Belajar Basic Videografi Cinematic Dari Narasena

September 11, 2018
Kembali membahas videografi, hal yang beberapa bulan ini menghantui aku selain project di kantor. Weekend lalu aku ke workshopnya Narasena buat belajar basic videografi indie. Kenal Narasena ngga? Kalau videografi enthusiast sepertinya sering melihat dia karena ‘se-geng’ dengan Goenrock juga Benny Kadar. Spesialis Narasena itu film Indie, jadi cocok banget buat pemula seperti aku. Oiya kalau kamu tertarik dengan fotografi dan videografi, bisa cek blog sebelah deh www.cinematic.id .
Belajar Basic Videografi Cinematic Dari Narasena

Videografer pemula harus tahu ini dulu


Memori card

Lho kok tahu-tahu memory card? Jujur saja sih selama ini aku abai soal ini. Aku tahu ada yang namanya memori card class 10, tapi sepenting apa sih? ternyata kecepatan penyimpanan sebuah kartu memori itu ngefek banget lho ke hasil video kita. So, kalau ada memory card harganya mahal banget meski kapasistasnya biasa saja…ya jangan heran.

Audio

Pemula kayak aku juga sering mengabaiakn audio. Missal kita mau bikin ada adegan ngomong. Udah aja gitu pakai microfon dari kamera. Padahal, ini nggak OK apalagi kalau posisinya jauh atau di tempat yang noise. Investasilah buat memiliki microfon shotgun yang biasa ditempelkan di kamera. Kalau mau pilihan lain, microfon wireless. Ini malah senyap banget karena Cuma nangkep suara si pemakai.
belajar videografi cinematic basic

FPS (Frame per second)

Kalau yang biasa merekam pakai hape (bukan manual mode) mungkin baru tahu ini. Jadi, jangan lupa untuk mensetting FPS (frame per second) dari kamera. Pas dulu aku baru ganti ke mirrorles, aku nggak pernah utak-atik settingan FPS hahaha. Menurut Narasena, settingan FPS untuk cinema itu 24. Kalau di kamera kamu nggak ada 24, maka yang mendekati yaitu 25. Artinya, ada 25 frame yang terekam dalam 1 detik. Frame itu, bayangkan saja foto.

Kenapa 24 sih? kalau kata Narasena, 24 itu pergerakannya pas dengan gerakan mulut sata bersuara maupun gerakan mata. Sesuaikan pula dengan shutter speed. Nilai shutter speed 2x FPS. Jadi kalau FPS nya 25, maka idealnya shutter speednya 1/50. Kecuali kita ingin motion blur tertentu ya, missal pengen benda benar-benar ngefreeze maka dinaikin lagi. Untuk film 3D seperti avatar, FPS nya lebih dari 24.

Lensa Untuk Video

Ada 3 tipe lensa yang baik untuk video yaitu constant aperture lense, fixed lense, dan cinema lense. Kalau constant aperture lensed dan fixed lense pasti sudah tahu dong karena ini yang biasa dipakai di kamera digital. Tapi kalau cinema lense yang katanya tajam itu, aku baru tahu.
belajar videografi cinematic basic
lensa cinema

“Lensa adalah investasi seumur hidup. Pikirkan benar-benar sebelum membeli agar jika ganti kamera maish bisa dipakai. Belilah barang termahal semampu kamu” - Narasena

Filter ND

Pernah syuting siang hari bolong? Gimana tuh, FPS 2…shutter speed sudah mentok 1/50, masa mau mau naikin ISO nanti noise dong? Pakailah filter ND. Apatuh? Aku pernah jelasin soal filter ND di postingan tutorial membuat efek air seperti kapas.
belajar videografi cinematic basic


Kok ribet sih, kenapa nggak pakai mode auto saja? No, kata Narasena mode auto akan menghasilkan exposure yang nggak kontinyu.

Pra Produksi

Biasakan untuk melihat kejadian sekitar, sesederhana apapun bisa menjadi ide cerita. Tinggal diolah ke dalam 3 aspek yaitu pengenalan, konflik, dan solusi. Jika sudah ada ide, mari kita buat filem cinematic. Ada beberapa hal yang harus kamu persiapkan dalam pra produksi.

Naskah dalam bentuk screenplay

Pernah praktikum membuat naskah drama? Format screenplay itu mirip naskah drama jaman SMP. Tapi lebih lengkap detailnya termasuk wardrobe dll. Kalau dulu bikin naskah manual pakai ms word, nah screenplay ini ada softwarenya. Kalau yang berbayat namanya final draft. Kalau yang gratisan bisa pakai google docs.

Breakdown

Dalam breakdown, naskah dipecah menjadi bentuk yang lebih detail lagi.

Schedule

Nah, kita kumpulkan tuh scene yang sama mana saja …lokasi yang sama mana saja. Nantinya jadi jelas buat kita dalam membuat schedule shooting.

Teman bantu shooting

Ahahha, ini jangan lupa ya. jujur saja sih, aku sendiri masih kesulitan nyari teman untuk bantu shooting. Minimal padahal ada 5 orang lho. Sutradara, Asisten sutradara, Production assistant, DOP yang mengatur kamera dsb, dan art director.

Lokasi, Recce

Recce (dibaca reki) semacam survey tapi detil sifatnya. Nggak hanya tentang adegan ini dilakukan di titk mana ya, tapi juga sejelas sumber listrik dan posisi kamera. Kalau nggak bawa kamera, bisa dicoba dulu pakai hape untuk shoot saat recce.

Alat

Siapkan alatnya di pra produksi, mana yang sudha ada mana yang harus sewa dan lain sebaginya.

Produksi

Saat proses produksi, pesan Narasena sih tetap jaga mood semua orang di lokasi. Pastikan semua sesuai rencana. Ambil gambar secara fokus, nggak ada bocor, audio ok, dan jangan lupa playback minimal 2x setelah cut.

Cara shoot yang baik dan benar

Bagian ini sebaiknya sambil praktek sih, makanya pas workshop juga nggak cuma teori.

Type of shoot

  • Extreme long shoot: pengambilan gambar dari jauh, memperlihatkan kondisi lingkungan
  • Wide shoot: menggambarkankarakter, tapi tidak focus kepada talent. Talent tidak melakukan aksi
  • Full shoot: pengambilan gambar dari kaki hingga atas badan talent. Gerakan talent tidak menggambarkan pesan emosional
  • Medium shoot (two shoot) : kondisi netral. Menggambarkan emosi dan keadaan sekitar. Shoot pinggang ke atas.
  • Knee shoot (American shoot): fungsinya seperti medium shoot, tapi dari lutut.
  • Medium close up:  shoot se-dada, menggambarkan emosional talent
  • Close up: shoot pada bagian wajah untuk menggambarkan emosi talent. Gunakan lensa di atas 50mm agar background kompresi sempit.
  • Big close up: shoot close up tanpa headroom
  • Extreem close up: shoot 1 bagian detik pada wajah
  • Cut in: close up shoot yang berhubungan dengan shoot sebelumnya
  • Cut away: close up shoot yang tidak berhubungan dengan shoot sebelumnya. Tapi nggak harus close up sih. Misalnya shoot kondisi langit sebagai perpindahan scene.

Looking Space

Pernah melihat talent yang terlihat sedih banget dan tertekan? Jangan lupa aspek looking space selain ekspesi si talent. Looking space itu posisi talent di layar. Kalau di depan talent ada bagian yang luas, itu cocok untuk menggambarkan suasan bahagia. Kalau posisi talent mepet ke pinggir layar, itu untuk menggambarkan ekspresi sedih.

Headroom

Ruangan di atas kepala talent. Sebaiknya tidak terlalu sempit juga tidak terlalu lebar. Kontinyuitas denagn shoot sebelumnya harus diperhatikan.

Camera angle

  • Eye level: menggambarkan kondisi netral.
  • High angle: menggambarkan kondisi talent yang lemah.
  • Low angle: menggambarkan kondisi talent powerfull.
  • Dutch angle: menggambarkan kondisi talent strees, psikologis tidak benar.
  • Bird eye view: menggambarkan kondisi sekitar talent yang tidak diketahui olehnya.
  • Over the shoulder: menggambarkan obrolan yang penting.

Camera movement

Keberadaan stabilizer memungkinkan kita untuk melakukan camera movement dengan bebas. Tapi apakah semuanya perlu untuk sebuah film yang cinematic? Sebaiknya sih tidak terlalu banyak camera movement ya, cukup beberapa ini saja.
  1. Tilt : menginformasikan kondisi talent dari atas ke bawah atau sebaliknya.
  2. Pan
  3. Track in/out
  4. Follow: untuk memperjelas ekspersi talent.
  5. Crane up/down: tilt dinamis

Imaginary line

Misalnya kamu mau shoot dari berbagai arah. Ternyata ada aturannya lho, seperti ini patokannya. Tapi aturan ini bisa dilanggar jika shoot berikutnya adalah longshoot atau extrim shoot.
belajar videografi cinematic basic

Screen direction

Mau ganti angle? Patokanya tetap aturan imaginary line. Atau berilah perantara berupa posisi netral 1 shoot.

Basic lighting

Ternyata keberadaan lampu juga dapat menyampaikan pesan lho. Dalam film, ada sisi gelap dan terang nggak sedater sinetron. Patokan ini bisa dipakai untuk peletakan lampu.
belajar videografi cinematic basic lighting

  • Key light: lampu dominan
  • Fill light: bisa menggunakan reflektor, fungsinya untuk memperlembut bayangan.

Intensitas cahaya antara key light dan fill light adalah 2:1.
Jangan letakan lampu di depan talent pas, itu frontal dan tidak berefek cinematic.
Bagaimana jika ingin memanfaatkan cahaya ilahi (baca: matahari)? Gunakan aplikasi semacam sun surveyor untuk mengetahui posisi matahari ya.

Lense movement

Ini termasuk aspek baru sih dalam dunia cinematografi. Yang paling hits adalah vertigo effect atau dolly effect. Kondisi ini untuk menggambarkan kondisi talent yang tertekan.

Pasca produksi

Setelah proses produksi, yang terpenting adalah aspek. Feeling dibanding teknis. Kenali software editing dan shortcut di software tersebut buat mempercepat proses. Jadi ngapaian aja nih? Ada offline editing dan online editing.

Offline editing

  1. Assembly goodshoot
  2. Rough cut
  3. Fine cut

Online editing

  1. Color grading
  2. Efek suara
  3. Efek gambar
  4. Title, credit title, opener, dll.
  5. Rendering sesuai kebutuhan distribusi

Nah seperti itulah kurang lebih proses membuat video cinematic indie yang diajarkan Narasena. Huft, 6 SKS dalam beberapa jam hahaha. Enaknya sih bisa magang ke orang yang udah sering bikin video cinematic kali ya, biar beneran paham step-stepnya. Okay, semoga aku bisa segera mempraktekannya!!! Dan akun youtube aku nggak ada lagi video junk. Standar youtube aku Sam Kolder sih, bisa !!!
12 comments on "Belajar Basic Videografi Cinematic Dari Narasena"
  1. Jadi keinget pas kuliah broadcasting deh. Suka dapat tugas untuk shooting-shooting gitu. :')

    Nice sharing, Innayah. Salam kenal ya!

    Ayo saling mengunjungi blog aku juga. :D

    https://www.misstyameyo.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. wiih asiik, aku pengen tu kuliah broadcasting

      Delete
  2. Nay tak berminat resign lalu mantap jalani cineatic ini, aku seneng kalau ada orang suka lalu dia belajar lebih dan sharing gini...berkah ilmunya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk saat ini masih harus belajar banyak Mir

      Delete
  3. Thankyou sharing ilmunya. Saya juga sering bikin video, ya semacam filem indie, dokumentasi pernikahan, dll ... terimakasih ilmunya (sekali lagi) hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bermanfaat ya, aku tulis biar nggak lupa

      Delete
  4. Informasi yang menarik terutama bagi peminat video. Terima kasih sharingnya.Btw cinema lense (lwns?) contohnya apa ya? Gapapa kan sebut merk...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi coba digugling kak. kemarin nggak bahas merek tertentu sih

      Delete
  5. Njir, ribet juga yaa ... Jadi berkurang deh motivasi buat bikin vlog. Hiks

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature