Bukan Kebetulan

April 29, 2015
Meskipun bukan mau sekolah, doa wajib saya tiap pagi adalah Robbisrohli Sodri wayassirli amri wahlul ‘uqdatanmillisani yafqohu qouli. (Ya Allah lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku

dan lancarkanah lidahku agar mereka memahami perkataan ku).

Bukankah setiap hari kita ingin diberi kelancaran dalam aktivitas?
Tapi, namanya hidup..nggak ada yang flat kan. Makanya,,meski banyak rintangan, kita harap selalu ada pertolongan,,,sekalipun tetap sulit,,kita harap agar kita bisa nyadar dengan hikmah di baliknya. 

Pagi tadi, subuh hari...gaji belum turun. Okeh..dunia harus tahu soal ini, hahaha kalau saya nggak punya duit cash. Ada sih,,tapi nggak banyak. Kurang dari 20ribu, ciyuuuus. Untuk makan, masih aman..ada member card yang sudah saya top up. Tapi itu member card starbucks ya jadi kalau mau beli cilok harus bayar pakai duit. 

Di saat harus follow up sana-sini, pulsa habis. Yang terpikir oleh saya adalah update status bbm "yang bisa transfer pulsa 25000 sekarang Ping! Urgent". Kebetulan pertama, Eh ada yang transfer pulsa. Terima kasih lah buat oknum R (sebut saja dia Ricky) nggak nyangka cepat tanggap siaga banget, hahhaha. Malah tadi dia bilang "oh kirain ini sayembara Rul kayak di Sangkuriang".

Kebetulan kedua, harus stay di plant sampai lewat maghrib. Hujan, laper, eh ada watsap slip gaji sudah bisa diambil. 

Kebetulan ketiga, dikasih ide sama Imam buat nebeng mobil kantor aja. Ide bagus ini sih,,karena ternyata hujan dan emang kemaleman banget. Bakal repot kalau naik angkutan umum, dan...nggak punya ongkos Ceu. Hahaha

Kebetulan keempat, sesuai rencana pakai member card starbucks buat makan malam ini. One day no rice ini mah. Sarapan roti, makan siang cilok, makan malam pastry tuna puff. Nah,,tangan Tuhan bekerja. Barista nya salah input minuman, saya pesan earl grey eh malah di struk tertulis earl grey latte. Jadilah daripada ribet uang saya diganti cash. Alhamdulillah,,akhirnya punya duit cash.
     
Bukan kebetulan, saya percaya itu. Prasangka hambaNya akan diwujudkan oleh yang kuasa, so...berprasangkalah yang baik. 


[cerpen] aku, kau, dan cilok rebus

Hujan pagi bulan Februari. Sebuah perjumpaan untuk kesekian kali dengan kamu, ya...cukup sering kita bersama. Tapi, pagi itu..mata kamu berbicara. Hujan masih sering turun di akhir bulan April, dan mata kamu bukan hanya berbicara....kadang bernyanyi, kadang sengaja kamu sembunyikan untuk alasan yang tak saya ketahui. 
Bersamamu, kita nyaman berdekatan saat keringatan sekalipun. Seperti sore ini.
"Waktu SMA saya nggak pernah pacaran, saya takut sama cewek, bahkan waktu SD saya nimpuk anak perempuan yang ngasih surat cinta ke saya"
"Ah parah kamu"
"Bahkan sampai sekarang, saya belum pernah bawa cewe ke rumah, termasuk mantan saya. Itu komitmen sih soalnya"

Kok kamu jadi curhat ya...tapi apa mau dikata kalau suara sesyahdu Afgan yang terdengar. Cilok ini saksinya. 
Diam beberapa lama, dia menundukan wajahnya. Oke, ini saatnya saya bicara.

"Aku suka banget Cilok ini, the best cilok rebus ever"
"Oh iya,,saya juga sih,,bikin kenyang pula"

Cilok, aci dicolok. Bentuknya, cara pembuatanya, bahannya, sederhana. Tapi rasanya...fantastic. Mungkin kita seperti cilok ini ya, sederhana. Cilok rebus yang apa adanya. 
Mungkin nggak sih kita saling merasa nyaman? Seperti nyamanya perut kita sarapan cilok. 
"Hey..orang bilang kita partner sejati" kataku
"Hehehe...okehh" masih dengan suara Afgan
"Okehh gimana?"
dan kamu cuma membalas dengan senyum 5 cm mu itu. Duh duh...



Dear Woman

April 27, 2015
Sometimes
you'll just be too much woman.
Too smart,
Too beautiful,
Too strong.
Too much of something
That makes a man feel like less of a man,
Which will start making you feel like you have to be less of a woman.

The biggest mistake you can make
Is removing jewels from your crown
To make it easier for a man to carry.
When this happens, i need you to understand,
You do not need a smaller crown ----
You need a man with bigger hands.

- Michael E. Reid

see...banyak hal yang bikin laki-laki minder sama kita para wanita. Itu bukan alasan buat kita nggak perlu achieve our target, reach our dream. 

Pria memang banyak maunya, dan wanita ingin dimengerti. -Inayah 2015

Kamu Lakik !!

April 26, 2015
Soundtrack hari ini adalah "impossible",,lagu itu yang terngiang di kepala. Barusan saya buka facebook setelah adik tingkat kirim pesan bbm "Ga tau kenapa urusannya, tapi sebagai cowok, aku ngakuni mas R gentle."
Jeng jeng.....saya emang nggak dekat secara personal dengan R, tapi....beneran saya nangis lho. Seperti yang sudah saya sampaikan sore tadi ke dia,,"kamu lakik!!" 
Cowok yang datang ke nikahan mantannya pasti sudah banyak, tapi yang dengan gentle ngeshare foto di pelaminan...foto pas R, si A (mantan R) , dan si K (suami mantan) jalan bareng naik gunung, bahkan bikin sketsa gambar pasangan baru itu...hanya dia. 
Past is in the past,,,masa lalu biarlah masa lalu. saya juga nggak ngerti masalahnya..tapi sebagai teman R dan teman si A..saya berharap dan yakin kalian akan tetap berjodoh sebagai saudara. 

I remember years ago
Someone told me I should take
Caution when it comes to love
I did


What Do You Want?

Hubungan dua orang itu nggak gampang ya?
Walaupun sudah saling kenal, cocok, itu aja nggak cukup.
Jadi kurang apa?
Ya maksudnya...nyaman aja nggak cukup.
THEY NEED TO SHARE THE SAME DREAM
THEY NEED TO WATCH THE SAME THINGS
Aku cuma mau semua jadi sederhana...cuma itu aja

- Cikarang, Musim hujan 2015
*Ini kisah perjalanan kita, kita yang tidak mencari tapi saling menemukan*

hahahhaa....ini kalimat gombal hasil modifan mini seri Nic-Mar, jangan dianggap serius


Karena Aku Sayang Kamu

"Kenapa jarang ngeBlog? Karena aku sayang kamu"
-Inayah, 2015

Oh ini weekend ya? Pagi ini setelah gowes sekian kilometer di car free day, jeprat-jepret..isi perut dulu lah. Tuna puff sudah masuk ke lambung didorong english breakfast tea. Saya benar-benar nggak nyadar. Hari-hari berlalu begitu padatnya. emang lagi sibuk apa? persiapan nikah ya? amiin. Tapi bukan, bukan itu. Banyak target yang harus dilakukan di April ini. Dan tentu setiap target butuh budget, jadilah bulan April ini nambal budget dari mana-mana. i'm SHORTAGE hhaaa.


week 1
Progress test. Dengan persiapan sehari sebelumnya yang matang, ternyata saya belum cukup Pede melewati progress test terakhir. Tapi, do the best lah...sampai hari ini belum sempat ambil hasilnya. 
Melakukan perjalanan beresiko ke Kelapa Gading dalam sebuah misi rahasia dan berakhir dengan title "lost in Bekasi" hahhahaa. Pelajaran banget lah itu. Meskipun misi rahasia itu gagal. 
week 2
Salah satu target 2015 adalah....nikah? bukan bukan...heheh punya paspor. Ya..kan sekarang sudah eranya MEA, harus siap go internasional. next akan saya bahas bagaimana cara mudah dan benar dalam pengurusan paspor. Sampai hari ini paspornya belum diambil. 
Sempat banget ke Bogor setelah sekian lama, dan tanpa direncanakan terlibat obrolan rahasia dengan seseorang, hahhahaha. Menikmati minggu pagi di koridor Fateta sambil memungut remah-remah kenangan,, eeaaakkkk. 
week 3
Inilah, hari-hari yang sangat berkesan bagi saya. Sudah diperjuangkan dari beberapa bulan lalu. Benar-benar terjadi. Hari penuh keringat, tawa, pegel, cangkeul, tapi....alhamdulillah...Allah juga menghadirkan kamu di saat seperti ini, Terima kasih untuk membuat saya nggak bete ngelewatin ini semua, untuk membuat saya melakukan yang terbaik....as a team, i knew that you are capable, senang bekerjasama dengan kamu. Antara saya dan kamu, ada sebuah ikatan magis. Bukan cinta layaknya lawan jenis lho ya...tapi...sesuatu yang membawa saya ke masa kanak-kanak yang pada akhirnya bikin kita seperti sudah kenal bertahun-tahun. 
Projek yang ini berlalu di minggu pertamanya dengan lancar. Memahami aksen English Jerman yang bikin saya kadang perlu googling dulu. Mungkin berat badan saya turun karena mondar-mandir bahkan lari-larian, tapi kalau diterawang secara aura...hahhahaa mungkin aura saya merah jambu dengan motif cherry blossom dan aroma citrus.


Jadi....itulah yang terjadi. #ApalahApalah yaouw dibanding orang sibuk lainnya. Tapi jujur bulan April ini SUPERB. alhamdulillah....
Target lainnya, tiket mudik pulang-pergi sudah di tangan. Yeaaahhh. setelah diwarnai tragedi ketiduran, berkat kuasa Allah swt...masih ada kursi buat saya.

untuk seseorang yang sering minta saya foto selfie, saya mau tanya "kapan kita terakhir bertemu secara nyata?"



Getaran namaMu

April 22, 2015
"Allahu akbar"....bacaan sholat terdengar merdu dari masjid di seberang jalan. Aku di angkot, masih dalam kondisi dekil, kucel, berdebu, dan mungkin bau oli campur parfum almond nut. Sambil terbatuk-batuk, aku menikmati bcaan sholat itu dengan getar-getar magis. Getaran berbeda dengan saat berjumpa orang yang kita suka. 
Inilah sebuah rasa, kangen,,,rindu...kedamaian. Jika saya tidak pernah secapek ini, saya mungkin nggak merasakannya. Saat raga lelah, ruhani memikirkan duniawi saja,,,terkadang justru getaran seperti ini terasa hebat. 
Terima kasih ya Allah atas hari-hari belakangan ini. Atas lelah, atas keringat, atas tawa bahagia, atas kram kaki sore ini. Di balik itu semua banyak sekali pelajaran hidup yang saya ambil. Banyak rasa yang tercipta. Rasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya...,pun termasuk di dalamnya.

--ditulis di angkot yang ngetem

[Review Buku] Dear Felix Siauw; Sekadar Koreksi, Biar Enggak Salah Persepsi

April 12, 2015
Buku ringan dan bisa dibaca sambil santai-santai di hari minggu. Bisa dibilang, minggu pagi ini ngaji sambil ngopi. Di kedai kopi langganan, saya pesan brewed coffee dan mulai membuka lembar-perlembar diiringi musik jazz. 
Judul: Dear Felix Siauw; sekedar koreksi, biar enggak salah persepsi
Penulis: M. Sulthan Fatoni
Penerbit: Imania
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 205

Sinopsis
Dengan gaya renyah, M. Sulthan Fatoni mengoreksi pendapat kontroversi "ustad gaul" Felix Siauw yang begitu mudah menjatuhkan hukum. Ustad gaul yang selalu berwawasan global dengan khilafahnya ini disuguhi dengan fakta fikih yang mengIndonesia. Beberapa isu yang sempat jadi perdebatan publik ditanggapi dengan paparan yang enggak kalah gaul. Perlu dibaca biar enak.

Sumber: cover belakang

Review
Perlu diketahui sebelumnya bahwa buku ini bukan merupakan bantahan melainkan koreksi. Pemaparan lebih mendetail agar pembaca ngerti. 
Gaya bahasanya nggak baku. Dan...ini bukan buku tasawuf atau fikih kok, jadi kamu nggak perlu mengerutkan dahi. Bahkan saya bisa asik membaca tentang sifat wajib 20, rukun iman, sambil ngopi pagi.

Ada 15 topik yang diangkat di buku ini. Semua bersumber dari tweet serta laman facebook Felix Siauw. Sebelum penulis memaparkan pendapatnya, kicauan tersebut dituliskan ulang. Topik mengenai amalan-amalan, fatwa haram kenaikan Bbm, istikharah, kerja di bank konvensional dan cinta tanah air adalah beberapa yang disarikan penulis. 

Siapa sih jamaah twiteriah yang nggak kenal Felix Siauw? Jaman sekarang social media itu sudah jadi wahana semua orang buat ngapain aja. Termasuk berdakwah. Yang khas dari Felix Siauw ini sering mengeluarkan fatwa kontroversial.

Sesuatu yang masih bersifat samar dalam Al-qur'an dan hadis hampir dipastikan lebih berwarna ketika sampai di kalangan para ulama. Mereka mendiskusikan, menyimpulkan, pada akhirnya mengambil keputusan dari sudut berbeda antara ulama satu dengan yang lain. Ini berimplikasi pada keragaman sebuah keputusan tentang satu masalah yang sama. Tidak jarang pula, satu masalah mempunyai ikatan hukum lebih dari satu, dengan konsekuensi hukum beragam. Jadi, nggak elok kalau atas pendapat pribadi menyimpulkan sesuatu hal "haram" atau seseorang "kafir". 

Di halaman 113 penulis menyampaikan pendapatnya tentang toleransi. Ini penting. Untuk menjadi muslim toleran, perlu wawasan fikih empat mazhab, yaitu Maliki, Hanafi, Syafi'i, dan Hanbali. Perlu juga wawasan di bidang tauhid, yang dikonsep Abul Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi; serta wawasan tasawuf konsepsi Imam Al-Ghazali dan Al-Junaid Al-Baghdadi. 

Seorang Muslim yang wawasan keislamannya terbatas bukan berarti terhalang untuk bersikap toleran. Tetaplah bersikap toleran, dengan cara meneladani para kiai yang inklusif. 

Overall, nggak perlu twitwar menanggapi sebuah masalah. Menuliskannya dalam buku dengan menambahkan penjelasan-penjelasan adalah salah satu cara yang baik. 

Rate
3 of 5



[Review Film] Filosofi Kopi The movie

April 11, 2015
Dendam tiga orang anak kepada orang tuanya, dan dendam sepasang orang tua kepada anaknya. Dendam yang diwujudkan dengan ambisi, cinta, dan passion.

Ben, kamu mengingatkanku pada seseorang. Dia, anak muda penuh obsesi yang suka pakai jeans, tshirt kumal, rambut acak-acakan, kumis dan jenggot dicukur kasar..,.satu lagi kesamaanya..nggak jauh dari rokok dan korek gas >> "Rul nitip tas ya?" | mau kemana? | "toilet (buat ngerokok). Temanku yang satu itu, cueknya sama banget seperti Ben. 
     
Filosofi kopi adalah film yang diangkat dari buku karya Dewi Lestari. Saya membacanya beberapa tahun yang lalu, saat belum mengenal coffee shop..dan belum bisa membedakan espresso, cappucino, americano. 
    
Ben yang saya ceritakan di atas diperankan oleh Chiko Jeriko, barista yang pemikirannya sporadis. Pasion dia dengan kopi muncul sejak masa kanak-kanak. Ben adalah anak petani kopi yang mengalami masa lalu pahit (nggak mau cerita ntar jadi spoiler). Intinya, saat Ben mengingat masa lalunya itu..dia nangis. Di tengah kebun kopi sore hari dengan backsound tongeret. Saya pun ikut nangis. Ah Ben...

Jodi diperankan oleh Rio Dewanto. Sosok pebisnis yang lebih dominan berpikir menggunakan logika. Ayah Jodi membesarkan Ben. Kedai kopi 'Filosofi kopi' Jodi dirikan bersama Ben sepeninggal sang ayah yang ternyata meninggalkan hutang 800juta rupiah. 

El, diperankan Julie Estele food blogger yang menulis buku tentang kopi. El yang mempertemukan Jodi dan Ben dengan Pak Seno dan Bu Seno, pemilik kopi tiwus. Kopi Tiwus ini yang nantinya akan mengubah segalanya. 

Review
Gencar banget ya promonya. Beberapa kali ngadain trip ke beberapa kota. Hampir banget ikut yang di Semarang dan Bandung. Lumayan kan bisa refreshing ke kebun kopi dan pabriknya. Meskipun itu sudah biasa bagi saya. Seperti Ben, saya sangat dekat dengan tanaman kopi sejak kanak-kanak. Film ini menyeret saya masuk dalam kebun kopi dengan aroma bunga nya...lalu menyeret saya pula ke dapur saat kopi dipanggang. 

Film yang nggak bertele-tele. Nggak banyak drama. Fokus sama tujuannya. Yang paling saya suka adalah...settingnya. Kebun teh, kebun kopi, syahduuuuu. Penggambaran lab kopi punya Ben juga kelihatan niat banget. Ketauan riset film ini nggak main-main.
Pemilihan karakter sudah sangat pas. Apalagi, mereka benar-benar diajari menjadi barista. Jadi nggak asal tekan ini tekan itu di mesin espresso. 
Musiknya...pas, iklan nyelip nya juga nggak norak...hahahaha. 
Dialognya bikin ketawa, di beberapa bagian bikin nangis. 

Overall, Filosofi kopi the movie sudah berhasil menarik penontonnya, pembacanya, dalam sebuah cerita yang terasa nyata. Kedai nya dibuat benar ada, baristanya benar ada, dan semoga ambisi Jodi dan Ben terwujud "kita kopikan Indonesiaaaaa..."

Rate
4 dari 5

Quote
'Gue dan loe ibarat kepala sama hati. Punya isi masing-masing, tapi nggak bisa survive sendirian...harus survive bareng'

Jadi, tadi itu nggak sengaja banget ke XX1. Habis tersesat, bingung nggak tahu arah jalan pulang (karena nggak biasa naik bis) akhirnya ngojek minta anterin ke mall terdekat. Bermaksud nenangin pikiran sambil tidur siang, eh malah ketemu cast nya Filosofi kopi di bioskop. 
    




Limited Edition Starbucks Indonesia 'Batik'

April 09, 2015
Minggu ini starbucks launching limited edition tumbler edisi Indonesia dan Bali. Karena limited edition, jadi terbatas (yaiyalah hahaha) maksudnya..karena terbatas dan cukup unik, jadinya mahal. Tumbler biasa (bukan stainless) ini dijual dengan harga 225.000, normalnya sih di bawah 200.000.
Untuk edisi Indonesia, tumbler bermotif batik dengan aksen tangkai pohon kopi yang sedang berbuah dan berbunga. Kalau edisi Bali, dominan warna kuning dengan aksen Pura. 
Karena saya orang Kota Batik Dunia,,(Pekalongan) jadi pilih yang edisi Indonesia. Dan karena saya 'kereatif' hahah bukannya beli malah bikin. Lhokok?
Sebelumnya saya sudah punya tumbler starbucks (ori lho) yang gambarnya bisa diubah-ubah, gampangnya tumbler bongkar pasang. So,,,yuk create your own tumbler.

1. Download pola tumbler
2. Download gambar starbucks card edisi Indonesia
3. Print dan gunting gambar starbucks card edisi Indonesia sesuai pola
4. Masukan ke tumbler 'bongkar pasang'
5. Isi air putih,,,minum sampai habis :-)

Selamat mencoba...
      


[Review Buku] Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai

April 07, 2015
Padat, gamblang, menyegarkan. Buku yang harus dibaca bukan hanya oleh orang Islam. 
      
Judul: Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai
Penulis: Emha Ainun Najib
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2015, pernah diterbitkan dengan judul yang sama pada 1994
Genre: Tasawuf
Jumlah Halaman: 418

Sinopsis
Dulu di sebuah pesantren, ada dua orang kiai yang berdebat tentang hukum kesenian. Salah seorang dari mereka bersikeras bahwa kesenian itu syirik, bahkan haram. Kami para santri menyaksikan perdebatan itu dengan hati berdebar. Dari kejauhan, terdengar suara musik dari loudspeaker. Kiai yang saya kisahkan itu mulai meledak-ledak dan menyebut seni itu haram, tetapi kedua kakinya bergerak-gerak mengikuti irama musik dari kejauhan.

Kami, para santri, melihat bahwa kaki beliau itu bukan bergerak menggeleng-geleng, melainkan mengangguk-angguk. Maka, kami tiru anggukan ritmis kaki Pak Kiai itu, sebab gerak kaki beliau itu lebih merupakan ungkapan batinnya dibanding lisannya.

***

Melalui buku ini, Emha Ainun Nadjib, menguliti dalam-dalam perkara kemusliman “birokrasi”. Ketaatan yang penuh rasa “takut pada atasan”, bukan kecintaan dan pengabdian pada Tuhan. Semua kemudian berputar pada surga dan neraka, halal dan haram, pahala dan dosa. Detail-detail ritual yang malah memicu perbedaan pendapat antarumat, serta dengan gampang mengkafirkan orang lain. Dalam kegelisahannya, Emha seolah berbicara pada naluri kita dan berkata, “Apa tidak malu kita kepada-Nya, pada akal dan perasaan kita sendiri?”

Review
Membaca buku bergenre tasawuf apalagi setebal ini membuat saya awalnya 'ngeri'. Duh berat banget di bab-bab awal tentang Ubudiyah. Di bagiaj selanjutnya saya mulai menikmati, saat penulis memaparkan tentang Islam dalam perspektif kebudayaan. Tema-tema yang diambil masih kekinian meskipun ditulis di tahun 90an. Bagian selanjutnya agak berat lagi, tentang Kiai Sudrun. Sebuah perlambang seorang manusia yang dicap sebagai kiai dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan. Bagi saya yang IQ nya kelas melati, memakai lambang dan kode begini cukup menjemukan. Tapi, di bagian akhir yang bertajuk renungan lepas,,,ahhhh...saya suka. Inilah hal-hal yang sering kita renungkan. Dari sini saya tahu, bahwa mantan presiden Soeharto pernah memberikan instruksi kepada para gubernur agar mereka menghindari "harta, tahta, wanita". Alamakkk...mana ada presiden di negara lain yang melakukan seperti ini. Coba renungkan kalau presiden saat ini memfatwakan hal serupa. Kok saya rasa lucu, walaupun benar. 
Selesai dibaca, buku ini lecek sana-sini. Betapa sering dibolak-balik biar paham, keluar-masuk coffee shop, diuyel-uyel di tas, dan dibuka dalam berbagai pose membaca (duduk, tengkurep, tiduran, bediri, dsb). 
Sebuah pencerahan batin agar bisa berlaku sebagai manusia sesuai dengan hakikatnya. Paling nyaman membaca Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai di pagi hari, selepas sholat subuh sambil ngeteh...anyone?
Dari buku ini saya belajar bagaimana kita bisa menyampaikan hal yang membuat kita galau tanpa tampak marah atau benci. Melihat dari berbagai dimensi. 

Rate
4 dari 5 bintang

Quote
"Peribadahan..baru kita butuhkan sebagai identitas keagamaan atau semacam 'pil penenang', tetapi ia belum memancar cukup tajam pada tingkah laku sosial budaya kita. Semua itu menunjukan tingkat kepatuhan, kesetiaan, dan pasrah kita terhadap Allah, yang masih belum cukup berkualitas."
- page 73



Surga di Ikhlasmu, Ibu

Dari manakah engkau memperoleh ilmu? Dari bumi Allah.
Dari manakah pusat ilmu yang dipinjamkan-Nya itu? Dari sumur firman yang namanya Al-Qur'an.
Bagaimana engkau memperoleh airnya? Dari teknologi rohani: aku timbanya, zikir ibu talinya.
Bagaimana menjaga agar tak bocor timbamu? Dengan syukur, rasa tak punya di hadapan-Nya, serta menaburkan kembali ilmumu itu kepada Allah melalui bumi dan segenap penghuninya.
Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa mendatangkan ibuku pada saat-saat terpenting dalam hidupku. 
.....
Maka, Maha-agung Allah yang senantiasa menguatkan Ibu untuk berzikir, mengaji sambil menangis, dan bergumam kepada Allah, "Aku yang 'ngandung' anakku itu, ya Allah, akulah yang merasa sakit kalau ia disakiti....

- Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai, Emha Ainun Najib

Cepat Berburuk Sangka

April 03, 2015
Pemberitaan tadi pagi masih seputar pembredelan beberapa situs yang menurut BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) cukup berbahaya. Dalam sebuah wawancara stasiun TV, dihadirkanlah narasumber dari sebuah situs terblokir dan pihak BNPT. Kedua belah pihak punya dalih atas pendapat mereka. Menurut BNPT, situs si narasumber A dibredel karena menjurus ke terorisme. Memang tidak tersurat "kami dukung ISIS" tapi BNPT punya kriteria tersendiri mengapa situs itu diblokir. Di sisi lain, narasumber A keukeuh dengan pendapatnya.

Kebetulan sekali, di hari jumat yang libur ini saya sedang membaca bukunya Cak Nun. Ada bagian yang pas mengilustrasikan kejadian di atas. 

Saudaraku, kita tak jarang mengalami betapa kita terjebak untuk bersikap mutlak-mutlakan di tengah perbedaan pendapat. Ini karena kita amat posesif terhadap kepemilikan kita atas pengertian-pengertian kita sendiri. Bagai seorang perawan yang tak mau secuil pun lelaki pujaanya dijelek-jelekkam oleh orang lain. Kita begitu romantik karena memang pada dasarnya kita begitu mencintai dan bahagia dengan Islam kita. Begitu rupa romantiknya sehingga dalam beberapa hal kita menjadi buta. Kita jadi cepat tersinggung, cepat mangkel, cepat berang, dan naik pitam jika sedikit saja hal tentang 'pacar' kita itu disentuh orang. 
Secara rasional kita menjadi tidak objektif. Dan, secara spiritual-psikologis kita menjadi tidak dewasa, tidak rendah hati. Keduanya bergabung dan menghasilkan suatu sikap yang tak menyiapkan diri untuk membuka diri dan menerima kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru atas diri kita. 
(Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai)

Maksud saya apa sih? Jadi,,,saya cukup gerah ketika tempo hari membuka facebook dan menemukan komentar-komentar PEDAS kepada Kemenkominfo. Kritik atas sebuah kebijakan itu perlu, tapi ketika disampaikan dengan nada marah-marah bahkan ada yang mengutuk...jadi gimana gitu. Memang sih agak impolite ya tindakan BNPT yang tak pakai peringatan dahulu ke situs yang bersangkutan, tapi saya suka. Ini cukup 'menggertak' dan terbukti efektif. Saya juga kurang tahu apakah kalau mau blokir sebuah situs harus ijin dulu ke pemiliknya, sepertinya tidak (pengalaman pribadi). Yang penting, kriteria untuk pemblokiran sudah terpenuhi (yang dalam kasus ini saya tidak tahu pasti).

Maret yang Bergelora

April 01, 2015
Hy belum bisa move on dari maret? Ya bisalah..Maret bergelora. Sebulan terasa padat banget, ombaknya naik turun bikin jiwa raga jungkir balik tapi asik. Nih jurnal Maret saya:
Maret diawali dengan momen bersama Diaz Hanafiah. Hahahah...he is the one. Maret bikin saya kenal dengan banyak orang baru. Sebenarnya orang-orang lama, tapi rasanya mata hati saya ada yang ngebukain atas kuasa Allah swt. Mengenal kehidupan mereka satu persatu yang luar biasa. Dari Maret kemarin saya juga belajar tentang perubahan. Tentang menahan perasaan, tentang kehangatan di dalam badai. Kata orang bijak, saat kita merasakan hal tersebut,,itu adalah doa dari orang-orang yang menyayangi kita. Doa adalah cara paling aman menyampaikan rindu. 
Kalau mau dibikin soundtrack,,,Maret itu seperti lagu "let it go". 

Saya berharap, bulan April akan lebih baik dari bulan maret. Meskipun sepertinya belum bisa bikin paspor juga. Dan semoga dapat tiket mudik. 

Don't let them in
Don't let them see
Be the good girl always have to be

I'm never going back
The past is in the past



Auto Post Signature

Auto Post  Signature