Top Social

[Review Buku] Dear Felix Siauw; Sekadar Koreksi, Biar Enggak Salah Persepsi

April 12, 2015
Buku ringan dan bisa dibaca sambil santai-santai di hari minggu. Bisa dibilang, minggu pagi ini ngaji sambil ngopi. Di kedai kopi langganan, saya pesan brewed coffee dan mulai membuka lembar-perlembar diiringi musik jazz. 
Judul: Dear Felix Siauw; sekedar koreksi, biar enggak salah persepsi
Penulis: M. Sulthan Fatoni
Penerbit: Imania
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 205

Sinopsis
Dengan gaya renyah, M. Sulthan Fatoni mengoreksi pendapat kontroversi "ustad gaul" Felix Siauw yang begitu mudah menjatuhkan hukum. Ustad gaul yang selalu berwawasan global dengan khilafahnya ini disuguhi dengan fakta fikih yang mengIndonesia. Beberapa isu yang sempat jadi perdebatan publik ditanggapi dengan paparan yang enggak kalah gaul. Perlu dibaca biar enak.

Sumber: cover belakang

Review
Perlu diketahui sebelumnya bahwa buku ini bukan merupakan bantahan melainkan koreksi. Pemaparan lebih mendetail agar pembaca ngerti. 
Gaya bahasanya nggak baku. Dan...ini bukan buku tasawuf atau fikih kok, jadi kamu nggak perlu mengerutkan dahi. Bahkan saya bisa asik membaca tentang sifat wajib 20, rukun iman, sambil ngopi pagi.

Ada 15 topik yang diangkat di buku ini. Semua bersumber dari tweet serta laman facebook Felix Siauw. Sebelum penulis memaparkan pendapatnya, kicauan tersebut dituliskan ulang. Topik mengenai amalan-amalan, fatwa haram kenaikan Bbm, istikharah, kerja di bank konvensional dan cinta tanah air adalah beberapa yang disarikan penulis. 

Siapa sih jamaah twiteriah yang nggak kenal Felix Siauw? Jaman sekarang social media itu sudah jadi wahana semua orang buat ngapain aja. Termasuk berdakwah. Yang khas dari Felix Siauw ini sering mengeluarkan fatwa kontroversial.

Sesuatu yang masih bersifat samar dalam Al-qur'an dan hadis hampir dipastikan lebih berwarna ketika sampai di kalangan para ulama. Mereka mendiskusikan, menyimpulkan, pada akhirnya mengambil keputusan dari sudut berbeda antara ulama satu dengan yang lain. Ini berimplikasi pada keragaman sebuah keputusan tentang satu masalah yang sama. Tidak jarang pula, satu masalah mempunyai ikatan hukum lebih dari satu, dengan konsekuensi hukum beragam. Jadi, nggak elok kalau atas pendapat pribadi menyimpulkan sesuatu hal "haram" atau seseorang "kafir". 

Di halaman 113 penulis menyampaikan pendapatnya tentang toleransi. Ini penting. Untuk menjadi muslim toleran, perlu wawasan fikih empat mazhab, yaitu Maliki, Hanafi, Syafi'i, dan Hanbali. Perlu juga wawasan di bidang tauhid, yang dikonsep Abul Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi; serta wawasan tasawuf konsepsi Imam Al-Ghazali dan Al-Junaid Al-Baghdadi. 

Seorang Muslim yang wawasan keislamannya terbatas bukan berarti terhalang untuk bersikap toleran. Tetaplah bersikap toleran, dengan cara meneladani para kiai yang inklusif. 

Overall, nggak perlu twitwar menanggapi sebuah masalah. Menuliskannya dalam buku dengan menambahkan penjelasan-penjelasan adalah salah satu cara yang baik. 

Rate
3 of 5



[Review Film] Filosofi Kopi The movie

April 11, 2015
Dendam tiga orang anak kepada orang tuanya, dan dendam sepasang orang tua kepada anaknya. Dendam yang diwujudkan dengan ambisi, cinta, dan passion.

Ben, kamu mengingatkanku pada seseorang. Dia, anak muda penuh obsesi yang suka pakai jeans, tshirt kumal, rambut acak-acakan, kumis dan jenggot dicukur kasar..,.satu lagi kesamaanya..nggak jauh dari rokok dan korek gas >> "Rul nitip tas ya?" | mau kemana? | "toilet (buat ngerokok). Temanku yang satu itu, cueknya sama banget seperti Ben. 
     
Filosofi kopi adalah film yang diangkat dari buku karya Dewi Lestari. Saya membacanya beberapa tahun yang lalu, saat belum mengenal coffee shop..dan belum bisa membedakan espresso, cappucino, americano. 
    
Ben yang saya ceritakan di atas diperankan oleh Chiko Jeriko, barista yang pemikirannya sporadis. Pasion dia dengan kopi muncul sejak masa kanak-kanak. Ben adalah anak petani kopi yang mengalami masa lalu pahit (nggak mau cerita ntar jadi spoiler). Intinya, saat Ben mengingat masa lalunya itu..dia nangis. Di tengah kebun kopi sore hari dengan backsound tongeret. Saya pun ikut nangis. Ah Ben...

Jodi diperankan oleh Rio Dewanto. Sosok pebisnis yang lebih dominan berpikir menggunakan logika. Ayah Jodi membesarkan Ben. Kedai kopi 'Filosofi kopi' Jodi dirikan bersama Ben sepeninggal sang ayah yang ternyata meninggalkan hutang 800juta rupiah. 

El, diperankan Julie Estele food blogger yang menulis buku tentang kopi. El yang mempertemukan Jodi dan Ben dengan Pak Seno dan Bu Seno, pemilik kopi tiwus. Kopi Tiwus ini yang nantinya akan mengubah segalanya. 

Review
Gencar banget ya promonya. Beberapa kali ngadain trip ke beberapa kota. Hampir banget ikut yang di Semarang dan Bandung. Lumayan kan bisa refreshing ke kebun kopi dan pabriknya. Meskipun itu sudah biasa bagi saya. Seperti Ben, saya sangat dekat dengan tanaman kopi sejak kanak-kanak. Film ini menyeret saya masuk dalam kebun kopi dengan aroma bunga nya...lalu menyeret saya pula ke dapur saat kopi dipanggang. 

Film yang nggak bertele-tele. Nggak banyak drama. Fokus sama tujuannya. Yang paling saya suka adalah...settingnya. Kebun teh, kebun kopi, syahduuuuu. Penggambaran lab kopi punya Ben juga kelihatan niat banget. Ketauan riset film ini nggak main-main.
Pemilihan karakter sudah sangat pas. Apalagi, mereka benar-benar diajari menjadi barista. Jadi nggak asal tekan ini tekan itu di mesin espresso. 
Musiknya...pas, iklan nyelip nya juga nggak norak...hahahaha. 
Dialognya bikin ketawa, di beberapa bagian bikin nangis. 

Overall, Filosofi kopi the movie sudah berhasil menarik penontonnya, pembacanya, dalam sebuah cerita yang terasa nyata. Kedai nya dibuat benar ada, baristanya benar ada, dan semoga ambisi Jodi dan Ben terwujud "kita kopikan Indonesiaaaaa..."

Rate
4 dari 5

Quote
'Gue dan loe ibarat kepala sama hati. Punya isi masing-masing, tapi nggak bisa survive sendirian...harus survive bareng'

Jadi, tadi itu nggak sengaja banget ke XX1. Habis tersesat, bingung nggak tahu arah jalan pulang (karena nggak biasa naik bis) akhirnya ngojek minta anterin ke mall terdekat. Bermaksud nenangin pikiran sambil tidur siang, eh malah ketemu cast nya Filosofi kopi di bioskop. 
    




[Review Buku] Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai

April 07, 2015
Padat, gamblang, menyegarkan. Buku yang harus dibaca bukan hanya oleh orang Islam. 
      
Judul: Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai
Penulis: Emha Ainun Najib
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2015, pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada 1994
Genre: Tasawuf
Jumlah Halaman: 418

Sinopsis
Dulu di sebuah pesantren, ada dua orang kiai yang berdebat tentang hukum kesenian. Salah seorang dari mereka bersikeras bahwa kesenian itu syirik, bahkan haram. Kami para santri menyaksikan perdebatan itu dengan hati berdebar. Dari kejauhan, terdengar suara musik dari loudspeaker. Kiai yang saya kisahkan itu mulai meledak-ledak dan menyebut seni itu haram, tetapi kedua kakinya bergerak-gerak mengikuti irama musik dari kejauhan.

Kami, para santri, melihat bahwa kaki beliau itu bukan bergerak menggeleng-geleng, melainkan mengangguk-angguk. Maka, kami tiru anggukan ritmis kaki Pak Kiai itu, sebab gerak kaki beliau itu lebih merupakan ungkapan batinnya dibanding lisannya.

***

Melalui buku ini, Emha Ainun Nadjib, menguliti dalam-dalam perkara kemusliman “birokrasi”. Ketaatan yang penuh rasa “takut pada atasan”, bukan kecintaan dan pengabdian pada Tuhan. Semua kemudian berputar pada surga dan neraka, halal dan haram, pahala dan dosa. Detail-detail ritual yang malah memicu perbedaan pendapat antarumat, serta dengan gampang mengkafirkan orang lain. Dalam kegelisahannya, Emha seolah berbicara pada naluri kita dan berkata, “Apa tidak malu kita kepada-Nya, pada akal dan perasaan kita sendiri?”

Review
Membaca buku bergenre tasawuf apalagi setebal ini membuat saya awalnya 'ngeri'. Duh berat banget di bab-bab awal tentang Ubudiyah. Di bagiaj selanjutnya saya mulai menikmati, saat penulis memaparkan tentang Islam dalam perspektif kebudayaan. Tema-tema yang diambil masih kekinian meskipun ditulis di tahun 90an. Bagian selanjutnya agak berat lagi, tentang Kiai Sudrun. Sebuah perlambang seorang manusia yang dicap sebagai kiai dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan. Bagi saya yang IQ nya kelas melati, memakai lambang dan kode begini cukup menjemukan. Tapi, di bagian akhir yang bertajuk renungan lepas,,,ahhhh...saya suka. Inilah hal-hal yang sering kita renungkan. Dari sini saya tahu, bahwa mantan presiden Soeharto pernah memberikan instruksi kepada para gubernur agar mereka menghindari "harta, tahta, wanita". Alamakkk...mana ada presiden di negara lain yang melakukan seperti ini. Coba renungkan kalau presiden saat ini memfatwakan hal serupa. Kok saya rasa lucu, walaupun benar. 
Selesai dibaca, buku ini lecek sana-sini. Betapa sering dibolak-balik biar paham, keluar-masuk coffee shop, diuyel-uyel di tas, dan dibuka dalam berbagai pose membaca (duduk, tengkurep, tiduran, bediri, dsb). 
Sebuah pencerahan batin agar bisa berlaku sebagai manusia sesuai dengan hakikatnya. Paling nyaman membaca Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai di pagi hari, selepas sholat subuh sambil ngeteh...anyone?
Dari buku ini saya belajar bagaimana kita bisa menyampaikan hal yang membuat kita galau tanpa tampak marah atau benci. Melihat dari berbagai dimensi. 

Rate
4 dari 5 bintang

Quote
"Peribadahan..baru kita butuhkan sebagai identitas keagamaan atau semacam 'pil penenang', tetapi ia belum memancar cukup tajam pada tingkah laku sosial budaya kita. Semua itu menunjukan tingkat kepatuhan, kesetiaan, dan pasrah kita terhadap Allah, yang masih belum cukup berkualitas."
- page 73



Auto Post Signature

Auto Post  Signature