Top Social

Review Proof of Heaven

December 27, 2013

Near death experience (NDE) atau yang akrab disebut mati suri sebelumnya hanyalah hal spiritualis. Tapi jika NED dialami seorang ilmuwan, dokter ahli bedah syaraf, tentu akan berbeda. 
Judul: Proof of Heaven
Author: Eben Alexander, M.D.
Originally published by Simon & Schuster, Inc.
Penerbit: Bentang Pustaka

Sebagai seorang ahli bedah, Eben Alexander belajar untuk lebih memercayai dunia medis dengan segala rasionalitasnya. Meskipun sering berhadapan dengan hidup-mati seseorang, Eben selalu abai ketika para pasiennya yang selamat, menceritakan "petualangan" mereka ke alam baka. Sama seperti dokter dan ilmuwan yang lainnya, ia memilih percaya bahwa petualangan itu hanya khayalan belaka. Hingga pada suatu malam, hidup Eben tiba-tiba berubah. Otaknya, bagian paling luar biasa dari tubuh manusia terserang penyakit yang paling mematikan. Bagian otak yang bertugas untuk berpikir dan mengatur emosi, kehilangan fungsinya. Eben mengalami koma selama 7 hari. Dan dalam 7 hari tersebut, Eben memulai petualangan luar biasa di alam baka. Petualangan yang memutarbalikkan kepercayaanya terhadap ilmu medis dan menyeretnya kembali ke berbagai ingatan masa lalu. 
Buku yang masuk genre non fiksi inspirasi ini habis saya baca hanya dalam beberapa jam. Dan selama membaca itu saya tertidur, dan "ereup-ereup" mimpi atau apalah namanya dimana badan susah digerakan. Haha..saya terbawa bacaan saya. Penulisnya, Eben Alexander, M.D. merupakan ahli bedah saraf profesional selama 25 tahun terakhir, termasuk 15 tahun pengalamannya di Brigham & women's and the Children's Hospital dan Harvard Medical School di Boston. Buku ini sesuai dengan keterangan di sampulnya "kontroversial tentang akhirat & Tuhan".
Saya sebenarnya tidak suka baca buku terjemahan, kadang kalimatnya jadi "aneh" dan kurang merasuk. Meski agak tertatih, saya bisa faham buku ini dan saya beri 4 dari 5 bintang. Pantas saja jika Proof of Heaven jadi #1 New York Times Bestseller. 
Konsep akhirat dan Tuhan sudah kuyakini melalui agamaku. Dan meski tidak menyebutkan nama agama, di buku ini penulis sedikit menyinggung dengan kutipan berikut ini. 
"Aku menyadari bahwa keseganan beberapa agama untuk menamai Tuhan atau menggambarkan para nabi memiliki ketepatan intuitif karena realitas Tuhan sebenarnya sangat melampaui upaya manusia dalam menggambarkan Tuhan dengan kata-kata atau lukisan selagi berada di bumi ini". 
Intinya, Tuhan..akhirat..hidup sesudah mati, kasih tak bersyarat, itu jelas adanya. Di penghujung buku ini Eben menulis "berkomunikasi dengan Tuhan adalah pengalaman paling luar biasa yang dapat dibayangkan, tetapi pada saat yang bersamaan itu metode paling alami karena Tuhan hadir di dalam diri kita setiap saat. Mahatahu, mahakuasa, pribadi, mengasihi tanpa syarat. Kita terhubung menjadi satu melalui pertautan surgawi kita dengan Tuhan".

Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

December 22, 2013

Berderai air mata, dialog panjang para tokoh dengan tutur bahasa khas karya sastra lama. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk diangkat dari novel dengan judul sama yang ditulis Buya Hamka pada 1938. Novel ini bacaan wajib di SMA saya pada pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya sudah meresensinya waktu SMA, cukup mendalam isinya. Kisah perjuangan seorang yang terjatuh lalu bangkit lalu terjatuh lagi dan terjerembab. Terusir dari kampungnya dan tak diakui karena masalah adat istiadat serta kemiskinan. Cinta Zainudin ke Hayati terpangkas karena wanita itu memilih pria lain. Sudahlah terlalu panjang kalau saya ceritakan isinya, hehe. Yaps film ini panjang banget, 2 jam lebih tapi TUNTAS. Bahasa sastra dalam novel yang tak terlalu saya pahami bisa dijelaskan dengan gamblang lewat versi film. 

Pemilihan tokoh sudah pas, kecuali Junot menurut saya. Yang luar biasa dari film ini adalah kualitas gambarnya, setting, serta properti yang "niat banget". Detail properti, rumah, pakaian pemain utama maupun figuran semuanya diperhatikan. Rumah-rumahnya otentik, apalagi mobilnya. Kerennn itu pasti mahal banget pakai mobil antik gitu. 
Harusnya penonton film ini banyak meneteskan air mata. Dialognya menyayat hati dan panjang-panjang banget. Tapi entah kenapa saya malah banyak tertawa karena akting Junot yang terkesan lebay. Apalagi waktu mau cium pevita, ingus dan ludah kemana-mana (seisi bioskop bilang "hiiii"). Adegan yang paling saya suka adalah ketika Pevita mengucap janji di pinggir danau. Kalau adegan paling aneh adalah pas ada pesta dansa di rumah Zainudin, itu musiknya seperti terlalu modern nggak sih..kan 1930an.
Overall, 4 dari 5 bintang untuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk the movie. Baru kali ini nonton bioskop ketemu kakek-kakek, bapak-bapak, pasti mereka penggemar sastra lama. 

Review guru gokil murid unyu


Jangan terkecoh dengan sampulnya ya, buku ini saya temukan di rak pengembangan diri bukan di deretan novel. Judul bukunya memang Guru Gokil Murid Unyu, karangan J.Sumardianta yang merupakan guru di SMA colese de brito Jogja. Beliau selain jadi guru juga aktif menulis di berbagai surat kabar. 

Buku ini menceritakan berbagai macam fenomena di dunia sekolah. Di setiap kisah diawali dengan ilustrasi cerita yang menyentuh atau kadang lucu. Sampai setengah buku, saya masih merasa buku ini bagaikan Chicken Soup for Teacher nya Indonesia. Bab yang saya suka adalah di Pilar Pendidikan Karakter. 
Setelah melewati setengah buku saya mulai jenuh. Mulai di bab Alam adalah guru, penulis seakan memaksakan diri memasukan cerita-cerita yang pernah ditulis ke buku ini. Seperti review tempat-tempat, produk, dan buku. Akibatnya terjadi beberapa pengulangan-pengulangan penuturan. Memang sih masih relevan ceritanya, tapi akan lebih baik kalau tidak mengcopy secara "plek" tulisan ke buku. Jika buku ditulis berdasarkan buah pemikiran saat menulis, maka hasilnya akan runut dan pengulangan penuturan akan minim. 
Overall, buat para pendidik maupun orang tua buku ini cocok deh. Kalau yang biasa baca fiksi, bisa jadi akan banyak skip. Saya beri 2,5 dari 5 bintang untuk Guru Gokil Murid Unyu. 
"Apa perbedaan sekolah dengan kehidupan? Di sekolah sesudah belajar kamu diberi soal ujian. Dalam kehidupan kamu diberi ujian yang mendidikmu dengan pembelajaran".

Mengenal Bumbu Dapur

December 13, 2013

Bumbu masakan Indonesia itu banyak banget dan mirip-mirip. Itulah salah satu kambing hitam atas orang-orang yang akhirnya menganggap masakan Indonesia itu susah bikinnya. Untungnya sejak kecil saya suka di dapur, dan orang tua saya nggak suka pakai bumbu instan. Hampir semua bumbu ditanam sendiri dan digunakan buat masak. Mau tahu bumbu-bumbu apa saja yang harus diketahui sebelum nyoba masak makanan Indonesia? Nih..ciri-ciri berbagai bumbu dapur. 
1. Kapulaga: bulat kecil, putih, lebih kecil dari kemiri, dipakai buat kari atau campuran jamu.
2. Pala: bulat kecil berwarna cokelat, dipakai buat bumbu sup atau masakan daging. Aromanya harum meski pahit.
3. Jintan: mirip kulit padi, tapi lebih kecokelatan dan bermotif garis. Aromanya mirip lada.
4. Lada: nah ini yang biasa disebut merica. Rasanya pedas, tajam. Masakan apapun jadi spicy tapi beda dengan spicy cabe. 
5. Kayu manis: bentuknya mirip batang kayu kecil. Digunakan untuk menambah rasa di beberapa minuman dan penghias makanan.
6. Serai: fungsinya sebagai pengharum masakan. Wajib banget diemplungin pas ngrebus daging atau ikan biar nggak amis. 
7. Jahe: cara ngebedainya dari kunyit dan lengkuas adalah dengan melihat warna dalam dagingnya. Jahe agak putih ya dalamnya. Rasanya pedas, bikin hangat.
8. Lengkuas: mirip banget jahe. Bedanya dilihat dari kulitnya yang lebih keras. Dipakai buat masakan bersantan dan tumis.
9. Kencur: mirip jahe tapi kecil. bumbu ini paling pas buat bikin peyek, sambal kacang, jamu, atau mengharumkan masakan.
10. Daun jeruk: daun ini sering dipakai mengharumkan masakan tumis.
11. Kunyit: bagian dalamnya berwarna orange pekat. Pewarna alami masakan, penghilang bau amis ikan atau daging.
12. Ketumbar: mirip lada atau merica. Warnanya cokelat legam dan lebih kecil dari lada. Masakan bersantan sering pakai ini (saya jarang pakai).
13. Kemiri: pasanganya ketumbar. Mirip bawang putih tapi teksturnya kasar. Fungsinya memberikan sensasi pekat pada masakan, seperti sayur asem atau soto.
14. Terasi: terbuat dari ikan atau udang. Paling pas buat sambal atau tumisan.
15. Daun salam: pengharum semua masakan, dari urap hingga sayur. Meski bentuknya jelek dan kering, tapi harum banget lho.
16. Temu kunci: bentuknya memanjang, mirip kunyit..kencur..lengkuas..dan jahe. Paling pas buat sayur bayam atau campuran sop tutut.
17. Jeruk limau & jeruk nipis: limau lebih kecil dari jeruk nipis. Kontur buahnya lebih kasar, pas buat sambal. Jeruk nipis air perasanya dipakai mengurangi bau amis dan memberi rasa asam makanan.
18. Gula merah: pengganti gula pasir dan pewarna cokelat alami.
19. Cengkeh: pengharum masakan

Review Film 99 Cahaya di Langit Eropa

December 08, 2013

Banyak yang menantikan versi Film 99 Cahaya di Langit Eropa ini. Beberapa hari yang lalu saya sudah mendapat spoiler dari teman-teman di path, kalau film 99 cahaya di langit Eropa mengecewakan. Alasanya, ada yang bilang FTV banget. Maksudnya konfliknya kurang greget, kurang ngajak penonton mikir dan mendalami tiap tokoh. Ada juga yang kecewa karena Bersambung. Ini sungguh mengagetkan, karena versi bukunya nggak terlalu padat..kenapa bersambung? Komentar-komentar miring ini tidak menggoyahkan tekad saya buat ke bioskop. 

Oke, akhirnya setelah saya tonton sendiri saya kasih 2.5/5 bintang. Andai film ini tidak bersambung, mungkin saya bisa kasih 4 bintang. Buku Habibie Ainun saja yang sepadat merayap itu bisa dibuat film langsung sekali tonton, kenapa 99 cahaya di langit Eropa tidak? Harusnya jika memecah isi cerita ke 2 film, di dilm pertama konflik sudah muncul. Tapi tadi itu masih berserakan sketsa ceritanya, belum greget dan yahh..lebih mirip dokumenter jalan-jalan atau FTV. 
Ini beda lho dengan Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang dibuat jadi 2 film karena memang berasal dari 2 buku. Mengenai editing, film ini sangat tidak memuaskan. Suara muncul lebih dulu beberapa detik, lalu baru visual mengikuti (terlambat). Dan yang sangat mengganggu adalah saat di adegan mba Hanum jalan-jalan dengan Marion di Paris, muncul subtitle yang tidak berhubungan (subtitle saat pengumuman ujian Bahasa Jerman). Mengenai busana, ada beberapa adegan di dalam rumah dimana Acha Septriasa menggunakan baju yang terlalu ketat (kan ini islami nuansanya). 
Overall, sisi baiknya kita jadi tahu beberapa hal ihwal sejarah islam di Eropa  dan bagaimana tantangannya menjalani islam di sana. 

Auto Post Signature

Auto Post  Signature