Belajar Tentang Foto yang Bagus Menurut Fotografer Senior Arbain Rambey

July 30, 2018

Belajar Tentang Foto yang Bagus Menurut Fotografer Senior Arbain Rambey

Aku suka fotografi, sangat suka. Bahkan, aku punya prinsip begini “hal yang akan aku lakukan dalam keadaan sakit maupun sehat, sedih maupun senang, adalah memotret” (tentunya di luar kewajiban sebagai makhluk Tuhan dan makhluk hidup seperti ibadah dan makan). Nggak ada yang instan. Aku mengenal kamera sejak SD lewat kamera pinjaman yang masih memakai film. Belasan tahun kemudian, aku baru mengenal apa itu ISO, aperture, dan beberapa hal teknis yang belum seberapa. Dan kemarin, aku belajar fotografi langsung dari panutanku, om Arbain Rambey. Wow, aku nggak diajari soal pengaturan kamera. Tapi lebih dalam lagi. Aku sekarang tahu foto yang bagus menurut mata fotografer senior Arbain Rambey.

Hape itu kamera bukan?


Rasanya bahagia banget waktu punya hape kamera di semester 2 kuliah. Waktu itu hape LG KG 200 yang punya resolusi 1.3 MP. Segala momen aku abadikan. Jaman prihatin seperti itu, nggak berani bermimpi bisa pegang DSLR lah. Yang penting uang kiriman bulanan bisa buat makan layak di warteg dan bayar fotokopian diktat kuliah.
Hape kamera pertamaku


Sekarang aku pakai iphone 6s, yang secara kemampuan kamera nggak kalah sama Fujifilm XA2 atau sony alpha 6000. Ya, untuk sekedar keperluan upload foto di Instagram atau blog cukup. Produsen smartphone berlomba-lomba mengeluarkan fitur kamera yang super canggih. Sekarang bukan kejar-kejaram resolusi lagi, tapi lagi musim dual kamera dan kemampuan menciptakan foto bokeh.

Lalu dalam ranah dunia fotografi sempat ramai tentang “hape itu kamera atau bukan?” Menurut om Arbain Rambey, hape itu ya kamera juga. Kalau ada foto objek statis dicetak 4R diambil dari hape dan dari mirrorless mungkin kita agak susah bedainnya.

Kelemahan kamera hape itu dalam hal mengabadikan beda bergerak. Hape punya diafragma tapi tak punya rana. Bayangan beda dan kondisi actual nyata tidak sama. Misalkan ada objek seorang wanita yang melempar benda. Ketika difoto dengan kamera hape, yang nampak adalah benda yang dilempar wanita tersebut sudah terlempar tapi pada bayangan benda tersebut masih menempel di tangan si wanita.

Bidang rekam pada kamera hape adalah garis bergerak, Sehingga hasil tidak real. Hape bisa melakukan apapun kecuali objek bergerak. Jangan salah, Koran Kompas pernah menggunakan kamera hape lho untuk fotonya. Hape bisa mode panorama, hal itu tidak bisa dilakukan di DSLR dan mirrorless untuk saat ini.

Mutu sebuah gambar, jika dilihat dari sisi kamera maka ditentukan oleh ukuran sensor, tahun pembuatan sensor, dan firmware yang mengolah. Bukan dari jenisnya mirrorless, DSLR, hape, atau drone.

Belajar foto

Aku lumayan sering ikut workshop fotografi. Tapi kebanyakan membahas hal teknis. Nah kalau kemarin ini pandanganku diperluas oleh om Arbain Rambey.
“Belajar foto adalah belajar cara pakai kamera dan memahami bahasa visual. Dalam foto yang bagus, ada 10% teknis, dan 90% pemahaman. Secara garis besar unsur foto itu ada 4 yaitu teknis, Posisi, Komposisi dan Moment. Mulailah dengan posisi, komposisi, moment. Fotografi adalah menemukan. Foto bagus ditentukan oleh mind bukan teknis.”
Rasanya kalimat di atas jleb banget. Aku pernah ngalamin masa-masanya bebas berekspresi. Maksudnya, aku nggak pedui settingan kamera. Nggak mikir dulu pakai lensa yang ini atau yang itu. Lensaku cuma satu yaitu lensa bawaan. Sekalinya jalan ke sebuah tempat, pasti bisa dapetin banyak banget foto layak upload. Jaman itu aku belum kenal teori ini itu soal kamera. Aku pakai mode auto atau aperture priority. Kalau terlalu terang atau gelap ya nanti diedit saja. Simple. Asik. Selow.
arbain rambey

Ternyata hal ini dibenarkan oleh om Arbain. Jangan merasa malu pakai mode auto. Kamera dibuatakan mode auto biar kita mudah. Semakin bagus kameranya, mode auto nya makin akurat. . Tak ada aturan yang mengatakan bahwa pemotretan usai di kamera. Editing bukan hal yang tabu atau menjijikan.

Jenis kerja memotret

Jika dikelompokkan, objek foto itu ada 4. Manusia, lanskap, benda mati, dan acara. Memotret manusia kuncinya adalah kedekatan. Misalnya kita datang ke sebuah tempat kalau ujug-ujug memotret barangkali hasilnya tak akan sebagus jika kita ngobrol dulu dengan objeknya. Setidaknya menyapa.

Untuk fotografi lanskap, yang harus diperhatikan adalah posisi dan timing. Pagi dan sore adalah waktu terbaik untuk mengambil gambar. Editing tidak akan mampu menghasilkan gambar yang sama antara foto di siang dengan pagi hari.

Pada saat memotret benda mati, aspek pencahayaan sangat penting. Misalnya memotret makanan atau memotret produk. Tidak akan menarik jika foto yang dihasilkan suram dan buram. Tiadak harus cahaya alami, maka para fotografer produk biasanya memiliki studio dengan lighting yang mumpuni.
Memotret pada event atau acara, tentunya kita harus tahu susunan acaranya. Pikirkan juga kemungkinan yang akan terjadi dapa setiap moment. Misalnya memotret untuk acara akad nikah. Susunan acara akan memudahkan kita menentukan angle terbaik. Om Arbain menceritakan ketika momen pelantikan Jokowi. Bagaimana tim fotografer sebuah media besar seperti kompas bekerja. Sebelum memotret, sudah ada rencana matang. Ada yang bertugas di dalam gedung DPR dengan segala angle. Ada yang di jalanan, di halte busway, di jembatan layang. Tentunya setiap fotografer memiliki tupoksi masing-masing.

Jenis foto

Pernah tahu foto termahal di dunia? Ini dia. Kami peserta workshop ditanya, mengapa foto ini jaid foto termahal. Ahaha jangan sedih atau minder kalau kalian juga bingung. Ukuran foto mahal itu nisbi, absurd, nggak ada gradenya.
rhein foto termahal

Foto itu ada foto seni dan foto guna. Kalau foto seni ya seperti foto termahal di atas. Kalau foto guna, itu seperti foto dokumentasi dan foto informative. Foto-foto di blog aku ini kebanyakan foto dokumentasi. Kadang juga foto informative untuk memperkuat tulisan.

Beda human interest dan portrait

Human interest dan portrait adalah tentang “apa”. Om Arbain Rambey cerita,  suatu kali ada lomba foto dengan tema human interest. Sebagian besar foto yang masuk adalah foto dengan objek orang miskin berwarna hitam putih. Iya sih, aku akui sering melihat foto human interest tuh kayak gitu.

Human interest itu yang penting ada interaksi oleh manusia yang menjadi objek. Misalnya foto sinden ini yang aku ambil saat pagelaran wayang wong. Kalau sinden sedang ngobrol dengan pemain gamelan, dia masuk human interest. Kalau dia hanya menghadap ke aku sambil senyum, mausknya portrait.

Apa sih foto street?

Street foto adalah tentang “dimana”. Sering kita bingung “ini foto mausk kategori street apa human interest sih”. kalau fotonya berada di permukaan bumi, itu namanya foto street. Kalau fotonya dari udara, namanya foto aerial. Misalnya nih, foto sinden tadi. Kalau aku motretnya dari permukaan bumi ya masuk kategori street. Kalau aku motretnya dari drone, ya masuk kategori aerial.

Foto candid itu yang mana?

Candid adalah tentang “bagaimana”. Foto human interest, street, dan candid, itu beda kategori. Dalam satu foto bisa mencakut 3 kategori tersebut. Kembali ke contoh sinden wayang. Kalau si mbak tak melihat aku memotretnya, namanya candid. Jadi dalam sebuah foto sinden ini masuk kategori human interest, street, dan candid.

Foto unggul

foto bagus definisi

Kesimpulannya, jangan berhenti memotret. Jangan rusuh sama urusan teknis. Memotretlah dengan suka cita.
12 comments on "Belajar Tentang Foto yang Bagus Menurut Fotografer Senior Arbain Rambey"
  1. nice mb. jadi tau beda human interest ma portrait

    ReplyDelete
  2. tulisannya inspiring banget. beberapa kali minder mau belajar fotografi dari kamera krn liat temen2 punya kamera yg lebih layak. padahal semuanya perlu belajar dr yg dasar ya

    ReplyDelete
  3. Saya juga suka fotografi, tapi masih minim ilmunya. jadi pengen ikut kelas/workshop fotografi, boleh minta infonya enggak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sering kepoin IG nya para fotografer misal om Rambey deh

      Delete
  4. Jadi, itu foto termahal di dunia, karena apanya?
    Komposisi? Atau apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. foto seni itu penilaianya subjektif, terserah hati yang mau bayar

      Delete
  5. Postingan yang bagus Mbak Nay. Makasih udah merangkum. Aku izin mengutip buat materi ekskul fotografi ya Mbak ^^

    ReplyDelete
  6. nampaknya sudah siap sekali untuk jadi superblogger atau jurnalist

    ReplyDelete
  7. Oh pernah ikut pelatihannya ya, mbak pantas terlihat ngobrol di IGnya. Untuk fotojurnalistik beliau memang informatif. Mode auto bagi wartawan foto memang paling praktis...karena harus nangkep momen ya. Soal edit bukan hal tabu...kecuali kalau ikut lomba mungkin, misal sampai menambahkan atau menghilangkan satu unsur di foto bisa didiskualifikasi hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya di beberapa lomba aturanya strict banget

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature