Top Social

[Review Buku] Menjerat Gus Dur

February 01, 2021

review buku menjerat gus dur

Setelah selesai membaca buku Menjerat Gus Dur, rasanya saya ingin menyanyikan lagu ‘Indonesia Tanah Air beta’. Saya enggak nyangka akan membaca buku bertema sosial politik setebal hampir 400 halaman ini dalam beberapa hari saja. Akhir-akhir ini memang cukup concern terpapar hal-hal bergenre politik dari beberapa film dan series di Netflix. Membaca buku Menjerat Gus Dur menambah pengetahuan saya akan dinamika politik di Indonesia pada masa transisi orde baru ke reformasi. Yang ternyata tidak kalah seru dengan series Netflix, mungkin ini yang mmebuat saya tekun sekali membacanya hingga khatam.


Identitas Buku

Judul: Menjerat Gus Dur

Penulis: Virdika Rizky Utama

Penerbit: NUmedia Digital Indonesia

Tahun terbit: 2019

Sinopsis

Dari dokumen-dokumen yang diungkap dalam buku Menjerat Gus Dur ini terlihat bahwa sebenarnya tokoh sentral yang paling berpengaruh dalam upaya pelengseran terhadap Presiden Gus Dur adalah Akbar Tandjung yang saat itu menjabat Ketua Umum DPP Partai GOLKAR / Ketua DPR RI.

Dari buku ini juga kita akan tercengang bahwa ternyata biaya operasional pelengseran Gus Dur beredar di lingkaran HMI senilai 4 Triliun guna menggerakkan BEM se-nasional yg dikuasai HMI. Dana ini digalang oleh bendahara umum partai Golkar Fadel Muhammad dan Fuad Bawazier atas arahan Akbar Tanjung.

Review

Saya membeli buku ini satu tahun setelah booming, tepatnya di Januari 2021. Awal 2020, wah buku ini jadi perbincangan di mana-mana. Tapi saya cukup memantau, ya karena kondisi mentally-emotionally-financially saya pada saat itu sedang ambruk-ambruknya. Perkara buku cetak, sebenarnya sudah saya hindari. Bukan mau sok go green, tapi ini tentang penyimpanan. Saya sering banget teledor, buku ketinggal dimana-mana lalu hilang. Pinginnya bawa buku kemanapun, tapi buku cetak ratusan halaman itu berat. Belum lagi soal rak buku yang semakin sesak dan memaksa saya meng-giveaway puluhan buku di dalamnya.

review bukku menjerat gus dur

Buku Menjerat Gus Dur tidak ada versi digitalnya, bahkan versi cetaknya saja terbatas banget. Saya beli di sebuah toko buku online di Jogja (tapi ini ori loh, bukan foto kopian). Intinya, rasa penasaran saya akan buku yang fenomenal dan sold out dimana-mana ini akhirnya terjawab. Buku Menjerat Gus Dur banyak diburu, terutama oleh orang-orang yang penasaran tentang kasus pelengseran Gus Dur yang diduga merupakan skenario dari beberapa elite politik.


Tidak ada yang spesial dari desain sampul atau tata letak penulisan buku ini. Selama font-nya enak dibaca, untuk sebuah buku cetak itu adalah hal krusial. Pemaparan yang runut, tidak banyak pengulangan, keterangan yang jelas, membuat saya betah membaca buku Menjerat Gus Dur seakan membaca novel thriller.


Tapi, setahun setelah buku ini ramai kok rasanya masih adem ayem saja ya. Maksudnya, tidak ada tindak lanjut yang lebih dalam dari bagian terkait untuk mengungkap ini sebagai kebenaran atau sebagai kebohongan.


Saya mengira buku ini bakal Gus Dur sentris, ternyata tidak loh. Ini menampilkan gambaran dinamika politik di masa itu. Dari mulai orde baru, kejatuhan orde baru, jaman Habibie, lalu jaman Gus Dur. Yang paling menarik adalah bagian ini, saat bagaimana situasi politik-kemananan-ekonomi bisa serunyalm itu. Kondisi tersebut enggak alami, namun bikinan. Jadi lengsernya Gus Dur adalah kerjasama elit politik dengan orang-orang anti demokrasi, ini yang awalnya mungkin tidak terpikirkan oleh kita semua. Banyak hal yang saya belum ketahui, sebab masa itu saya masih kana-kanak. Cuma tahu dari TV saja di gedung DPR sholawat badar setelah Gus Dur dinyatakan menang jadi presiden.

Sebaiknya buku ini tidak hanya beredar dalam pembicaraan orang-orang NU saja sih kalau mau lebih punya dampak sistemik. Membicarakan buku tersebut dari spektrum lebih luas menjadi penting. Terlalu sayang untuk buku yang telah ditulis secara informatif, naratif, dan ilmiah ini jika dibiarkan viral pada wal munculnya saja.

Rate

4.5/5 stars

Quote

“Hendaknya Anda bersabar, bisa menahan kekerasan, karena perjungan untuk menegakan demokrasi membutuhkan keadilan dari kita semua. Demokrasi tanpa keadilan hanyalah sebuah lelucon saja”- Gus Dur.

 

Post Comment
Post a comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature