Suatu sore di bawah pohon randu

May 08, 2014

Suatu sore yang indah, di bawah pohon randu yang berguguran daunnya. Sahabat kecil saya berceloteh. Seperti seekor burung sawah yang berisik sambil terbang terbirit-birit. Ini seperti khutbah pengajian. Dimana saya dan teman saya yang lain duduk bersila mendengarkan sabda-sabdanya. Kami bertiga berkumpul di tempat yang sama sejak bertahun-tahun.

Dia, perempuan seorang diri diantara kami bertiga. Bertengger di atas akar yang besar. Dengan gayanya yang mengatur, dia memberikan petuah kepada kami, laki-laki tentang perempuan. Seolah-olah dia sedang membocorkan rahasia besar kaumnya sendiri kepada lawan utamanya, laki-laki. Kuharap dia masih ingat kalau dia seorang perempuan.

"Kalian kaum laki-laki harus paham kunci ini. Perempuan itu benar-benar menyukai kepastian"


Sabdanya dimulai. Bila sudah begini, kami lebih baik diam. Tidak menyela satupun kalimatnya.

"Anak gadis mana yang mau dipermainkan, anak gadis mana yang mau digantungin. Cinta itu omong kosong tanpa kepastian"

Matanya menatap tajam ke arah kami sambil jari-jarinya mengacungkan ranting kecil. Bila sudah begini, kami harus memperhatikan.


"Kalian tahu? kepastian itu bukan soal masa depan kalian gemilang atau bukan, bukan soal uang kalian pasti banyak atau bukan, bukan soal itu. Tapi soal ini"
Ia menunjuk dadanya.
"Kalian tahu, perempuan itu benar-benar menyukai kepastian. Dan cuma satu aja yang perlu kalian pastikan"

Kami saling tatap. Kemudian melihatnya yang tersenyum memancing kami untuk memaksanya memberi tahu.

"Bahwa hatinya aman ditanganmu, bahwa kamu menjadikannya satu-satunya. Meski aku tahu mungkin itu agak bias karena kalian tentu memiliki hal lain. Setidaknya kalian harus memastikan bahwa kalian bertanggungjawab terhadap dirinya, terhadap perasaannya, terhadap hidupnya. Dan pertanggungjawaban itu tidak hanya soal dunia, tapi disaksikan Tuhan. Dan kepastian tertinggi itu dengan melibatkan Tuhan sebagai saksi, atas nama Tuhan kalian menjadikannya teman hidup di sini juga di sana"
Tangannya menunjuk ke langit. Dia diam sejenak.
"Kalian tahu, meski aku tomboy seperti ini. Dalam diriku ini tetaplah perempuan. Meskipun aku tahu kalian melihatku sangat kuat dan tegar, sangat mandiri. Aku merasa tetap membutuhkan sandaran, tempat dimana aku bisa merasa tenang. Ah susah sekali menjelaskannya, kalian bukan perempuan sih"
Dia sebal sendiri. Aku mengacungkan tangan.
"Ya, ada apa"

"Kira-kira apa yang harus kami lakukan kalau kami belum siap memberikan kepastian?",tanyaku.
Dia membetulkan posisi duduknya. Sambil mengacungkan ranting kayu ke depan mukaku.
"Jangan sekali-kali memberikan harapan, camkan itu"




Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature