[Review Buku] Critical Eleven by Ika Natassa

March 24, 2017
Cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan hubungan sesuci pernikahan. Lalu perlu apa? uang? Fasilitas? Lalu saya ditimpuk para pria dan dilabeli cewek matre, hehehe. Kepercayaan adalah jawabannya, ya...terkesan klise memang. Tapi, saya sangat percaya Critical Eleven yang ditulis Ika Natassa ini. Beberapa bagianpun memang pernah ditemui dalam kehidupan nyata meski saya belum menikah seperti Anya dan Ale si tokoh utama. Ini bukan novel tentang perselingkuhan kok, ada lho hal lain yang bisa merusak kepercayaan dalam hubungan. Ikatan cinta yang begitu indah dengan kisah romantis nyaris sempurna saja bisa berantakan, bagaimana dengan kisah kita yang biasa saja?
Review novel Critical Eleven Yang ditulis Oleh Ika Natassa


Identitas Buku

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 344
Genre: novel

Sinopsis (back cover)

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


Review

Sudah sangat lama saya tahu soal novel ini. Teasernya melanglang buana di jagad sosial media, proses pembelian saat launchingnya tak kalah drama. Sang penulis yang punya pembaca dan followers loyal membuka PO di socmed dan langsung diburu. Apa yang saya lakukan? Nggak beli. Buat apa? sudah ketebak, gaya tulisan Ika Natassa di Antologi Rasa dan Autumn Once More tidak saya sukai. Mungkin karena jalan ceritanya tidak related dengan kenyataan yang saya hadapi.
Tapi kan, kata orang Critical Eleven dan Architecture of Love bagus banget. Bahkan Critical Eleven mau dijadikan film, serius ngga tertarik?
Suatu hari, saat saya sedang jalan ke toko buku...dua judul tersebut terpampang di rak buku laris. Lho ternyata cetak ulang sodara-sodara. Oke deh, tanpa pikir panjang saya memasukkan critical eleven ke tas belanja.

Alur Cerita
Ini novel yang alurnya sangat mudah dipahami. Tokohnya juga nggak banyak, pun dengan konflik. Nggak yang dramatis banget, tapi perasaan pembaca bisa dibuat super penasaran.

Sudut Pandang
Ika Natassa mengambil sudut pandang dari Anya dan Ale secara bergantian. Enak sih, saya jadi tahu bagaimana seorang lelaki menyikapi sebuah peristiwa. Tentu ini nggak mudah ya pas nulisnya, heheh.

Gaya bahasa
Seperti biasa, Ika Natassa banyak memakai bahasa Inggris di tulisannya. Tenang, bukan bahasa Inggris kayak di artikel ilmiah atau diktat kuliah kok. Masih bisa kita paham tanpa perlu lihat google translate kurasa.

Setting
Kekinian banget, iya setting waktu dan tempatnya masa sekarang...2014. Sepertinya Ika Natassa mengambil posisi nyaman dia, pengen deh baca novel Ika Natassa ulis dengan setting pada sebuah desa di tahun 80an misal hhaaha.

Related to me
Si tokoh utama Critical Eleven yaitu Anya dan Ale bertemu di pesawat saat mereka duduk bersebelahan. Eh tapi bukan cuma duduk berdampingan juga, Anya tanpa sengaja nyender di bahu ale karena ketiduran. Seketika membaca ini di bagian awal membuat saya tersenyum malu. Soalnya pernah ngalamin juga kayak gitu. Bedanya adalah kejadian itu bukan di pesawat melainkan di bis, hahhaa. Si pria itu adalah teman saya jaman kuliah. Kalau Anya dan Ale akhirnya pacaran dan menikah, saya dan teman saya itu engga. Tapi paham banget lho sensasinya pas bangun ternyata kepala kita di bahu orang. Malu, kikuk, nggak tahu harus bagaimana...takut juga dia baper. Anya tidur di bahu Ale selama 3 jam...kalau saya mungkin lebih. Bayangkan saja betapa pegelnya si temen itu (semoga dia ngga baca tulisan ini). Oiya, beberapa tahun kemudian setelah kejadian saya ketiduran di bahu teman saya itu...ada hal konyol lagi. Saya ketiduran di perpus dan pas bangun ada si teman saya itu di sana padahal sebelumnya nggak ada siapa-siapa.

Rate

4 dari 5 untuk Critical Eleven. 

Quotes

Itu tanggung jawab seorang laki-laki kan? menjadi kuat untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang bergantung pada dia.
The world is a crazy place and sometimes we needto do whatever we need to do to get by. This is how i get by, no matter how crazy it sounds.
Too much hate in the world already, we need people to show love.
Manusia mencoba menghadapi kehilangan dengan cara berbeda-beda, mustahil menggeneralisasi dengan tahapan apapun, karena cara hati kita beroperasi juga tidak ada yang sama, bahkan jika kita terlahir dari rahim yang sama.
Banyak hal di dunia ini menjadi semakin mudah jika semakin sering kita lakukan. Namun dalam urusan hati, tidak ada yang pernah jadi lebih mudah karena biasa.
Critical Eleven cocok untuk kamu yang pernah atau sedang kehilangan secara tiba-tiba entah itu buah hati atau kepercayaan dari seseorang yang kamu sayangi. Pun untuk yang sedang bimbang memilih antara menyerah atau berjuang mempertahankan. 
13 comments on "[Review Buku] Critical Eleven by Ika Natassa"
  1. baru baca versi cerpennya di buku auntumn once more dan kurang tertarik baca versi novelnya karena kurang suka gaya bahasanya heuheu...tp penasaran sih sama endingnya

    ReplyDelete
  2. Review buku yang menarik mbak Inna. Begitupun kisah cinta Anya dan Ale yang terkadang kita temukan dalam hidup kita sendiri. Saya pikir yang paling menarik dari sebuah buku memang seperti itu kita dapat melihat hidup kita di dalamnya. Oh ya saya pun pernah tertidur di bahu orang lain dalam perjalanan bus Padang Jakarta bertahun tahun lalu. Keadaan yang membuat kikuk tapi akhirnya Kami akrab. Walau ada percik-percik setelah itu tapi tidak bisa dieksekusi karena dia nya sudah berkeluarga. Malangnya di pihak saya hehehe

    ReplyDelete
  3. Aah... jadi penasaran. saya lagi seneng banget baca2 novel :)

    ReplyDelete
  4. antologi rasa masih favoritku
    yang ini malah nggak suka :)

    ReplyDelete
  5. Aku dah beli bukunya, tapi belum selesai baca. Pertanda apakah ini. Ya, sudah, nanti kuselesaikan. Makasih reviewnya.

    ReplyDelete
  6. Novel ini THE BEST banget deh, yang bisa ngertiin perasaanku. Baca Critical Eleven kayak dejavu, seperti mengulang satu bagian hidupku yang persis kayak Anya. Udah penasaran banget nunggu kek apa filmnya ntar.

    ReplyDelete
  7. Dua sudut pandang co dan ce, penulisnya cewek. Hmmm menurutku jatuhnya sama aja, cuman beda di penokohan aja. Seperti Grey buku Fifty Shades dr sisi Grey, jatuhnya sama aja. Seperti dr sudut pandang cewek *imho

    Daaan, kmrn baca novel ini gegara ada babang Hamish jg ikut main. Padahal bukunya udah kebeli setaunan yg lalu. Etapi kok ada cerita yg bikin nyesek itu. Lg hamil pisan, jd kuskip dulu lah biar gk labil emosiku hahahaha *curcol*

    ReplyDelete
  8. makasih reviewnya, kayaknay perlu punya deh

    ReplyDelete
  9. pernah beli tapi belum baca malah sudah dikasih ke orang. pengen beli lagi sich, penasaran aja karena banyak yang review.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature