Pemuda Tanpa Nama

February 18, 2015
Di sebuah peron stasiun, saat maghrib datang. Tampak olehku seorang pemuda yang sama-sama sedang menunggu kereta sepertiku.
Ternyata kami menunggu kereta yang sama. 
Saat kereta datang..kami naik lewat pintu gerbong yang sama. Karena penuh sekali..di dalam kereta ekonomi lokal aku tak dapat menemukan si pemuda berwajah Asia itu lagi.

Di kota B, kota tujuan pertamaku.
Setelah melakukan berbagai hal di stasiun, aku keluar mencari pengisi perut. Ada banyak sekali warung tenda, dan.....diantara beratus kemungkinan bisa ketemu lagi,,,,si pemuda tanpa nama yang saya perhatikan sejak di peron stasiun kota A ada di sana dengan sepiring nasi goreng.
Secara kebetulan lagi, kami membayar di waktu yang hampir sama dan beriringan keluar warung tenda. Aku berjalan masuk lagi ke stasiun menunggu kereta yang mengantarkan ke kota tujuan akhirku. Dan.....si pemuda tanpa nama ternyata juga ada di ruang tunggu tepat di kursi depanku. 
       

Aku masih tak tahu apa yang ada di benaknya di depan hal yang sama-sama kami pandang di stasiun. 

Tak penting kuceritakan apa yang terjadi dalam diriku pada lapis shadrun, qalbu, fuad, syaqaf, lubbun, hingga sirrun. Tapi, lapis terluar qasrun dalam diriku barangkali menampakkan kekagetan. Dan, tampaknya pemuda itu menangkap kekagetanku. (Rahvayana 2, page 78).

Biarlah alam yang mengatur. Bila esok kami bertemu lagi. Realitanya sekarang berpisah di sini. Dia dengan kereta ekspresnya ke Cirebon. Kereta yang datang bersamaan dengan kembang api imlek meletupkan mahkotanya di langit seberang stasiun. 


Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature