Belajar dari Mba Florence, jangan asal accept friend di path

August 29, 2014
Netizen dihebohkan lagi dengan kasus menyebarnya status path seseorang bernama Florence. Beliau mahasiswi di Jogja yang antri Pertamax karena antrian BBM bersubsidi mengular. Mba Florence kesal kenapa dia tidak dibolehkan antri di antrean mobil. oke..ini tidak perlu didramatisir, mau tau statusnya seperti apa,,aku nggak perlu ikutan nyebarin,,CUKUP TAU. Entah kenapa ya, untuk kasus Mba Florence ini merasa publik terlalu lebay. memBully dia seperti itu, bahkan sampai bawa-bawa institusi tempat beliau sedang belajar. Masih segar diingatan kita beberapa waktu lalu ada seorang wanita juga yang nyetatus di path tentang keadaan di KRL. Masih ingat kan?
Untuk kasus mba Florence, jika aku di posisi dia juga akan melakukan hal yang sama. Saat antri di Premium mengular, ya gapapa antri pertamax. Kalau dilarang? Pasti deh kesel juga, dan ngga menutup kemungkinan aku akan bikin status atau ngetweet. Tapi mungkin narasinya semacam “duh..masa nggak boleh beli pertamax sih, emangnya aku nggak bisa beli apa..”.
Jadi intinya....back to basic. Path, bagiku adalah social media paling privat yang aku ikuti. Meskipun sekarang kita bisa berteman dengan 500 orang di path, temanku ya masih itu-itu saja. Sebatas teman SMA..kuliah..kerja..yang kenal secara pribadi. Nggak harus deket banget, tapi setidaknya mereka tahu karakterku, bagaimana caraku mengungkapkan sesuatu. Jikapun pengen nyetatus yang privat, aku Cuma share ke innercircle friend yang cuma ada 10 orang. Nih ya, kalau kita temenan sama yang bener-bener temen..pasti nggak sampai deh tega ngeShare screen shoot an status path yang sudah jelas-jelas bakal memicu kericuhan seperti kemarin menimpa mba Florence. Palingan temen-temen kita akan komen, “jangan gitu dong..” atau “sabar ya..” atau kalaupun tersinggung banget palingan ya sebatas debat via path atau chat pribadi.
with the ones you love (kalau nyebarin screen shoot gitu ya nggak "love" berarti)
Aku sendiri pernah kena bully di twitter, karena salah satu tweet ku ‘terasa’ menjelekan sesuatu. Teman-teman yang kenal deket sih ikutan reply, tapi karena mereka paham karakterku ya sudah nggak diperpanjang. Tapi ada banyak orang di twitter yang nggak kenal aku secara pribadi, jadinya dramatis banget gitu kesannya. Hahha..cukup deh 2 hari dibully mereka.
Untuk path, jangan asal accept friend. Sekali lagi, social media itu diciptakan agar kita gampang bersosialisasi. Gunakan dengan benar, karena semua sudah menyediakan fasilitas keamanan, serta term & condition. Netizen nggak usah lebay, ikut-ikutan latah, atau mendramatisir suatu hal. Sebagai teman, jika ada yang nggak beres dengan status teman kita...coba komentari secara pribadi...kalau kesel banget...dan nggak bisa lewat jalur pribadi dan gatel pengen share di khalayak, ya identitasnya bisa kali ya disembunyiin.


3 comments on "Belajar dari Mba Florence, jangan asal accept friend di path"
  1. Haha.. waktu kasus nona D dulu aku juga bahas dari sistem Path-nya mbak. Aku sih nggak pernah pake Path. Tapi logikanya, yang pertama nyebarin statusnya kan pasti temen-temennya sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Temen dalam tanda kutip hahah.

      Delete
    2. Naah!
      Teman dalam tanda kutip, yang artinya:
      1. Temen semu yang cuma temenan di dunia maya, belum tentu pernah ketemu di dunia nyata. Interaksi pun nggak pernah. Cuma ada di daftar "teman"
      2. Temen beneran yang saling kenal, tapi nggak berlaku sebagai selayaknya teman

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature