Cerita Asli Nonton MotoGP Mandalika Lombok

April 10, 2022
Cerita Seru dan Original Pengalaman Nonton MotoGP Mandalika

Aku bukan fans MotoGP, tapi ketika diberi kesempatan yang sebenarnya bagian dari kerjaan…ya tentu tidak menolak. Sebelum membaca lebih lanjut, ini perlu kutegaskan di awal bahwa aku ke Mandalika itu karena penugasan kerjaan yah bukan karena terlalu selo hehehe. Karena lumayan loh itu 4 hari di Lombok. Tahun 2018 tepatnya beberapa bulan sebelum gempa dahsyat menghantam Lombok, aku sempat punya keinginan untuk ikut open trip ke Rinjani. Tripnya itu buat hunting foto drone, seru kan? Nah sayangnya gempa tuh,,yaudahlah yah kapan-kapan. Eh ternyata Tuhan menyimpan takdirku melihat Rinjani secara langsung, untuk 2022 lewat event MotoGP. Jadi, ngapain aja sih selama rangkaina acara di Mandalika?


Ketemu lagi Airbus A330

Masyarakat Indonesia pasti tahu ya, kalau Lombok itu jauh dari Jakarta. Harus pakai pesawat terbang. Nah, karena antusiasme penonton maka tiket pesawat sudah sold out jauh-jauh hari. Aku ditugaskan dari kantor tuh H-2 minggu event, challenging banget soal pesawat. Dapatlah untuk berangkat pakai Garuda Indonesia terpagi dan untuk pulang Garuda Indonesia termalam hahaha.


Pertama kalinya tidur di terminal 3, niat banget dari rumah masih malam lanjut tidur di bandara, daripada telat yak an? Beda lah pergi buat keniatan sendiri sama kerjaan. Ternyata nyaman banget terminal 3 buat tidur, sepi pula 1 gate malam itu cuma ada aku ahahhaha berasa tidur di kamar sendiri. Jadi kepikiran, oke lain kali kemana-mana pakai pesawat yang di terminal 3 aja deh, aminnn.

airbus a330

Pesawat yang kunaiki itu extra flight, tapi penuh sampai ekor. Aku dapat di ekor, dan ini…Airbus A330 yayyy. Pesawat guede yang pramugarinya 8 kalau engga salah. Terakhir naik pesawat jenis ini waktu ke Sydney yang mana sudah lama sekali.


Baca: Tips naik pesawat ke luar negeri dengan transit (untuk pemula)


Pagi itu sarapan di udara, tepatnya di langit Jawa Tengah dengan menu nasi putih, buncis, dan ayam. Agak hambar sih, aku bertanya-tanya ap aini makanan khas Lombok? Tapi karena lapar banget dan mengingat sesampainya Lombok harus langsung kerja ya habisin aja.


nasi di garuda indonesia


Jujur ini pertama kalinya naik pesawat segede ini dapat di ekor. Ketika ketemu awan lumayan sih ya, terus pas landing kayak ekornya masih di atas gitu jadi nggak datar pesawatnya ahhahaha.


Berkenalan dengan Nasi Balap Puyung

Bandara Lombok hiruk pikuk, aku mengantuk. Lihat sana-sini orang ramai foto di landmark bandara. Yang kucari sebenarnya restoran, tapi cuma nemu RotiO yang padat dan Nasi balap puyung Inaq Esun. Apa tuh?


Cek gojek, ternyata sudah ada. Langsung saja penasaran dengan kondisi di luar bandara. Sambal nunggu rombongan lain, aku mengarahkan Gocar ke warung nasi Padang depan gerbang bandara. Tapi malahan belok ke nasi bapal Puyung di sampingnya. Apa sih itu?


nasi balap puyung


Nasi balap dikenal juga dengan nama nasi balap puyung atau nasi puyung, yang merujuk kepada daerah asal kuliner ini, yaitu Kampung Puyung yang terletak di Dusun Lingkung Daye, Jonggat, Lombok Tengah.


Sajian nasi balap ini sebenarnya sederhana, yaitu seporsi nasi putih dengan suwiran daging ayam bumbu pedas, kedelai goreng, plus sambal khas yang disajikan di atas daun pisang. Sementara, kering kentang, oseng buncis, dan telur juga kerap hadir sebagai pelengkap.


Dulu Nasi Balap itu identik dengan malam hari, karena hanya tersedia di malam hari untuk melayani anak-anak muda yang suka nongkrong dan balap di Desa Puyung. Sejarah kuliner ini bermula dari ibu Inaq Esun yang telah menjajakan makanan ini sejak tahun 1970-an. Pada tahun 90-an, ada salah seorang cucu dari Inaq Esun yang berprofesi sebagai pembalap lokal. Setiap kali menang balapan, ia selalu mentraktir teman-temannya di warung nasi milik neneknya. Dari situlah nama nasi balap ini berasal.


Kini, kedai nasi balap Puyung cap Inaq Esun menjadi salah satu destinasi kuliner yang sangat populer dan telah memiliki beberapa cabang. Warung-warung penjaja nasi balap pun menjamur hingga ke luar NTB.


Menginap Hotel Pesona Rinjani

Nah ini dia yang jadi highlight dari cerita nonton MotoGP di Mandalika. Jadi, karena penginapan di kota Lombok sudah penuh maka travel agent menempatkan kami di Sembalun. Fyi, Sembalun itu sekitar 2-3 jam dari kota Lombok. Jalan ke sana menanjak, berliku, yaiyalah kan Sembalun mah di kaki gunung Rinjani.


hotel pesona rinjani


Nama penginapannya “Pesona Rinjani”. Di wilayah ini banyak hotel, cottage, dengan view Rinjaniiiii serta bukit-bukit menawan Sembalun. Aku dapat kamar dengan 2 bed bareng rider perempuan dari Lampung Lady Shofia. Tipe kamarnya ada yang bentuk rumah terpisah gitu, rumah panggung. Nyaman lah ya buat menghela capek mah, air panas nih penting banget,,,alhamdulillah available. View restoranya mantep banget, jadi meski sarapannya sederhana tapi asik-asik aja.


pelangi di rinjani


Menyusuri Gelap Malam Taman Nasional Gunung Rinjani

Setiap hari aku beraktivitas di kota Lombok, perjalanan pulang pergi bisa 5 jam tuh total. Nah jalur ke penginapan dari kota bisa via Lombok Utara atau Lombok Timur. Sebenarnya yang jadi pilihan kebanyakan orang adalah Lombok Barat. Meski lebih lama durasinya, tapi tanjakanya lumayan lah ada landainya dikit. Terang melewati ladang, perkampungan, kebun. Kalau mau cepat sih via Lombok Timur, tapiii tantanganya adalah kita harus menyusuri 1 jam di dalam hutan yang rapat, tanpa sinyal, sepi, menanjak dan berkelok. Namanya Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

desa sembalun

Indah banget pemandanganya, tapi bayangin lewat sini tengah malam deh ahahah. Asli sepanjang jalan nahan ngantuk demi selalu waspada. Di sini banyak sekali monyet liar, dan di beberapa tempat dijadikan camping ground. Sayangnya pas aku lewat, benar-benar senyap cuma ada suara daun dan ranting.


Hujan-Hujanan di Sirkuit Mandalika

Se Indonesia tahu lah ya ‘drama’ hujan pas hari H MotoGP. Itu nyata adanya, dan kalau inget tuh masih kerasa capeknya baju basah kuyub ahaha. Jadi, minggu pagi jam 8 aku Sudah turun dari Sembalun menuju Kutha Mandalika di Lombok Tengah. Kalau ke Mandalika, dari Sembalun lebih cepat via Lombok Timur. Tengah hari sampai pula di Praya, aturanya semua kendaraan diparkir di bandara lalu penumpangnya pakai shuttle bus. Ternyata lalu lintas kacau, macet parah menuju bandara. Pun parkiran penuh, akhirnya langsung suruh bablas ke Mandalika. Eh…menuju sana pun macet. Jujur sih seperti tidak ada pengaturan lalu lintas dengan proper. Kenapa tidak dibuat satu arah saja ya?


Tepat ketika kaki sampai di area sirkuit Mandalika (privilej loh dapat parkir di area Deluxe), gerimis turun. Penonton membludak, Xray sih ada tapi udahlah bablas semua itu cuma tas ditengok sedikit saja. Padahal ada do-don’ts bawaan di tas, tapi yakin deh pada lolos.



Anyway, aku nonton dari grandstand yang tidak ada atapnya. Langit mulai gelap, petir, dan ketika announcer mengatakan MotoGP akan dimuali, hujan turun dengan derasnya. Okelah masih sok cool aja duduk, eh lama-lama cool sebadan. Aku mengikuti orang-orang neduh di bawah area grandstand. Petir semakin heboh, lalu announcer mengajak penonton berdoa seraya memperkenalkan Rara Pawang hujan yang muncul di big screen MotoGP.

 


Lagu Indonesia raya berkumandang, hujan masih turun tapi makin menipis, MotoGP pun dimulai. Daripada nonton ke arena, aku malah lihatin di bigscreen ahahha, penonton lain malah ada yang streaming dari hape. Rasanya udah kliyengan tuh berdiri hujan-hujanan. Lepas beres langsung berhimpitan keluar arena, melewati terowongan mina ahhaa.



Ternyata ke ‘chaos’ an lalu lintas kembali terjadi. Aku sih nggak masalah ya mobil parkir di sirkuit. Nah yang parkirnya di bandara gimana sedangkan shuttle bus terjebak macet. Hari mulai gelap, orang-orang memenuhi jalanan yang becek, gerimis masih turun, banyak yang lepas sepatu. Ada yang nampak kelelahan duduk di trotoar, ada yang terus berjalan mungkin sampai bandara.


Lombok, Aku akan Kembali

Overall, 4 hari di Lombok ini akan menjadi bagian cerita hidup yang tak mudah dilupakan. pulangnya pesawat delay, ya traffic Lombok memang sudah parah banget sih ya isinya manusia semua hari itu. masuk pesawat langsung tidur, terbangun saat tengah malam di atas Surabaya disajikan nasi balap puyung (lagi). Selesai makan tidur lagi, terbangun sudah mau landing di Soeta. 


Aku ingin ke Lombok lagi, mau ngedrone pantai-pantainya juga bukit-bukitnya, tak lupa kerbau dan sapi-sapinya. Sebenarnya kemarin sempat ke Gili Trawangan juga, tapi mungkin akan dibahas lain kali. Oke mari kita re-cook nasi balap puyung. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Post Comment
Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature