Review Buku Literasi Visual, Harus Dibaca Photography Enthusiast

January 21, 2019

Review Buku Literasi Visual
Membaca visual itu 60.000 kali lebih cepat daripada membaca teks. Percaya? 

Apakah kamu termasuk yang sering bingung ketika ingin menuliskan caption foto untuk Instagram? Ya memang segitunya, sampai-sampai ada jasa pembuatan caption atau aplikasi caption generator. Pemirsa memang pelu sebuah keterangan untuk sebuah foto meskipun itu hanya beredar di jagad Instagram bukan di surat kabar. Kadang pemahaman akan foto belum kita miliki dengan baik karena kurangnya literasi visual. Aku baru saja menyelesaikan membaca buku berjudul “literasi visual”. Buku yang ringan tapi isinya padat dan bisa langsung kita terapkan.

Identitas Buku

Judul: Literasi Visual
Penulis: Taufan Wijaya
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2018
Genre: Fotografi (semua umur)

Resensi

Ringan dibaca

Buku Literasi visual ini aku beli di e-commerce, bukan di toko buku nyata. Biar mudah aja gitu kan, dan harganya ternyata lebih murah. Ketika sampai, aku tak langsung membacanya, ndak sempat. Beberapa hari kemudian aku harus melakuakn perjalanan ber KRL dari Cikarang ke Cikini. Kebetulan kereta sepi karena belum jam pulang kerja. Alhamdulillah bisa khusyuk banget membaca sampai kelar sebuku langsung saat itu juga.
Review Buku Literasi Visual

Menelaah Fotografi

Bab pertama buku Literasi Visual isinya tentang telaah fotografi. Di sini aku mulai sadar, bahwa buku ini layak djadikan referensi ilmiah. Tentu saja ini bukan buku trik memotret atau kamu tak akan menemukan aturan-aturan settingan kamera.

Di balik itu, justru aku menemukan telaah mendalam tentang apa itu fotografi. Jadi ingat waktu ikut sesi fotografinya Arbain Rambey di Danone Blogger Academy. Mana foto dokumenter, foto jurnalistik, dan foto cerita. Apa saja yang membedakan dan bagaimana sensor serta estetika dalam sebuah foto.

Baca: Berkah Ngeblog, Masuk Danone Blogger Academy
Literasi visual berguna untuk memahami hubungan antara apa yang kita lihat, apa yang kita pilih agar dilihat oleh orang lain, apa yang orang lain pilih untuk dilihat, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri.

Budaya visual

Salah satu bagian yang menarik bagiku dari buku literasi visual adalah tentang kemajuan dan budaya dalam fotografi. Foto prewedding misalnya? Aku jadi berpikir jauh tentang ini. Perlukah itu buatku nanti?
Lalu tentang swafoto atau selfi, yang jadi budaya. Anyway aku nggak suka foto selfi, silakan cek ke hapeku atau mirrorlessku deh. Hahahha. Swafoto menampilkan eksistensi, mengukuhkan status, dan kadang menipiskan batas antara yang privat dan publik.

Suara Perempuan dalam Fotografi

Sering banget sih ini terlintas di fikiranku. Kenapa model-model foto itu sebagian besar perempuan? Pasti kalian akan menjawab “semua hal tentang perempuan itu indah”. hmmm…hallo hallo fotografer perempuan, ayo dong kita jangan ikutan pakai pikiran lelaki.

Etika

Yang tak kalah seru adalah bab tentang etika atau kesopanan dalam fotografi. Sehari-hari masyarakat sering abai atas pertimbangan etis ketika dengan begitu mudahnya menerima kiiman gambar kemudian membaginya kembali. Apalagi di zaman sekarang, saat orang serba terburu-buru dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Rate

4.5 dari 5 bintang untuk Buku Literasi Visual. Cocok untuk siapapun yang merasa tertarik dengan dunia fotografi. Bukan sekedar cuap-cuap penulisnya, terbukti Taufan Wijaya menggunakan banyak sekali referensi dalam penulisan buku ini (hingga perlu 6 halaman untuk menuliskannya).

Quotes

Ada bagian buku Literasi visual yang quotesnya merasuk banget.
Pemaknaan foto dipengaruhi oleh pengetahuan tentang aspek kultural dan historis, sehingga foto yang sama akan dimaknai berbeda oleh orang yang berbeda budayanya, kelasnya, dan seterusnya.

2 comments on "Review Buku Literasi Visual, Harus Dibaca Photography Enthusiast"
  1. Menarik juga bukunya, nay. setuju dengan tentang kita bisa berkontribusi membri suara pada sejarah, jadi gak dimonopoli penguasa. Media sosial kalo dipakenya bener mah begitu emang. Bukan berarti gak bisa suka-suka :D Tapi buat kita yang 'serius' pake medsosnya, nah kontribusi kita gede banget (walo followers cuma ribuan khekhekhe).

    Dan etika fotografi itu kadang2 hati nurani yang bicara. Jangan mau dikontrol gawai. Kadang2 harus mikir dulu, bener ga kalo saya moto ini, perlu gak, apakah harus, dsb, dst.

    ReplyDelete
  2. bukunya menarik ya nay kayaknya. Itu seberapa tebel sih kok bisa selesai sekali duduk?

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature