Lahan Pertanian di Pekalongan Menyempit [ #HariTaniNasional ]

September 24, 2014
Sejenak aku terdiam di jok belakang bertumpu pada dagu. Beberapa menit sebelumnya,
“Rul, teman saya bisnis tanah lho di Pekalongan. Dia nyewa tanah gitu, terus ditambang..Pasir juga sih” Oknum E membuka percakapan sambil nyetir.
“oh..iya sih, sekarang emang makin banyak yang nambang pasir di sungai, sama nambang tanah” Jawabku.

Flashback Bencana Tahun 2014
Warga kabupaten dan Kota Pekalongan masih ingat dong pasti, betapa banjir tahun ini datang sampai beberapa chapter. Selain banjir, di bagian selatan juga terjadi longsor yang sampai memutus jalan. Keluhan jalanan rusak sering banget aku lihat di twitter. Jalan akses kabupaten yang tak kunjung diperbaiki dan terus tergerus karena banyak truk pengangkut tanah yang tiap hari melewati (ruas Kedungwuni-Doro).

Menyewakan tanah
Jika di kota besar kebanyakan orang menyewakan ruko dan rumah, di Pekalongan malah menyewakan tanah. Sebidang lahan disewakan ke pihak lain bukan untuk ditanami sesuatu atau didirikan sebuah bangunan melainkan untuk dikeruk, ditambang. Kemudian hasil eksploitasi itu diangkut dengan truk-truk besar yang mencecerkan gumpalan-gumpalan isinya melewati jalan kampung, jalan kecamatan, jalan kabupaten. Selain mendapatkan bayaran dari penyewa tanah,  pemilik juga diuntungkan karena lahan miliknya jadi rata. Mudah baginya jika ingin mendirikan rumah dan lain sebagainya. Mind set tentang kerusakan lingkungan itu masih minim sekali.

Lahan Pertanian
Tanah yang dikeruk kebanyakan adalah lahan pertanian. Pertanian itu bukan melulu soal sawah ya..
Miris aja kalau melihat lahan-lahan gundul warna merah bata itu. Yang tadinya tanah berbukit-bukit warna hijau dengan beraneka pepohonan. Suatu ketika aku melakukan perjalanan ke barat (dari Talun – Kajen) melewati persawahan dan kebun-kebun warga yang masih terjaga. Suatu ketika pula aku melewati perkampungan yang sudah miring ke sungai.
Bukan airnya yang sulit, bukan pula harga jual gabah yang rendah, bisa jadi mereka enggan bertani lagi karena lebih memilih menyewakannya. Masih mending kalau setelah dikeruk, tanah itu ditanami lagi padi atau pohon. Kalau ditanami ruko atau real estate?

Harapan
Aku yang dibesarkan sebagai anak petani di Pekalongan berharap lahan pertanian nggak makin sempit. Tentunya, petani semakin makmur karena memiliki pola pikir yang sudah terbuka. Dalam artian, lebih tahu bahwa apa yang mereka lakukan berdampak global. Pemanfaatan lahan, penggunaan pestisida, cara memanen, dan bagaimana mereka memperlakukan hasil pertanian pasca panen.
Untuk Pemda, mohon untuk sadar dan membuka mata. Jika para penambang itu tak berizin...tindaklah. Jika mereka berizin, tolong dipertimbangkan lagi segala efeknya. Jangan ada lobi-lobi rahasia diantara kalian..ok..

Theme song saat Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru:

44..generasi muda
Penuh harapan membangun masa depan
Dengan pertanian mari bergandeng tangan
Mengukir masa depan yang mapan
44..bersama agraris
Ciptakan cinta dan juga rasa bangga
Pada pertanian di Indonesia
Bersama di agraris 44
Hapuskan duka, hilangkan lara,
Dalam tangis dan tawa kita songsong harapan
Kini saatnya kita meraih cita
Bersama kita bisa, dalam kebersamaan
Dalam hati berjanji Fourty Four is the best
Lets be the agent of change
Wujudkan impianmu
Di sini di IPB kita
Kembangkan diri..jadi yang terbaik





Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature