Notification Paranoia

September 23, 2015
Notification sound seperti Ping ! tung ! lineee ! Sering banget mendistraksi fokusnya otak kita. Ngerasa? Kadang udah kita mute tuh notif, tapi pas ngelihat ada buletan merah berisi angka tanda jumlah notif yang masuk...hemm bawaanya pengen buka. 
notification paranoia, gadget, tips, tech, smartphone
Di tengah dunia digital seperti sekarang, adalah challenge buat kita yang sedari kecil sudah terpapar kemudahan via internet. Mungkin generasi 70-80an masih bisa tuh nunda kalau denger notif, kami mah apaaa atuh. Kadang malah sambil berkendara refleks aja buka smartphone. 
Menurut artikel yang saya baca di majalah gogirl! Fear of missing out (Fomo) is one of our character yang harus bisa dimanage. Kalau diturutin, 24 jam nggak akan cukup buat scroll up scroll down instagram, watsap, line, bbm, twitter, path. Iya kan? So set our time and priority right. Ada waktunya ngobrol sama sekitar. Ini pernah juga saya post, tentang gimana usaha saya menurunkan intensitas perjumpaan dengan socmed hahaha. So far berhasil. Nggak harus buka path tiap hari (karena jujur bikin iri, path kan socmed buat pamer hahhaah). Nggak tiap hari update instagram, paling kalau punya foto bagus aja. Ini yang penting nggak semua chat di grup harus dibalas, nggak selalu chat personal harus dibalas langsung. 
Minjem kata-katanya gogirl magz "seriously, our world won't crashed down cuma karena telat liat update-an orang. Being rational dalam menggunakan gadget juga bikin kita lebih santai dan nggak paranoid sama notification. 

-Pekalongan, kursi kayu..malam takbiran

4 comments on "Notification Paranoia"
  1. Bener banget ini. Masyarakat sekarang udah semakin ketergantungan sama teknologi. Komunikasi yang dimudahin lewat socmed justru munculin masalah baru: banjir update hehe.

    Kalo ngga pinter2 ngakalin prioritas mana yang mesti dilihat, kayaknya bener tuh, ngeliat linimasa semua socmed ngga akan selesai sehari penuh. Belom lagi efek lain yang ditimbulin dari ngeliat socmed: kalo ngga stabil emosi, bisa timbul iri, depresi, dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 'Nggak stabil emosi' hahahha iya iya paham maksudnya. Niatnya nyari tahu malah sakit hati gitu ya :-)

      Delete
  2. Mungkin salah satu keuntungan belum butuh hape itu bebas merdeka ya, nggak tergantung oleh benda kecil mungil itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. seriusan mba? ah mungkin karena di LN mah lbh sering pakai email ya komunikasinya

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature