Uripku Greget

November 18, 2014
Keputusan-keputusan impulsif dalam situasi mendesak dan hari-hari yang serampangan menghasilkan greget tersendiri. 
Denger-denger nih, sekali-kali kita perlu melakukan hal yang mendadak, tak terencana, karena efeknya bisa di luar dugaan. Sudah saya buktikan. 
    
Drama krisis air
Semua kisah serampangan ini diawali dari drama krisis air. Malam jumat, tetiba bu kos bilang air mati tanpa pemberitahuan dari manapun. Oke. Besok paginya pas bangun pagi, masih mati. Nggak tau harus apa, yang pasti segera kukeluarkan sepeda,,menuju masjid. Alhamdulillah ada air. 
Seperti biasa sebelum kerja, saya menyempatkan nonton berita. Sekelebat ada info mengenai supply air Pam dan Wtp daerah saya yang akan terhenti hingga 3 hari karena tanggul jebol. Oke....
Semua masih terasa kalem.

Hingga sorenya, keadaan makin chaos. Air di masjid pun kecil banget. Ramai-ramai beli air galon BUAT MCK. 
Ke-greget-an pun dimulai.
Besok paginya, masih sama. Saya bertekad pergi les. Ya,,,kalau nggak karena ada les, saya mending dari kemarin pulang kampung deh mumpung weekend. Jedarrrrr....ternyata hari itu nggak ada les. Mbak recepsionistnya salah lihat tanggal. Heuheuheuu. Tau gitu kan saya pulang mba, ngapain di sini.
Oke karena sudah terlanjur di situ, ya cari tempat asik dulu (sambil cari air). Jalan ke city walk. Alamak kepagian, baru J.co yang buka. Duduk di j.co sambil mikir. "Sampai kapan aku mau bertahan pakai air galon, apa aku nginep hotel aja,,,atau pulang." 

Entah ya, yang mendesak di pikiranku cuma pulang, ya,,pulang saja. Keinginan kuat, dengan alasan yang lemah. Saat saya punya keinginan kuat, meskipun alasannya lemah,,,biasanya akan saya turuti. Di balik itu pasti ada hikmah. 
Beli tiket dari hape, bayar tiket dari hape. 
Satu lagi fakta, citywalk pun nggak ada air. Makin yakin harus pulang.

Siang itu, dalam fisik yang agak lemes dan belum mandi,,,wkkwk...saya pulang le kos, beres-beres, pamitan, naik angkot 2x, naik elf, naik angkot, naik krL Bekasi-Gondangdia, ojek - touchdown Gambir.
Ini pertama kalinya saya naik kereta dari Gambir sodara-sodaraaaa. Dan ini adalah kepulanganku paling mahal. Singkat cerita, senin pagi saya harus balik lagi ke Jakarta. Naik kereta yang sama. Argo sindoro eksekutif. 
Yoi,,,nggak pernah tuh pulang pergi naik eksekutif,,trus nyambung taxi sampe office. Edunnn ngga?

"Kadang sebuah pelajaran, pengalaman, hikmah, dan pelunasan rasa rindu memang harus dibayar dengan materi yang nggak sedikit serta tenaga yang nggak ringan."

Bisa kumpul dengan keluarga, dapat nasihat tentang pergaulan selama perjalanan di kereta, disadarkan lagi bahwa sebagai wanita saya harus menjaga kehormatan dan mejaga jarak dengan yang belum halal, juga tentang pakaian saya yang kurang longgar meskipun sudah saya anggap longgar. Ada lagi nih...nekat manjat pagar stasiun, mandi tengah malam, dan masih banyak lagi hal yang saya rasakan selama kepulangan sebentar kemarin itu. Bahkan jadi sempet urus BPJS untuk keluarga. 

Bagiku, pulang bukan hanya ketemu kedua orang tua, tapi keluarga besar. Bukan hanya merasakan hawa rumah, tapi juga alam yang indah bagaikan di resort mewah. Sesuatu yang belum tentu dapat dirasakan orang lain. 

Serampangan
Apakah hidupku masih serampangan (nggak jelas)? Saya rasa tidak. Beranjak normal lagi dengan adanya air, cucian yang nggak numpuk, dan BERAT BADAN yang naik. Alhamdulillah. Materi bisa dicari lagi. Dan nggak perlu menyesali yang sudah dinikmati. Memang uang-uang itu lebih gede daripada kalau misal beli galon atau nginep di hotel, tapi ya itu tadi. Pengalaman. 

 




1 comment on "Uripku Greget"
  1. semoga bisa diambil hikmahnya ya, pengalaman krisisi air ini

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature