Sunrise terindah itu ada di Dieng

April 22, 2016


golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
golden sunrise at prau mountain


Hari ke 101 tahun 2016 saya buka di padang bunga daisy gunung prau Dieng. Konon, sunrise di gunung prau adalah salah satu yang terindah di Indonesia. Tak heran jika saat weekend tiba, tenda-tenda pendaki menyemut demi sensasi melihat 4 gunung sekaligus dalam satu tatapan mata. Gunung sindoro, sumbing, merapi, dan merbabu akan kamu saksikan secara nyata bersamaan dengan munculnya mentari pagi. 


Perjalanan Naik Ke Gunung Prau
Saya naik ke gunung prau pada hari sebelumnya. Jadi, sempat menginap semalam biar terasa petualangannya. Perjalanan mendaki saya tempuh bersama 10 rekan lain dari pos pendakian Patak Banteng. Tak mudah melewati medan yang normalnya cuma perlu waktu 2 jam saja ini. Tantangannya adalah kabut tebal, hujan, dan petir gunung yang luar biasa. 



Saturday Night At Prau Mountain
Malam mingguku tak sendiri lagi saat itu. Hati hangat penuh antusiasme meski badan kedinginan efek angin gunung. Semenjak lepas maghrib, jaket tebal sudah saya kenakan. Sarung tangan, kaos kaki, dan sleeping bag sekalian. Saya benar-benar takut hipotermia seperti yang sering didengar dari teman-teman pendaki. 

“but..minggir ke kanan dikit dong” kata saya dari depan tenda
“ngapain” jawab teman
“saya mau ngeliatin kompor...biar ada sugesti rasa anget”

Iya, ternyata melihat kompor yang menyala bisa membuat saya terasa hangat..hahaa. 

“woi..bangun bangun..ayo lihat milky way” seru mas kaka

Saya, mba Widi, dan mba Wulan sudah khusyuk di sleeping bag masing-masing. Jadi, malam itu dihabiskan dengan bercengkerama. Saya tidak bisa tidur nyenyak, sebab kondisi puncak sangat ramai malam itu. Lebih ramai dari perkemahan jambore sekabupaten. Apalagi menjelang pagi, makin banyak pendaki yang sampai di puncak untuk menyaksikan sunrise tanpa menginap.


Jahe Bakar Rasa Rumah
Pukul 05.30 sebagian besar pendaki sudah mencari spot paling keren untuk mengabadikan penampakan gunung 4 sekawan (sindoro, sumbing, merapi, merbabu) serta mentari. Pun dengan teman-teman serombongan saya tak ketinggalan. 


“minum ini nih..anget” kata mba Wulan menyodorkan mug berisi wedang jahe
“eh..iya..enak..” jawab saya
“jahe asli itu mba” kata si pembuatnya, mas Fai
“dibakar dulu kan mas jahenya?”
“iya”

Huwaa...ini berasa di rumah. Beneran deh, wedang jahe seperti racikan mas Fai itu cuma saya rasakan pas sedang di kampung halaman. 

“kita ke bukit teletubbies yuk” ajak mas Fai
“jauh ngga? Naik turun bukit ngga?” tanya saya
“tuh...di sana” mas Fai menunjukkan deretan bukit kehijauan yang sepi. 

Area di sekitar tenda-tenda sudah penuh dengan manusia yang berfoto atau menerbangkan drone. Jadi, mencari lokasi yang masih sepi untuk menikmati sunrise adalah pilihan terbaik. Saya ikuti langkah mas Fai yang cepet banget (padahal dia tidak memakai alas kaki).

Golden Sunrise Gunung Prau
Setelah naik turun beberapa bukit dan melewati padang bunga daisy, berhentilah langkah mas Fai. Pantas saja orang rela jauh-jauh ke sini, yang terlihat benar-benar seperti foto di kalender. Siapkan kamera, drone, dan pasang mata baik-baik ya.

Yang saya lihat ini golden sunrise bulan April yang kata orang masih kalah indah dengan golden sunrise gunung prau pada bulan Juli atau agustus. Kamu tetap bisa melihat 4 gunung dalan satu tatapan mata kok. Menakjubkan !

Sarapan ala gunung
Di puncak gunung prau tidak ada yang berjualan makanan. Yang kami lakukan adalah memasak dan makan bersama. Nasi putih, sosis, tempe, otak-otak, terasa sangat nikmat jika disantap beramai-ramai di alam terbuka seperti ini.

Usai sarapan, kami ber 11 siap-siap untuk kembali ke kehidupan asal alias turun gunung. Packing ternyata bukan perkara mudah. Bawaan terasa lebih berat dari saat mendaki.



Tepat jam 10 pagi, doa diucapkan bersama-sama sebelum kami memulai langkah menuruni gunung prau via jalur dieng.

Puncak 2565 mdpl?
Jalur Dieng kami pilih sebab medannya yang landai meski jarak tempuhnya lebih lama. Lagipula, bosen ah..masa lewat jalan yang itu-itu saja. Tak jauh dari bukit yang beberapa jam sebelumnya saya tapaki untuk menatap matahari terbit, ternyata terdapat jalur yang bisa membawa kami menuruni gunung prau.
golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
peta jalur dieng
Setengah jam perjalanan pemandangan yang kami saksikan hanya bukit dan bukit layaknya di teletubbies. Panas menyengat saat di depan saya terbentang tanjakan cukup tinggi. Ternyata saya tak perlu mendakinya, hanya memutari bukit.
golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
eh ini tanjakan cinta?
Di balik bukit, udara terasa lebih dingin. Kabut mulai turun mendorong saya berjalan lebih cepat. Tapi, sayang sekali jika momen ini lewat begitu saja bukan?
golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
berasa di film-film
Saat saya berniat istirahat setelah melewati sebuah tanjakan, mata tertuju pada tugu kecil. Puncak ? lho..yang tadi di tempat perkemahan bukan puncak dong? Ternyata, puncak gunung prau 2565 mdpl itu letaknya di jalur Dieng. Syukurlah kami lewat sini, meski tidak ada pemandangan di puncak selain kabut tebal.
golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
puncak 2565 mdpl beneran

golden sunrise di gunung prau dieng, jalur pendakian patak banteng, bermalam di gunung prau, tips mendaki gunung prau, matahari terbit di gunung prau, jalur dieng gunung prau
tugu puncak gunung prau
Jalur babi
Selepas puncak, jalur yang kami lewati bukan lagi padang rumput melainkan jalur babi. Eh..maksudnya jalur setapak yang sangat sempit. Semak belukar, kadang jurang, dan harus sangat hati-hati. Di antara puncak dan jalur babi ada persimpangan, ya..kamu bisa memilih lewat bawah tower pemancar sinyal telekomunikasi atau lewat jalur babi. Yang saya pilih adalah jalur babi karena bebas dari tanjakan. Menurun saja terus, jadi persiapkan lutut ya dan awas terpeleset.

Tugu Perbatasan Batang-Wonosobo
Menemukan tempat landai, kamipun berhenti sejenak.

“lho..perbatasan batang-wonosobo?” teriakku seakan sudah sampai di seberang kampung halaman.

Gunung prau adalah patok perbatasan untuk kabupaten Batang, Kendal, dan Wonosobo. Jadi, pantas saja jika di tengah hutan cemara seperti ini ada tugu perbatasan.



“ini Batang daerah Gerlang, yang ada telaga Sidringo” jelas mas Fai

Jalur Dieng ternyata memang bukan pilihan yang salah untuk kepulangan kami. Dengan riang gembira meski ancaman terpeleset selalu ada, sampailah kami di batas ladang dan jalur pendakian.

Selepas ladang, pos pendakian Dieng sudah terlihat di depan mata. Kamu bisa membuang sampah sisa pendakianmu di sini.


Welcome To Dieng
Berjalanlah melewati perumahan penduduk usai pos pendakian Dieng. Kamu akan menemukan kembali ATM, minimarket, toilet umu, dan aneka penjaja oleh-oleh khas Dieng. Hal pertama yang saya lakukan adalah membalas bermacam jenis chat dan sms. Setelah itu mencari ATM dan membeli celana untuk ganti.

Tips Survive di Gunung Prau
1| Pastikan fisikmu sehat dan mantap (punya motivasi) untuk bisa sampai puncak
2| Siapkan perbekalan yang cukup (di atas tidak ada air)
3| di puncak prau tidak ada sinyal. Kabari keluarga, boss, dan orang yang kira-kira akan mencarimu.
4| pemula? Jangan naik gunung sendirian
5| jika merasa kurang enak badan, informasikan ke rombongan
6| kepala berat? Badan pegal? Dingin tak terkira? Itu gejala hipotermia, hangatkan badan segera dan (baca no.4)
7| Tidak ada toilet, percaya dirilah untuk menggunakan semak-semak, jangan ditahan
8| Ibadah jangan terlewat
9| Turun gunung jam 9-10 pagi agar tidak terkena hujan di jalan
10| Hujan? Matikan handphone, awas banyak petir
Setiap perjalanan pasti memberikan pelajaran yang berbeda-beda. Kesan mendalam terhadap berbagai peristiwa mampu menyadarkan bahwa "banyak cara indah menghadapi problematika kehidupan"
-inayah                                                                                                                                                                                                                           
45 comments on "Sunrise terindah itu ada di Dieng"
  1. belum pernah ke Prau, pernahnya ke Sikunir. Sayang, suasana diatasnya saat itu rame parah, susah mau selfie dengan latar sunrise. Seandainya buka lapak bisa laris manis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Area deket perkemahan memang ramai banget mba...coba melipir dikit ke sisi bukit yang lain..

      Delete
  2. Mendaki gunung udah kayak self healing aja ya...

    Aku pernah ke Dieng, yg kuingat tempatnya dingin. Kepengen kesana lagi deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dingiinn banget.
      Agustus tuh puncak keramaian di Dieng karena ada festivalnya Li

      Delete
  3. Sekarang rame banget yak. Dulu masih suepi. :)

    ReplyDelete
  4. salah satu tempat yang pingin banget dikunjungin nih, Dieng. Pasti indah banget yaah liat sunrise disana

    ReplyDelete
  5. Jalur dieng emg cenderung sepi. tapi di aas ya sama aja ruame :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..kayak jambore tingkat propinsi hahaha

      Delete
  6. Huhu, selalu iri kalo liat orang naik gunung... tapi ga yakin saam diri sendiri kuat apa gak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yakiin bisa. Gunung2 kecil dulu mba

      Delete
  7. Poin survive no.7 ngga nahan....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah dibilang jangan ditahan haha

      Delete
  8. Wah ini bisa jadi destinasi nih untuk didaki selanjutnya wah harus dikasih tau dulu nih ke teman komunitas saya kayanya muantappp juga.

    ReplyDelete
  9. Aaakkk jadi inget dieng lah aku
    Uda hampir nyampe tengah2 jalan yang nanjak ealahnkejebak muacet hihihi
    Kudu peka sama jalur vabi ni lain kali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cocok nih Nit buat program hamil

      Delete
  10. Mbak Inna saya ikut membayangkan melihat Milky Way dalam Suasana dingin ditiup angin di atas gunung Prau itu, aduh indah banget. Kapan ya saya bisa naik gunung seperti itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. So sweeet.
      Hayuuk atuh ke Prau :)

      Delete
  11. Aaah jadi pengen naik gunung. Beneran bagus banget ya mbaak.. itu gambar gunungnya bisa berjejer gitu. masyaallah..

    Tapi saya mah belum pernah naik gunung sebelumnya, apa itu tidak apa apa kalau misal nanti mau kesini gitu ?
    Ohya.. mbak innayah ini sama rombongan apa?
    rekan kerja kah?
    Atau komunitas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga pemula lho mba.
      Ini aku bareng temen kerja 3 orang..yg lain temennya temen..temenya temennya temen hahhaa. Jadi nambah temen

      Delete
  12. Jadi tambah pengen ke Prau nih Mba Inn.. tapi keknya musti nunggu sikecil gedean dikit. kalaupun dia betah dinginnya ya rempong gendongnya :P

    Btw bukit teletubbies jg ada di daerah waduk cemethi, masuk wilayah Banjarnegara dari Dieng masih naik lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. woohh pernah kesana mba? ceritanya dibagi juga dunk... :)

      Delete
  13. saya pernah ke Dieng Plateu
    kereen dan bikin krasan
    salam sehat dan sukses mbak
    amin

    ReplyDelete
  14. aaa selalu iriii liat tulisan nay tentang jalan2, apalagi ini ke prau. aku mau ke prau! aaaaaa >.<
    ahza cepet gede dong, nanti temenin ibu naik gunung lagiiiiii..
    ahaha.. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak balita diajak lho mba..tapi ngga ngecamp gitu, pagi aja lihat sunrise naiknya

      Delete
  15. Replies
    1. ayo ayo..disambangi :) bersama keluarga naik gunung bareng..so sweet

      Delete
  16. jahe anget itu dimanamana emang enaak anget ya rulnay hihi :))

    ReplyDelete
  17. Justru Sindoro malah aku udah pernah kesana, tapi kalo Prau malah belum pernah. Kalo turun malah ringan kan, airnya minum udah habis, udah gak berat bawaanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. berat mba bawa baju basah sisa kehujanan pas berangkat hahaha

      Delete
  18. Keren bgt sunrisenya.. dan alangkah beruntung teman2 yg sudah sampai ke sana.. Prau.. Dieng, ahh kapan ke sana....akkk

    slalu suka liat Foto lanskap mba Nay

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mba Ira..

      alhamdulillah, semoga kita sellau diberi kesehatan dan kesempatan menjelajah bumi Allah

      Delete
  19. blm pernah naik gunung yg bnr2 gunung gitu sih mbak... pernahnya juga cuma sikunir, itupun level yg paling rendahnya ;p.. dan aku udh mula kliyengan pas naik -__-.. tapi pas nyampe di atas dan melihat sunrise, itu best moment, paling terindah yg prnh aku liat dan ga bakal keberatan balik lagi walo harus mendaki2 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Virus naik gunung tuh. Pas ndaki bilang "kapok deh" tapi pas nyampe puncak gembira ria lupa susahnya tadi. Pas udah pulang...susah move on pengen naik lagi hahah

      Delete
  20. Wah, kayanya asyik nih bisa sampai ke puncak. Nggak terlalu tinggi juga termasuknya. Btw, kalo ngajak anak-anak recommended nggak ya? Anak-anak saya pasti seneng banget bisa lihat empat gunung berjejer.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Recommend mas..banyak kok balita balita :)

      Delete
  21. Kalau dari Kebumen deket tuh Dieng, pengin banget kesana

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature