yang curhat akan ketidaksediaannya untuk memberi tempat duduk kepada seorang ibu hamil di KRL Commuter Line. Ia kemudian dibully di sosial media. Postingan tersebut tersebar akibat salah seorang temannya meng-capture postingan tersebut dan membagikannya ulang di Path. Postingan tersebut kemudian tersebar tidak hanya di Path, tetapi juga di sosial media lain seperti Facebook, Twitter, Tumblr, Instagram, dan sebagainya. Lebih jauh lagi, postingan tersebut akhirnya naik menjadi berita di salah satu portal berita online bahkan televisi nasional. Mungkin si pelaku sendiri kaget mengetahui bahwa postingannya itu bisa menjadi berita nasional. Ia, sama seperti kebanyakan orang, pasti menganggap bahwa Path adalah sosial media yang cenderung tertutup. Postingan-postingan di sana hanya bisa diakses oleh orang-orang terdekat yang jumlahnya (saat itu) dibatasi hanya 150 orang. Bagi sebagian orang Path dianggap menjanjikan rasa aman akan privasi penggunanya di sosial media. Tetapi kejadian ini meruntuhkan kepercayaan bahwa masih ada privasi di sosial media. Kejadian ini membuktikan bahwa privasi di sosial media adalah mitos belaka.

Saat saya sedang tiduran bersantai di sebuah hostel, Oknum N mengirim message di Facebook kepada saya. Saat dia menyapa dan saya membalas pesannya, dia kemudian bertanya, “Lo lagi di Kyoto, Nus?” Saya langsung heran bagaimana dia tau saya ada di Jepang karena sebelumnya saya ga pernah kontak dengan dia dalam waktu yang lama dan kepergian saya ke Kyoto sama sekali tidak saya publikasikan ke sosial media. Kemudian saya tau bahwa dia melihat geo location dari pesan yang saya kirimkan. Privasi saya pun secara otomatis terbongkar dengan mudahnya hanya dengan berbincang di sosial media.

Tidak ada privasi di sosial media. Sebagai malaikat digital (meminjam istilah Nukman Luthfie), aktivitas kita terekam dengan detail di sosial media. Foto yang kita upload di instagram, lokasi tempat kita berada melalui check in Foursquare, isi hati dan pikiran kita lewat tweet di Twitter, percakapan kita di messenger, resume kita di LinkedIn, status relationship kita di Facebook, sampai kapan kita tidur dan bangun via sleep/awake di Path, semuanya tersimpan dengan baik di sosial media. Tanpa disadari, seringkali kita sendiri lah yang menginginkan kehidupan tanpa privasi melalui sosial media. Kegemaran bersosial media membuat kita lupa bahwa kita butuh kehidupan pribadi.

Kita butuh kehidupan pribadi. Kita butuh privasi. Tetapi apa yang dimaksud dengan kehidupan pribadi itu? Apakah kehidupan peribadi itu berarti kehidupan sendiri tanpa ada orang lain yang mengetahui atau kehidupan tentang diri sendiri yang bisa saja diketahui oleh orang lain? Di era orang-orang hobi melakukan selfie dan bernarsis ria di sosial media seperti sekarang ini, definisi kehidupan pribadi dan privasi terasa buram. Data pribadi kita obral, sosial media kita jadikan tempat paling nyaman untuk kehidupan pribadi. Sedangkan, kehidupan bersama orangtua, misalnya, dianggap sebagai ancaman terhadap privasi. Misalnya saja, sebagian remaja lebih memilih Twitter, Instagram, dan Tumblr dibandingkan Facebook karena alasan tidak ada orangtua mereka di sana.

Ada satu perbedaan mendasar antara interaksi online melalui sosial media dengan interaksi offline yang tidak disadari banyak orang. Interaksi di dunia nyata sehari-hari bersifat private by default dan bersifat public through effort. Contoh sederhananya, di kehidupan nyata akan lebih mudah bagi kita dalam berbicara atau mengumumkan sesuatu secara individual (kepada satu orang tertentu) dibandingkan kepada khalayak ramai. Hal ini berbeda dengan interaksi online yang bersifat sebaliknya, public by default, private through effort. Ketika kita memposting tweet di twitter, artinya kita sedang berbicara kepada sekian ratus atau ribu follower twitter kita, sekaligus jutaan orang lain di luar sana yang tidak menjadi follower kita tetapi bisa mengakses tweet kita melalui internet. Di dunia nyata, perlu usaha agar suara kita didengar oleh banyak orang, sedangkan di dunia maya, perlu usaha agar suara kita didengar hanya oleh orang-orang tertentu saja. Privasi, sekali lagi, bukanlah sifat alamiah dari dunia maya.

Sosial media dan privasi adalah sebuah dilema tersendiri. Bukankah sosial media is all about sharing? Sharing dan privasi adalah dua kutub yang bertolak belakang. Artinya, jika seseorang sudah memutuskan untuk terjun ke sosial media, maka dia sudah siap untuk membuka dirinya kepada semua orang. Jika mau privasi, maka jangan bersosial media. Di sosial media, the less you share, the safer you might be. Selain itu, jika sudah terlanjur kecanduan sosial media, kita bisa mencegah agar tidak setiap orang mengakses data pribadi kita, yaitu dengan melakukan pengaturan privasi di account sosial media. Sayangnya, tidak semua orang memahami benar bagaimana melakukan pengaturan privasi di sosial media. Sebanyak 68% pengguna Facebook tidak mengerti cara pengaturan privasi di sosial media tersebut. Seringkali pengguna sosial media juga tidak menyadari atau lupa bahwa sosial media mereka dapat diakses hampir oleh siapa saja dan apa yang mereka posting cenderung terekam untuk selama-lamanya. Data dari sebuah survey menunjukkan bahwa 55% remaja memberikan informasi pribadinya kepada orang asing di Facebook dan 24% remaja mempersilakan data dirinya dapat diakses oleh umum sewaktu-waktu. Di masa kini, banyak orang merasa kesulitan dalam mengontrol beredarnya informasi mengenai diri mereka di dunia maya, informasi yang mereka berikan sendiri secara sukarela kepada sosial media.

Selamatkan privasi diri kita di sosial media:

1. Review data diri kita di sosial media secara berkala. Pastikan data tersebut hanya bisa diakses oleh orang-orang terdekat saja.

2. Gunakan friend list atau filter untuk mengontrol siapa saja yang bisa melihat postingan tertentu, siapa saja yang bisa melihat postingan yang lain. Oknum K menandai inner circle terhadap seluruh temannya di Path, kecuali bosnya. Jadi jika Oknum K ingin memposting hal-hal yang ia tidak ingin bosnya tau, ia posting menggunakan inner circle. “Lah, kalau kayak gitu kenapa lo temenan sama bos lo di Path?” tanya saya. “Abisnya dia yang ngeadd gue. Masak gue reject?” jawabnya. Pertemanan dan privasi di sosial media sudah sampai level yang begitu rumit.

3. Review postingan-postingan lama kita. Kadang, postingan yang sangat ingin kita posting 2 tahun yang lalu adalah postingan-postingan yang tidak kita ingin orang lain tau sekarang. Lebih penting lagi, pikirkan matang-matang jika kita ingin memposting sesuatu di sosial media. Postingan kamu akan terekam selamanya di sosial media (apalagi jika ada orang lain yang share postingan tersebut di sosial media). Postingan kamu bisa jadi catatan amal baikmu, bisa jadi catatan amal burukmu kelak.

4. Hindari tindakan-tindakan yang dapat membuat sosial media kamu dapat diakses oleh orang lain. Jangan mengakses wifi dari jaringan unsecured, ganti password secara berkala, dan jangan gunakan password yang sama di semua sosial media.

5. Kita ingin privasi kita terjaga di sosial media, demikian pula orang lain. Jangan memposting sesuatu dengan melakukan tag pada orang lain jika postingan tersebut dirasa kontroversial atau dapat merugikan dirinya. Jika tetap ingin melakukan tag, minta izinlah terlebih dahulu atau persilakan dirinya sendiri yang melakukan tag tersebut.

6. Jangan berteman dengan orang yang tidak dikenal di sosial media, terutama jika ada informasi di sosial media kita yang tidak kita ingin orang lain tau.

7. Jika ingin mendapatkan privasi yang sesungguhnya, berhentilah memposting apapun di sosial media. Karena tidak ada jalan lain untuk menjaga kerahasiaan diri selain berhenti dari sosial media.

-- Reblog from: 

http://kuntawiaji.tumblr.com/post/86484343595/privasi-di-sosial-media



Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature