Mencari durian lolong

March 31, 2016
Durian lolong, lolong pekalongan, durian

Durian itu habis dilahap anak perempuan berusia 10 tahun diiringi suara hujan. 
“kamu seneng ngga jadi anak tunggal?”
“seneng..”
“nggak mau punya adik?”
“nggak ah” 
Jalanan desa basah dan kabut memenuhi segenap jarak pandang sore itu. Anak perempuan tadi menggenggam sejumlah uang yang didapat dari
menang lomba. Rencananya uang itu mau ia belikan jaket. Iya, bayangan jaket warna pink sudah melayang-layang di pelupuk mata anak itu. 

“mau pulang sekarang?” tanya seorang pria 
“iya..mau pulang..mau lanjut beli jaket sih” jawab anak itu
“yaudah..hati-hati ya..udah kenyang kan, makan durennya?”
“Iya..makasih ya...”.

Malam turun, si anak sudah berada di kota dan memilah-milah jaket. Matanya tiba-tiba menerawang dan ekspresinya berubah tak seantusias sebelumnya. 

“jam berapa ini? aku kemalaman”

Tahun 1999 di desa itu belum ada yang meiliki perangkat handphone. Telepon umum hanya tersedia di kecamatan. Bisa dibilang, pola-pola kehidupan masih sangat kental jiwa sosial. 10 orang lelaki dewasa bersiap dengan motor masing-masing menembus kabut malam yang semakin pekat.

“jadi mau kemana kita cari?”
“tadi dia itu pamitnya mau cari duren lolong, coba 2 motor kesana,,cari sampai dapat. Motor yang lain berpencar ke pintu masuk kecamatan dari arah timur dan barat” kata pemimpin rombongan.

Di dalam sebuah rumah, seorang wanita menangis dan tidak tahu harus berbuat apa. 

Kegemparan terjadi di desa itu, seorang anak perempuan pergi sejak siang dan belum kembali. Semua itu tidak akan terjadi jika kemajuan zaman telah membawa sinyal dan perangkat handphone ke desa itu pada tahun 1999. 

Jelang tengah malam, si anak hilang sedang menyantap cap cay nya dengan santai.

“kamu itu kalau pergi ingat waktu..kalau begini kan nyusahin orang sekampung” wanita yang sedari tadi menangis akhirnya angkat bicara.

“kalau mau duren, bilang aja,,ngapain jauh-jauh,,musimnya lagi musim hujan pula,,di sana itu rawan longsor,,bapak udah mikir macam-macam tadi,,astaghfirullah”

15 tahun kemudian
“kamu kemana saja seharian sih?”
“Tadi ada acara blogger di Jakarta, terus mampir dulu ketemu temen”
“sendirian lagi?”
“iya..Pak, wes biasa, aku rapopo”

Kejadian masa kecil itu tak menyurutkan saya untuk membolang kemana-mana. Saya suka banget eksplore daerah-daerah baru, dan seringnya ngga ada kawan jalan juga berani sendirian. Itulah yang membuat kedua orang tua saya berani melepas si anak hilang ini kuliah nun jauh di Bogor tanpa sanak saudara di wilayah Jabodetabek. Selesai kuliah, si anak diberi kebebasan untuk kerja dimanapun. 

Cara primitive Mencari Orang Hilang
Terima kasih teknologi komunikasi yang sudah maju seperti sekarang ini. jarak tidak lagi jadi soal untuk berkabar berita.

Bisa dikatakan, itulah pengalaman masa kecil saya yang tak terlupakan. Dicari orang ramai-ramai karena dianggap hilang. Masih mending dicarinya nggak pakai nabuh bebunyian seperti piring dan tutup panci. Di desa saya, jika ada orang hilang maka akan dicari dengan menabuh piring sambil memanggil namanya keliling hutan di seberang kampung. Terasa primitive memang, untungnya itu hanya terjadi sampai awal 2000an. Warga desa beranggapan orang yang hilang bisa saja dibawa makhluk halus, apalgi jika itu anak-anak.

Jaman sekarang, kalau ada anak hilang yang kebayang pasti penculikan karena teman kenalan di social media atau kejahatan pedofilia. Menyeramkan mana, diculik pedofil atau disembunyikan makhluk halus?

Demi Durian Lolong
Tahun 1999 Lolong belum menjadi desa wisata, namun tersohornya si duren lolong sudah terdengar sampai desaku. Lolong adalah sebuah desa di sebelah timur Kajen ibukota kabupaten Pekalongan. Saat ini, setiap musim durian ada festival yang menyedot ribuan pengunjung. Bukan hanya itu, pengembangan wisata nya juga maju pesat.

Menurut informasi dari saudara yang 15 tahun lalu saya singgahi rumahnya dan berakibat saya dikira hilang itu, sata ini Lolong lebih maju. River tubing adalah andalan wisatanya selain durian. Jembatan setengah lingkaran yang dulu saya lewat sore-sore itu di bagian bawahnya memang mengalir sungai yang sangat deras. Banyak penduduk menjajakan olahan pakis sebagai kuliner khas desa Lolong.

Pengalaman pernah dianggap hilang ini membuat saya sata ini cukup rajin menhabari ke rumah. Meski sudah hampir 10 tahun merantau, tetap saja pasti ada kabar meksi via sms. Sebisa mungkin nelpon tiap malam agar orang tua tidak khawatir di desa sana.

Apa pengalaman masa kecilmu yang tak terlupakan?

24 comments on "Mencari durian lolong"
  1. Hehe..ternyata kecil-kecil pemerani juga kau dek Nay *saiki manggilnya dek wae lah :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo mbak..dedek emesh nih hehe

      Delete
  2. Mbolang sejak kecil.. radar alam membantu bgt ya. Oya durian lolong itu pohon besar tinggi apa cangkokan mba kayak durian medan itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada yang cangkokan ada yang alami mba..

      Delete
  3. Ni anak sama deh kayak akyu, dulu aku juga suka ngebolang dewean, akuh setrong hahaaa
    E itu cara nyari anak ilangnya beneran masi berlaku...nabuh piring, wah..tapi bukan yg pecah belah kan?

    ReplyDelete
  4. emm jadi ini cerita masa kecil.
    cara nyarinya kayak gitu ya dulu, kalo sekarang mah udah beda. durian lolong hemm soal duren gak doyan.
    mendingan dibawa mahluk halus lah, mahluk halus gak mungkin melakukan pedofilia. hehee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali kali coba duren deh...dikiit aja..hahah

      Delete
  5. Wow ini perjuangan untuk mendapatkan duriannya sangat seru dan menantang sekali mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk makanya jadi pengalaman tak terlupakan

      Delete
  6. Orang2 pada khawatir dy malah nyantai makan capcai
    Capcai deh
    Durian lolong ada durinya juga engga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga ada kak. Karena makannya udah dikupas hahahha

      Delete
  7. hmmm nggak suka durian saya mah kak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau duren dikeju in doyang g Nin?

      Delete
  8. Kalo dalam bahasa sunda Lolong = Tidak bisa melihat / buta. tapi ternyata disitu Lolong adalah sebuah desa di kabupaten Pekalongan, seru perjalanannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah baru tahu aku soal arti dalam bahasa sunda itu.

      Delete
  9. astaga kamu dari kecil badung bangat yach hehehe.. kayak gue nga aja dech. ajak-ajak dong kalau jalan sendirian, hehehe dikata rumah kita deketan gitu yach? sudah lama sich dengar durian lolong tapi belum pernah tau rasanya kayak apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yey...sama badungnya yak kita wkwkwk

      Delete
  10. Iya mbak. Bagaimanapun juga memberikan kabar adalah sesuatu yang penting biar orang tua juga tidak khawatir.

    ReplyDelete
  11. Renang di sekolah Bina Griya yg waktu itu lagi banjir n nangkepi ikan sepat disana. Pulangnya diajar karo ibuku wkwkwkwkkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huwaa...hahhaa..mba Lusi ternyata

      Delete
  12. Bwahaha...gak kebayang kalau orang sekampung samapi ikut nyari keliling anak hilang sambil menabuh piring..oya, di desaku dulu juga gitu, Mbak, kalau ada yang hilang dikirang disembunyiian sama makhluk halus :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature