Lakukan Ini Sebelum Membuang Air Limbah Domestik Ke Selokan

April 05, 2017
Kamu pernah mengalami krisis air hingga harus mandi pakai Aqua galon? Biasanya kita yang mandi dan mencuci bebas jebar-jebur tiba-tiba harus menghemat air besar-besaran. Air sekawasan perumahan mati  total. Masjid, musola, pom bensin, bahkan mall saja tidak ada air. Begitulah kondisinya jika suatu saat air bersih makin menipis. Di sisi lain, kita dengan santainya menghasilkan limbah cair domestik yang jumlahnya makin fantastis dari hari kehari.
infografis air limbah domestik


Ratusan tahun lalu, tanah dan cinta jadi penyebab perang. Puluhan tahun ke belakang minyak bumi dan gas alam memecah belah bangsa. Bisa jadi, puluhan tahun yang akan datang...airlah yang menjadi rebutan. Kita semua sudah diajari siklus air sejak SD. Sudah hapal di luar kepala, tapi yang mungkin terlupa adalah bahwa jumlahnya tak pernah berganti.
Air mengalami siklus, kuantitasnya tidak akan berubah, yang berubah adalah kualitasnya.
Jadi, ibarat ada 1 liter air layak pakai di bumi nih...kalau sudah menguap lalu jadi air hujan, ya tetap 1 liter. Tapi, apa kualitasnya masih sama? Apa yang bisa kita pakai masih 1 liter juga? Belum tentu.


Bau Got Atau Bau Hantu?

Kebangun tengah malam karena bau got? Saya pernah mengalaminya, bahkan sempat berpikiran ini adalah kerjaan hantu. Ih bener nggak sih bau-bauan busuk di malam hari adalah pertanda makhluk halus yang iseng? Yang pasti, bau got dan bau-bauan aneh adalah hal yang wajar untuk orang yang tinggal di kawasan industri seperti saya. Kadang malah air keran baunya mirip kopi luwak gitu, bukannya enak sih malahan bikin mual.
Sungai petungkriyono
salah satu contoh sungai yang airnya masih alami di Pekalongan
Komplek saya sudah punya water treatment untuk industri sebenarnya. Soalnya industri kan ada undang-undangnya kalau ngga boleh buang limbah langsung begitu saja. Bagaimana untuk perumahan? Meski saluran drainase sudah keren dan terintegrasi, sayangnya semua itu langsung mengalir ke sungai. Ngeri banget kan? ya pantes sungai Citarum jadi sungai terkotor di dunia.

Tifus Menjangkiti

Dua tahun yang lalu badan saya tiba-tiba drop dengan gejala kurang nyaman di perut. Tanpa pikir panjang, saya datang ke dokter penyakit dalam. Kenapa ngga ke dokter umum? Karena antrinya panjang banget. Hasil pemeriksaan fisik, bu dokter langsung tersenyum dan bilang seperti ini:
Perut orang sini nggak ada yang bersih, sudah sana cek lab dulu
Benar saja, hasil cek darah di lab rumah sakit membuktikan saya positif tifus. Penyakit yang erat hubungannya dengan sanitasi.
hasil uji lab tifus

Lima tahun saya tinggal di perumahan yang merupakan bagian dari kawasan industri. Sejak awal di sini, saya tidak pernah menggunakan  air keran sebagai air minum. Meski begitu, mandi...cuci...termasuk sikat gigi pakai air keran. Hiiiii paparan masih bisa banget masuk kalau gitu.

Keinget Jaman Kuliah

Beberapa hari sebelum hari air yang jatuh pada 22 Maret, saya hadir di event di Danone Aqua Institute. Rasanya seperti ditampar sama pak Gunawan Wibisono yang menjadi pembicara pagi itu.

Bincang air aqua
source: twitter Aqua Lestari
Hello...itu dapat kuliah pengelolaan limbah berapa SKS kok ngga diaplikasikan? Kataku dalam hati
Nggak cuma teori, saya juga pernah praktikum ke instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) di rumah potong hewan Bogor. Soal reaktor biogas yang bisa mengelola limbah tinja dan urin, hmm...sudah praktikum juga di lapangan. Soil water analysis tools yang dipakai AQUA untuk pemetaan kondisi air tanah, dapat juga praktikumnya. Tapi apa yang saya lakukan? Ikut-ikutan memenuhi selokan kompleks dengan limbah domestik.


4 Cara Mudah Mengelola Limbah Cair

Kenapa sih kita musti ngurusin limbah cair rumah tangga? Kan cuma sisa mandi sama nyuci doang? Itu mungkin yang ada di pikiran kita sejauh ini, sepertinya tak ada salah jika busa sabun ngalir ke selokan. Sabun, detergen, shampo, mengandung fosfor dan nitrogen. Zat ini bisa mengganggu kestabilan ekosistem, mencemari air tanah, selain juga secara pandangan mata nggak enak.
mengapa mengelola limbah cair

Saya sempat melontarkan pertanyaan soal pengelolaan air limbah ke beberapa grup whatsap. Jawabannya hampir sama ternyata,
Limbah cair rumah tangga ya langsung dialirkan ke selokan saja, kecuali kalau industri...itu baru harus diolah dulu.
Adapula yang menjawab begini
Kalau limbah kamar mandi langsung ke selokan, tapi kalau septic tank...pakai pasir dan kerikil gitu di konstruksinya.
Memang sih, menurut data UN water 80% limbah air di dunia langsung dibuang tanpa dikelola dahulu. Tapi ya masa kita mau jadi bagian dari perusak ekosistem?

Pas di bincang air, pak Gunawan memaparkan soal pengelolaan limbah. Apa saja yang bisa kita aplikasikan sendiri di rumah?

1| Membuat Saluran limbah cair yang memadai.
Beruntung deh kalau air sisa cucian wastafel atau kamar mandi kamu sudah pakai paralon yang baik. Paralon itu ditempatkan di lokasi yang aman sehingga limbah tidak ngalir bebas kemana-mana. Kenapa saya bilang beruntung? Meski ini sangat sederhana, masih banyak yang belum sadar akan hal ini terutama di wilayah yang kumuh atau di desa-desa.

Akan lebih baik jika pipa pembuangan limbah cair domestik ditempatkan di bawah permukaan tanah.

2| Memanfaatkan Air Bekas Cucian.    
Kalau kamu ngga pernah ngalamin krisis air, pasti bakal santai nyuci kaos kaki sepasang dengan air seember. Setelah itu, air pembilasnya seember lagi deh. Bekas rendamannya langsung saja ngalir ke selokan. Ini langkah simpel banget lho, si bekas cucian kita itu bisa dipakai buat nyiram tanaman. Kalau nggak punya tanaman gimana? Ya bolehlah siram tanaman tetangga. Apalagi kalau cuma nyuci sayur dan buah, airnya kan ngga sebutek nyuci kaos kaki ahahhaa. Sayang atuh kalau dibuang langsung mah.

3| Menggunakan sabun, detergen, dan shampo ramah lingkungan.
Salah satu cara meminimalisir limbah cair domestik adalah pakai sabun, shampo, dan detergen ramah lingkungan. Sekarang sudah banyak kok homecare seperti itu, ya mungkin agak mahal sedikit...tapi nggak apa-apa ya demi lingkungan yang lebih baik. Kalaupun ngga nemu yang ramah lingkungan, bisa kok dengan cara meminimalisirnya. Misal, nyuci piring pakai jeruk nipis.

4| Merancang Individual Wetland (Taman Tanaman Air).
Nah, kalau ini...butuh sedikit modal. Kita bisa merancang individual wetland sederhana. Wetland adalah hal yang baru saya ketahui dari pak Gunawan. Lho kok ternyata sederhana, menarik, dan estetik. Kamu pernah melihat rawa? Konsepnya mirip seperti itu sebenarnya. Wetland atau lahan basah buatan adalah cara pengelolaan limbah cair domestik dengan mengalirkannya pada sebuah area. Di area tersebut terdapat tanaman air sebagai penyerap nitrogen dan fosfor yang terkandung dalam limbah cair.
wetland constructed

Air limbah tersebut mengalir ke bagian lain untuk disaring lalu bisa kita pakai. Buat apa? Bolehlah nyuci kendaraan pakai air itu.
wetland design
source: limnos.si
Langkah sederhana dari saya, kamu, dan kalian...bisa memperbaiki planet ini. Percayalah,ini bukan kalimat yang berlebihan.
Kalau kamu punya ide lain soal pengelolaan limbah cair rumah tangga...boleh banget dibagikan di kolom komentar. 
23 comments on "Lakukan Ini Sebelum Membuang Air Limbah Domestik Ke Selokan"
  1. saya pernah ke tempat bude di jakarta, pas minum air putih disana juga ada rasa-rasa anehnya gitu. pas diminum pun rasanya kurang seger di tenggorokan mungkin air kran-nya kena limbah juga ya mbak hehe

    itu yg air bekas cucian kalo dirumah saya juga sering tak buat nyiramin taneman sama mbersihin teras rumah dari kotoran (semacam ngepel gitu ^^) tapi kalo pas dikost'an tak buang gitu aja. lha bingung mau diapain. mau nyiram taneman, di deket kamar mandi kost ngga ada taneman

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyak seperti itulah kondisi air keran atau air sumur di jakarta dan skeitarnya. makanya aku minum aqua mulu, heuheu.

      Delete
  2. ini sebenernya gue bingung sih, na
    jadi kita yang orang perumahan bikin saluran baru lagi gitu ya?
    kenapa nggak yang langsung kayak, kalau bikin rumah sekligus di wajibin bkin saluran penyaringan gitu, na?
    agak'' ribet sebenernya ya buat nyaring air kayak gitu. tapi kalau liat akibat yang ditimbulkan oleh air'' limbah lebih serem uy.

    gue masih yang kayak gitu sih, bersihin kaos kaki bergayung'', dan ngebilasnya bergayung'' juga. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena belum ada aturan undang-undangnya buat perumahan Zi. beda sama pabrik gitu, sudah ada aturan...makanya pas bangun industri kudu mikirin juga soal limbah B3 maupun limbah domestiknya. udah gitu ada audit berkala

      Delete
  3. aduh gimana ya memilih memilah limbah cairnya, soalnya kalau sudah masuk ke kamar mandi atau ke dapur buat cuci piring pasti muaranya ke satu saluran deh.. perlu penelitian lebih lanjut ya gimana aga limbah rumah tangga bisa memisah sendiri atau pake alat apa gitu hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. dipilah? ngga perlu mba, asal itu bukan sama septic tank gapapa kok. bekas cucian itu kita masukin ke bak penampungan wetland itu bisa untuk pengolahan sebelum ke sungai

      Delete
  4. Ya harusnya sekarang gak cuma industri atau bangunan umum yang dicek Amdalnya, ijin pembangunan perumahan juga harus ada syarat punya IPAL sendiri.

    Kalau udah terlanjur pembuangannya ke selokan, selokannya ditanemin eceng gondok sama dipasang biofilter aja, itu mayan bisa mereduksi zat kimia dari limbah RT

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, eceng gondok itu konsepnya kayak wetland...cuman di wetland dipikirin juga aspek estetikanya , jadi pakai tanaman hias air

      Delete
  5. Aku pernah nyium bau got ya ampun gengges banget apalagi tiap hari

    ReplyDelete
  6. sepakat sama komen meriska diatas meskipun ya eceng gondoknya kudu tetep dijaga sampek seberapa boleh tumbuh soalnya ni taneman cepet banget numbuhnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang terbaik adalah pakai tanaman hias air, kalau eceng gondok nanti jadi gulma...bikin dangkal perairan

      Delete
  7. aku pernah memilah limbah pospak sblm kubuang, memang dilema ya antara sampah dan kebersihan air sdh mulai tercemar

    ReplyDelete
    Replies
    1. pospak termasuk limbah cair bukan ya? wah bagus mba sudah care banget sama lingkungan

      Delete
  8. Semakin banyak perumahan bikin kandungan air di Jabodetabek jadi nggak begitu bagus ya. Di lingkungan rumahku pun begitu. Kadang kuning dan harus pakai filter.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngeriin banget, ngga tega buat masak

      Delete
  9. Bau hantu itu dimana sih? Hehehe

    ReplyDelete
  10. Iya ya air bekas cuci piring atau cuci baju mestinya bisa di-reuse, sebelum kemudian dibuang.. Mengefisienkan pemakaian air, sebagai wujud bahwa kita sayang alam >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, itu cara yang paling sederhana tanpa harus rancang ini itu

      Delete
  11. Yang kasian biota air yang tinggal disungai..
    kalau ditempat ane got got diperumahan buangan akhirnya disungai, alhasil sungainya jadi kotor n tercemar :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. masalah di smeua wilayah kurasa ya, semua maish buang limbah domestik ke got

      Delete
  12. Kalau pengelolaan air PAM disini kerjasama dg pemerintah Perancis. Mbuh kok bisa gitu. Yang concern itu ya homecare yg ramah lingkungan. Belum ada sih homecare yg pakai stiker ramah lingkungan di kemasannya. Dulu pernah lihat sekali tp produk ekslusif aka mahal banget. Coba KLH encourage industri utk bikin homecare ramah lingkungan massal trus dibantu promonya, jangan subsidi ntar manja. Kalau pembeli banyak, otomatis harga bisa ditekan.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature