Sebuah Gelar

December 01, 2014
"Mba' akhir-akhir ini saya ngerasa jadi kapitalis deh"
"Hah? Kenapa gitu Rul?"
"Cara pandang saya kepada orang lain tuh udah nggak berdasar titel di belakang nama. Ya nggak sih? Coba..kapan kamu terakhir nulis nama kamu pakai gelar? Se'wah' apapun predikat akademik koleg a kita,,mana kita peduli..beda kan kita jaman masih kuliah,,hahaha..inget nggak pas si mr.Sxxxxx yang gelarnya geeelaaa,,bisa dibilang ilmuwan Jerman lah. Beliau low profile banget, diskusi sama kita juga nyambung-nyambung aja. Dan kita..dengan santainya ngajak makan siang di kantin..hahahah"
"Iya Rul, karena kita di jalur profesional, di industri, coba di dunia akademik. Pasti kesorot banget tuh titel. Yang penting kan pola pikir, bisa nggak nganalisa. Gitu kan.."

Bukannya mau bilang titel tuh nggak penting ya. Cuma mau kasih gambaran aja, salah satu bedanya dunia industri dan akademik. Di Industri, makin experience seseorang maka penghargaanya akan lebih tinggi. Karena kebanyakan ilmunya adalah learning by doing. Kalau basicnya sudah kuat, masa nggak kepake sih? Kepake kalau pas bidang kerjaan kamu itu nyambung dengan major pas kuliah. 

Beda dengan dunia akademik, kalau kamu mau jadi dosen misalnya,,ya harus banget ngerti sedetil-detilnya ilmu yang akan diajarkan nanti. 

Back to basic "tuntutlah ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat" ilmu itu ada dimana-mana. Open minded adalah salah satu kuncinya. "Allah menunjukan tanda-tanda kekuasaanya bagi manusia yang berfikir."




Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature