Top Social

Doyan Jajan Buku Mizan karena Pak Guru

March 30, 2013
Seperti yang pernah saya baca di The Fabulous Udin karya Rons Imawan, “tidak ada yang lebih baik dari jajan buku”. Sejak belum bisa baca, kebiasaan saya tiap pagi sambil menunggu sarapan adalah baca buku atau karena belum bisa baca, disebut melihat-lihat buku. Buku selalu menarik perhatian saya yang masih pra TK waktu itu. Tak banyak buku tersedia di rumah saya yang berada di desa. Toko buku adanya di kota, sekitar 40km jaraknya.
Saat saya masuk SMA, gairah membaca buku saya tersalurkan. Bukan beli buku, tapi dengan membaca buku yang ada di perpustakaan. Kebetulan, di kelas X guru Bahasa dan Sastra Indonesia saya selalu “mengompori” untuk banyak baca dan nulis. Kalimat beliau waktu itu adalah..
“kalian tahu tidak buku blabalala..itu keren banget karena blablabla..”
Serempak kami 40 siswa bilang
“tidak tahu Pak”
Untuk menumbuhkan semangat membaca siswa, kami ditugaskan meresensi buku-buku sastra. Itulah kali pertama saya benar-benar membaca dengan fokus, menemukan unsur intrinsik dan ekstrisik sebuah karya sastra. Luar biasa efeknya, saya semakin suka membaca dan mulai belajar menuliskan buah pikiran agar dimengerti orang lain. Buku-buku Mizan yang saya baca saat di bangku SMA diantaranya adalah Supernova Dewi Lestari.
http://mizan.com/mizanandme.html
Kembali ke Pak Guru Bahasa Indonesia, beliau pernah menceritakan tentang kebiasaanya untuk membagi uangnya ke beberapa amplop. Salah satu amplop adalah untuk membeli buku. Kalimat yang sebenarnya memotivasi itu seakan keluar masuk telinga saya tanpa mengendap kala itu. Membeli buku adalah prioritas kesekian dari uang jajan saya yang tidak begitu banyak. Di awal masa kuliah, saya masih sering “nongkrong” di tempat penyewaan buku. Zaman itu, terbit Tetralogi Laskar Pelangi. Buku yang fenomenal, dan mulai menarik-narik saya untuk rajin ke Toko Buku. Merelakan uang jajan demi buku incaran seperti nasehat Pak Guru Bahasa Indonesia di SMA.
Kini setelah saya sudah memiliki penghasilan sendiri dan kecanggihan teknologi sudah “WOW” , tiap habis gajian saya selalu mengunjungi toko buku online, salah satunya toko buku milik Mizan. Sebenarnya, hampir tiap saya penat, saya shopping book di situ, tapi sekedar masukin ke “wish list”. Kalau sudah gajian, baru deh “masukan ke troli”. Bulan kemarin saya jajan di Mizan buku Kreatif Sampai mati, Madre, dan The Fabulous Udin. Tidak lupa untuk meresensinya setelah selesai membaca.


Kebiasaan yang ditularkan Pak Guru Bahasa Indonesia untuk doyan jajan buku itu ternyata seru. Saat ini di rumah saya sudah ada “little library” dan tentu ada buku-buku terbitan Mizan di sana. Semangat membaca dan meresensi buku akan saya tularkan ke lingkungan. Meresensi itu bermanfaat, tidak hanya menginformasikan ke orang lain mengenai unsur buku dan merekomendasikannya tapi juga membantu kita mengingat buku yang sudah kita baca. Mengingat lagi pesan si penulis, bagian penting, dan memori apa yang ada saat kita membaca buku itu tanpa harus membaca ulang.
Kebetulan, di ulang tahun mizan yang ke-30 tahun ini diadakan lomba resensi Bianglala Sastra Indonesia. Tentu event ini tidak saya lewatkan begitu saja. Semoga Penerbit Mizan akan terus ada, sampai anak cucu saya. Menyajikan buku yang berbobot dari penulis bermutu. Jajan buku adalah investasi, apalagi buku-buku berkualitas. Mizan and me adalah partner mengenal sastra, seperti yang diajarkan Pak guru. 


2 comments on "Doyan Jajan Buku Mizan karena Pak Guru"
  1. waahhh,, teernyata penggemar buku mizan yaa, , pantes bangets pinter nulis,, tetap berarya yaa :)

    ReplyDelete
  2. Iya betul bgt..terima kasih ya....:-)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature