[Reblog] Agama Adalah Hakim

October 28, 2014
Saya menyimak, membaca ulang, dan ini..benar-benar merasuk jiwa. Reblog dari Tumblr Kurniawan Gunadi. 


Diskusi-diskusi dengan teman selalu menghasilkan banyak pemahaman baru yang menarik. Tidak untuk dibenar-benarkan dan menjadi prinsip yang kemudian juga saya anut. Namun, saya menjadi belajar bahwa perjalanan hidup manusia yang berbeda-beda telah membuat cara berpikir seseorang dengan yang lain juga berbeda. Untuk satu masalah yang sama pun, seseorang memiliki cara pandang yang berbeda. Dan kali ini akan sangat disayangkan jika tidak saya tulis.

Agama adalah hakim, hakim dalam hal apa?
Di tengah usia 20+ dimana kita disajikan oleh berita akad nikah teman yang mirip jadwal shalat jumatan seminggu sekali. Dimana ketika ada seseorang yang datang yang bahkan kita tidak tahu siapa dan bagaimana. Dimana ketika kita dibuat bertanya-tanya tentang seseorang yang hadir di pikiran. Maka jadikanlah agama sebagai hakim. 

Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan beragama seseorang yang sebenar-benarnya saat ini. Hanya mendengar berita atau memperhatikan caranya berpakaian. Selebihnya kita tidak akan tahu jika kita tidak benar-benar mengenal kesehariannya. Karena agama bukanlah sekedar ibadah ritual; banyaknya hafalan, hitamnya jidat, panjangnya jenggot, lebarnya kerudung. Tidak seeksplisit itu. Agama itu ada di dalam hati, melebur hingga menjadi satu kesatuan dalam diri manusia. Menjadi cara berpikir, cara berbicara, cara berperilaku, semunya termanifestasi menjadi perilaku keseharian.

Kita tidak akan benar-benar tahu kehidupan beragama seseorang dan berapa derajat keimanannya di mata Allah. Lalu bagaimana kita bisa menerima seseorang yang datang tiba-tiba dalam hidup kita? Apalagi bila dia adalah orang yang sama sekali belum kita kenal baik kehidupannya?
Sementara Nabi mengatakan bahwa seseorang (menurutku ini berlaku tidak hanya untuk perempuan) dinikahi karena 4 hal; harta, keturunan, paras, dan agama. Dan dianjurkan memilih agamanya.
Lalu saya bertanya, “Kalau kita bisa mendapatkan keempatnya, mengapa hanya salah satu atau mendapatkan 3 dari 4 kriteria itu? Tidak salah dan tidak berdosa juga kan kita berharap dapat seseorang yang baik agamanya sekaligus cantik/tampan, berketurunan baik, dan kaya?”
Teman saya tersenyum. Di sinilah jawaban itu muncul. 
Source

Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik, seluruh pemahaman itu akan melebur menjadi dirinya. Ingat bahwa Nabi Muhammad akhlaknya adalah Al Quran kan? Kita dan sesorang yang datang itu bukan Nabi, tapi kita bisa mencontohnya. Seseorang saat ini tidak lagi bisa dinilai dari luarannya saja. Lihatlah bagaimana cara dia berbicara, berperilaku, uji pemikiriannya dengan pertanyaan kritis dan masalah, uji kesabarannya dengan amarah. Kita boleh banget berdoa untuk memiliki pendamping yang memiliki paras yang baik, kaya, juga berketurunan, tidak ada yang salah. Yang perlu kita pegang adalah jadikan agama sebagai hakimnya."

Saya masih menyimak pembicaraan ini. Maksudnya agama sebagai hakim?"

"Kita tidak akan bisa menilai agama seseorang saja dan mengesampingkan yang lain. Hanya karena dia terlihat beragama; rajin shalat, jidat hitam, kerudung panjang, hafalan seabrek. Tapi bicaranya kasar, pemikirannya tertutup, bahkan perilakunya bertentangan dengan tampilan luarnya. Buat apa?" 

"Carilah seseorang dengan karakter yang baik, baru kamu lihat agamanya. Kamu hanya perlu ridha dengan agamanya sebagaimana apa yang dikatakan Nabi Muhammad. Artinya kamu cukup ridha bila dia hanya baru shalat wajib dan dhuha, belum banyak hafalannya, belum rajin puasa sunah, kerudungnya belum panjang atau bahkan mungkin belum mengenakan, dll. Karakter baik itu penting dan abadi berada dalam diri manusia. Karena karakter itu tidak dibentuk oleh pelajaran-pelajaran teori." 

"Karena pemahaman agama itu benar-benar menjadi agama ketika terwujudkan menjadi seluruh cara hidup seseorang. Selebihnya dapat dipelajari perlahan. Al Quran saja diturunkan dalam jangka bertahun-tahun, pelan-pelan tidak langsung sekaligus. Seseorang tidak akan menjadi sangat alim, sangat soleh atau solehah dalam hitungan pendek. Semua adalah proses dan itu proses bersama kalian nantinya. Untuk menjaga proses itu berjalan dengan baik, kamu membutuhkan seseorang dengan karakter yang baik" 

Saya mencatatnya. 

"Jadikanlah agama sebagai hakim, bila dia cukup baik dan cukup memenuhi kriteria mubah/sunah yang kamu buat (misal bisa masak, cantik/tampan, penyayang anak-anak, dll) baru kamu lihat agamanya. Kalau kamu ridha, kamu sudah tahu jawabannya. Bila agamanya tidak baik, percuma kan karakter baik tapi kehidupan beragamanya kamu gak ridha, putuskanlah. Karena hidupnya tidak akan berakhir di dunia saja, masih ada kehidupan setelahnya dan kamu membutuhkan itu." 

Teman saya selesai menjawab. Ku kira dia lebih “ustadz” daripada ustadz di televisi yang hanya haha hihi tanpa esensi. Saya mencatatnya, membaca ulang kesimpulannya. 

"Agama adalah hakim untuk menerima atau menolak seseorang dan hakim selalu memutuskan setelah melihat semua komponen yang lain terlebih dahulu"


9 comments on "[Reblog] Agama Adalah Hakim"
  1. iyah... dan biasanya pun kita mendapatkan pasangan hidup yang setara
    thats why kita dianjurkan terus memperbaiki diri kalau ingin pasangan yang baik
    ingin yang kaya? berusahalah agar juga kaya
    ingin yang wajahnya lumayan? berusahalah menjadi enak dilihat
    ingin yang pintar? kita pun mesti terus menimba ilmu
    dst..
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Advice langsung dari yang baru saja membuktikannya :-)

      Delete
  2. Kadang yang eksplisit itu juga menipu loh mbak. Sering banget liat secara nyata, dan kadang juga ada di cerita ilustrasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa ini maksudnya,,,hahahah penuh makna implisit

      Delete
    2. Itu tuh.. yang jidat hitam dan segala bentuk simbol lainnya. Kadang simbol-simbol eksplisit itu nggak mencerminkan secara langsung kepribadiannya. Yang ada malah kebalikannya.

      Pernah baca ilustrasinya di komik Muslim's Show. Ada dua orang: Bapak-bapak pakai gamis, muslim banget, dan anak muda yang acak-acakan. Di dalam hati si bapak: "Itu anak muda nggak banget sih. Pakaian aja acak-acakan begitu, gimana ibadahnya". Tapi dalam hati si anak muda: "Subhanallah bapak itu. Semoga aku bisa seperti beliau"

      Delete
    3. Ohhhh iya iya. Makanya,,,gt,,polos-polos kucing garong juga ada #ehh

      Delete
    4. Hahaha.. Kata temen: Diam-diam gigit celana dalam :D

      Delete
    5. Ahahaha peribahasa baruuu

      Delete
    6. Btw, itu si Edo dan Panji yang biasa bilang begitu

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature