[Book Review] The Geography Of Faith, Pencarian Tuhan di Tempat-Tempat Paling Religius di Dunia dari Tibet Sampai Yerusalem

March 17, 2017
Buku The Geography Of Faith yang punya judul asli Man Who Seeks God: my flirtation with the divine tidak cocok untuk kamu yang sensitif terhadap perbedaan pandangan soal keyakinan. Bahkan sebaiknya kamu tidak melanjutkan membaca review buku ini, khawatirnya malah jadi pengen marah dan emosi kepada saya dan penulisnya. Saya memandang perbedaan sebagai hal biasa, tidak perlu memaksa untuk menjadi sama. Yang memecah belah bukan perbedaan, tapi pemaksaan kehendak untuk menyamakan. Dari buku karya Eric Weiner ini saya belajar tentang berbagai keyakinan yang ada di dunia. Inilah yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pengertian dan toleransi. Memahami tentang apa yang umat lain lakukan tanpa harus meyakininya.
the geography of faith

Identitas Buku


Judul: The Geography Of Faith
Penulis: Eric Weiner
ISBN: 6024020406
Penerbit: Qanita
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: 500
Genre: filsafat/ agama

Sinopsis (Back Cover)

“Sudahkah kau menemukan Tuhanmu?”

Terpaku oleh pertanyaan seorang suster ketika dirinya terbaring lemah di rumah sakit membuat hari-hari Weiner penuh dengan kegelisahan. Ditambah lagi, Sonya, anak perempuannya yang berusia lima tahun, sudah mulai bertanya-tanya tentang Tuhan. Semua ini memaksa Weiner untuk segera melakukan pencarian Tuhannya.

Weiner bergerak dan terus bergerak. Ia berputar bersama para Sufi di Turki, lalu bermeditasi di Tibet bersama Dalai Lama. Bertolak ke Cina, Weiner melatih chi-nya bersama para Tao. Tak mau ketinggalan, ia turut bersenang-senang bersama para Raƫlian di Las Vegas, dan, pada akhirnya, kembali merenungi jati dirinya sebagai seorang Yahudi di Yerusalem.

Buku ini mengajak pembaca berpikir: dari mana manusia berasal? Apa yang akan terjadi ketika kita sudah mati? Ketika pertanyaan-pertanyaan spiritual banyak muncul pada zaman modern ini, The Geography of Faith menyajikan perspektif tentang agama dengan gaya yang asyik, menghibur, dan menginspirasi.


Review

Secara tidak sengaja saya menemukan buku ini di rak Gramedia sederet dengan buku-buku Cak Nun. Buku-buku karya Eric Weiner lain seperti The Geography of Bliss dan The Geography of Genius sudah saya baca. Menarik banget saat melihat judul the geography of faith, Pencarian Tuhan di Tempat-Tempat Paling Religius di Dunia dari Tibet Sampai Yerusalem. Eric Weiner menjelajah kemana-mana dengan riset mendalam untuk menulis bukunya. Seperti di buku-buku sebelumnya, selalu ada pengetahuan baru yang menarik di dalamnya. Bagaimana dengan pencarian tentang tuhan ini?


1| Sufisme

Eric pergi ke Turki, tepatnya ke tempat dimana sufisme lahir. Mengunjungi makam Rumi dan bertemu dengan penganut sufisme. Saya muslim, tapi baru tahu soal kedalaman sufi di buku ini. setidaknya saya jadi tahu, bagaimana sudut pandang Islam dari luar. Inilah beberapa kutipan di dalamnya.

Islam adalah agama perdamaian dan keindahan, atau perang dan intoleransi, tergantung siapa yang ditanya (hlm. 38)
Kalau kesedihan, kita bisa merasakannya, memprosesnya, dan melupakannya. Sedangkan depresi adalah kesedihan yang terhambat (hlm. 51)
Aku akan mati, itu fakta. Yang membuatku agak tenang, aku tidak tahu kapan persisnya atau bagaimana caranya (hlm. 54)
Aku punya masalah dengan berserah diri. Kedengarannya seperti mengalah, sangat dekat dnegan takluk. Bagiku, berserah diri adalah bentuk kegagalan (hlm. 64)
Terlihatlah seperti yang terjadi atau jadilah seperti yang terlihat (hlm. 71)
Sufisme menganggap Tuhan adalah cinta. Saya pribadi masih jauh lah dari tingkatan sufi, kesenggol dikit saja marah.

2| Budhisme

Selama ini saya melihat penganut budha adalah orang-orang yang tenang. Mereka bisa mengendalikan emosi dan penuh kaish sayang. Mengapa begitu ya? Eric belajar tentang meditasi dan pengendalian benak. Berikut ini adalah beberapa hal yang menarik.
Tetap berada dalam tubuh, bukan untuk menilai, untuk memisahkan sensasi dari pengalaman.
Inilah yang penganut budhisme lakukan saat menghadapi sesuatu di luar ekpektasi. Marah, sedih, kesal bisa mereka redam dengan cara diam sejenak. Misalnya saat digigit nyamuk, ada jeda sepersekian detik untuk kita berpikir apakah gigitan ini menimbulkan rasa gatal yang menyebalkan atau hanya sensasi sedikit gatal.
Dengan menyadari kita semua satu tubuh, kita akan menolong tanpa berpikir lagi. Bahkan tanpa menganggapnya menolong.
Cinta tanpa kebijaksanaan tidaklah efektif dan sedikit banyak hanya mementingkan diri sendiri.
Selain belajar mengenai teknik meditasi, Eric juga menceritakan pengalaman pencariannya soal budhisme.
budhisme

3| Fransiskan

Saya masih asing dengan aliran fransiskan. Oh ternyata ini bagian dari katolik, dimana penganutnya benar-benar menjauhkan diri dari keduniawian. Ya, seperti sufisme kalau di agama Islam. Apa di Indonesia ada? Bisa jadi. Eric mengunjungi sebuah rumah penampungan dimana disana para pendetanya adalah Fransiskan. Inilah kutipan yang menurut saya menarik di bagian ini.
Hidup sederhana bukanlah tidak punya apa-apa, tetapi tidak dikuasai oleh harta benda.
Katakanlah sesuatu Tuhan. Ucapkanlah terima kasih karena sesuatu. Mintalah ampunan untuk sesuatu. Mintalah sesuatu yang kau inginkan, mengingat Tuhan lebih tahu daripada dirimu apakah kau memerlukannya atau tidak.
Mereka tahu cara berbaur. Mereka tahu cara menatap mata orang lain tanpa diam-diam menilai skor sosial mereka.

4| Raelisme

Asli saya terpana ketika membaca bagian Raelisme ini. Ada tho agama yang secara khusus membahas Ufo? Mungkin tanpa sadar kita sering meyakini juga soal alien dan Ufo, tapi ya nggak sampai menuhankan. Tuhan mereka adalah elohim, dengan Rael sebagai rasul. Menurut Raelisme, hal-hal penuh mukjizat yang ada di kitab suci seperti terbelahnya laut merah dan bahtera nabi Nuh bisa dijelaskan dengan konsep sains. Masih ingat dengan kisah nabi Musa yang membelah laut? Itu bisa terjadi dengan bantuan sinar elektromagnet apalah gitu. Dan mengenai bahtera nabi Nuh, itu sebenarnya adalah pesawat canggih.

Bagi saya yang suka sains fiction, hal-hal tersebut masuk akal banget. Tapi apa iya perlu diyakini? Kembali ke hati maisng-masing.

5| Taoisme

Saya pikir Taoisme itu sama dengan Budhisme, eh ternyata beda...meski memang mirip. Taoisme selalu diasosiasikan dengan Taichi, gerakan-gerakan untuk menenangkan jiwa. Eric Weiner ke sebuah pegunungan di Cina untuk mempelajarinya langsung.
Seni menjadi bijaksana adalah seni mengetahui apa yang harus diabaikan.
Jika aku ingin semuanya cepat selesai, akan muncul pertanyaan meggelisahkan: untuk apa hidup kalau begitu?
Kita menghabiskan energi dengan ketidakpastian

6| Wicca

Penggemar Harry Potter harus baca bagian ini, yeah. Wicca adalah agama soal sihir dan penyihir. Di luar negeri, penyihir itu memang ada. Tapi dalam kehidupan sehari-hari ya mereka seperti orang biasa. Yang sudah nonton Harry Potter pasti paham deh.

7| Syamanisme

Nggak banyak yang saya pahami dari agama syamanisme. Konon ini adalah kepercayaan yang sudah lama banget ada di bumi. Pengikut syamanisme percaya dengan banyak sekali dewa. Oiya, ketika menuliskan ini saya sempat brwosing dan menemukan informais bahwa syamanisme banyak dianut di Korea. Oiya, menurut Eric Weiner syamanisme tidak bisa disebut sebagai agama sih. ini adalah ritual-ritual yang diajarkan turun temurun.


8| Kabalah

Jujur ya, selama ini kalau mendengar kata ‘yahudi’ agak anu banget. Lewat penuturan Eric Weiner, saya jadi lebih paham sih mengapa yahudi begini dan begitu. Kabalah adalah aliran dalam yahudi yang masih memegang teguh kitabnya. Kabalah meyakini beberapa hal seperti ini:
Ada banyak cara menerima. Kita bisa menerima sambil menggerutu, menghina, bahkan menerima dengan agresif. Atau menerima dengan cinta.
Dunia adalah proyek renovasi besar-besaran.

Buku Menarik

Overall, saya menikmati saat membaca buku ini. Bayangkan saja, bacaan berat 500 halaman lho. Bukannya jadi goyah iman, saya merasa malah jadi lebih ingat Tuhan. Seperti niat di awal, mengetahui lebih banyak soal keyakinan agama lain agar bisa lebih toleran.


Rate

4 dari 5 bintang.


Memilih keimanan adalah ujian keimanan. Mengatakan bahwa kita mengenal Tuhan karena kita beragama tak ada bedanya dengan mengatakan kita makan enak hanya karena melihat buku menunya.
34 comments on "[Book Review] The Geography Of Faith, Pencarian Tuhan di Tempat-Tempat Paling Religius di Dunia dari Tibet Sampai Yerusalem"
  1. jadi pengen ke gramed lihat2 bukunya Eric Weiner, judul2nya menarik. tq for the review.

    ReplyDelete
  2. "Yang memecah belah bukan perbedaan, tapi pemaksaan kehendak untuk menyamakan."<<bener banget ini :)

    ReplyDelete
  3. kangen baca2 review bukumu lho nay :)

    ReplyDelete
  4. bener juga, sih. Yang sering menjadi konflik adalah memaksakan kehendak. Makanya saya sering menghindari perdebatan terutama bila di dunia maya meskipun dalam hati merasa benar

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah mba, semoga kita bs tetap menahan diri

      Delete
  5. jadi ingat ancient alien di history tv mbak. menurut acara itu hewan yang dibawa Nabi Nuh adalah dalam bentuk bank DNA. bahteranya adalah perumpamaan tempat penyimpanannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah itu paham realisme banget ya hihii

      Delete
  6. Kalo buat aku kayaknya bukunya emang 'berat' nih tapi penasaran pengen baca juga biar nambah ilmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya pas mau baca kerasa audh berapa bulan bakal abis, ternyata penasaran terus cepet kelar

      Delete
  7. Kutipan ini seharusnya lebih ditelaah lagi " Bagiku, berserah diri adalah bentuk kegagalan ", mungkin perlu diskusi agar lebih menemukan jawaban yang tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tanpa kita sadari emang gitu lho ahahah

      Delete
  8. Jadi tau tentang macam2 agama dan kepercayaan di dunia ini ya

    ReplyDelete
  9. reviewmu ini bikin aku ngerti aliran2 agama. Beda kali ya baca bukunya langsung, kayae agak2 berat

    ReplyDelete
    Replies
    1. berat mba, tapi bikin penasaran

      Delete
  10. Pertanyaan paling mendasar kebanyakan orang yang masih mencari Tuhan itu rata-rata sama ya. "Kita dari mana? Apa tujuan kita hidup?" Aku liat di youtube pun gitu ketika acara diskusi dengan Zakir Naik misalnya. Orang-orang pada kebingungan mencari jawabannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya begitulah...mba Umi, apalagi yang pondasinya ngga kuat

      Delete
  11. Kalau iman sudah kuat, nggak masalah mau baca apapun. Malah memperkaya ilmu :)

    ReplyDelete
  12. Kalau kesedihan, kita bisa merasakannya, memprosesnya, dan melupakannya. Sedangkan depresi adalah kesedihan yang terhambat (hlm. 51)

    wah kata2 ini kok begitu dalam ya..
    saya jadi speechless..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha smeoga ngga lagi depresi ya

      Delete
  13. Penasaran ingin menggali Ilmu nih ...........
    Jadi Ingin Baca habis Dapat review, Biar komplit

    ReplyDelete
  14. Jadi pengen cari bukunya hehe, biar lebih tau dan lebih bisa toleransi hehe

    ReplyDelete
  15. Aaaaak... menarik bamget sepertinya ya... catet nama penulisnya, masukin wishlist aaah... hehe

    ReplyDelete
  16. Love this book! Life is indeed a journey, termasuk pencarian Sang Maha Segala :)

    ReplyDelete
  17. Tom Cruise itu salah satu penganut Realisme, dia kristian tapi realism, dan kalau nggak salah jadi salah satu pemicu cerainya dia sama Katie Holmes :)
    Buatku sih, nggak harus selalu sama dalam menyikapi sesuatu meski kita berasal dari satu kesamaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah gitu ya, menarik ya mba kalau tahu dibalik seorang tokoh ternyata punya kepercayaan yang ga biasa. ah jadi kepo aku wkwkkw

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature