Review Madre Dee Lestari

March 21, 2013

“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari?

Darah saya mendadak seperempat Tionghoa,

Nenek saya seorang penjual roti, dan dia,

Bersama kakek yang tidak saya kenal,

Mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”


Judul: Madre
Penulis: Dee
Editor: Sitok Srengenge
Penerbit: Bentang
Jumlah Halaman: 160
Cetakan: 2, Agustus 2011
ISBN: 9786028811491

Ide yang brilian untuk mengangkat cerita bertema kuliner. Madre kumpulan cerita saya dapatkan di toko online Mizan menjelang peluncuran versi layar lebarnya. Meskipun ada versi terbaru dari Madre yaitu Madre: A coffetable book, memilih versi asli agar tahu kisah lainnya adalah pilihan yang lebih baik.

Sinopsis:
Madre adalah kumpulan prosa dan puisi yang dibuat oleh Dewi Lestari selama 5 tahun ke belakang. Untaian kisah apik ini menyuguhkan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, dilema antara cinta dan persahabatan, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati. Madre sendiri berbicara seputar kehidupan yang bersumber dari benda mati ("Madre"), komunikasi dalam diam antara ibu dengan janinnya ("Rimba Amniotik"), pencarian jodoh seorang laki-laki berdasarkan tanda-tanda alam yang misterius ("Have You Ever?"), evolusi drastis yang dapat terjadi dalam diri seorang manusia ("Guruji"), dan jiwa bebas seorang perempuan yang pada akhirnya mendarat di tanah yang lama ("Menunggu Layang-layang"). 
Cerita yang menjadi judul buku ini adalah Madre. Kisah tentang seorang laki-laki yang baru mengetahui bahwa dia adalah keturunan tukang roti setelah seorang pria Tionghoa tua bernama Tan meninggal. Dari situ, dia bertemu dengan orang-orang Tan de Bakker dan juga “Madre”, sebuah biang roti yang menjadi pivot utama cerita pendek ini. Selain Madre, ada juga cerita “Layang-layang” yang menceritakan tentang dua orang yang punya pribadi yang berbeda.

Review:
Secara keseluruhan, Madre bernuansa lebih lembut daripada Filosopi Kopi. Alur cerita di dalam buku ini adalah maju semuanya beralur maju. Hal ini membuat pembaca tidak perlu kesusahan memahami cerita. Banyak sekali perumpamaan-perumpamaan serta kalimat majas yang indah. Bahasa yang digunakan oleh penulis sesuai dengan kaidah kebahasaan yang resmi. Misalnya kata “Napas” bukan “Nafas”, dan kata
“Serdawa” bukan “Sendawa”. Pemilihan bahasa bukan hanya membuat suatu tulisan enak dibaca, tapi juga merupakan bentuk edukasi kepada pembaca. Apalagi kondisi Bahasa Indonesia saat ini sudah campur aduk dengan bahasa “gaul” atau bahasa daerah dan tidak tahu lagi mana yang asli. Kekuatan lain dari kumpulan cerita Dee Madre terlihat pada kekuatan penokohannya. Misalnya, Tansen yang bebas benar-benar dikuatkan dengan tindak tanduknya, gaya rambutnya, dan cara berfikirnya. Buku yang tipis dan ringan meskipun ada 13 kisah menandakan bahwa penulisnya mampu mengutarakan ide secara padat. Memilih kata yang seharusnya berupa paragraf menjadi hanya sebuah kalimat. Seperti sudah tertuang di awal resensi ini, ide dari cerita-ceritanya sangat berbeda dan fresh. Hal ini mengakibatkan pembaca tidak mudah menebak jalan cerita selanjutnya dan akhir cerita.
Seperti biasanya, Dewi Lestari sang penulis menghadirkan kalimat-kalimat indah “quotes” di bukunya.

“Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman bukan penjelasan. Perjalanan bukan tujuan. Pertanyaan yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”

“Dan aku bertanya: apakah yang sanggup mengubah gumpal luka menjadi intan
Yang membekukan air mata menjadi kristal garam?
Sahabatku menjawab: Waktu
Hanya waktu yang mampu”

Diantara kelebihan-kelebihan dari buku kumpulan cerita ini, tentulah ada kelemahan. Cover Madre terlalu kaku, tidak seperti filosofi kopi atau Perahu kertas yang soft dan “menggoda”. Dari sisi psikologi, warna orange memberikan kesan tidak nyaman, dan sedikit gaduh. Mungkin karena sebab itulah warna ini paling banyak di pakai untuk menarik perhatian orang. Cover buku bukanlah suatu papan lalu lintas yang mengharuskan orang untuk melihatnya. Cara menarik perhatian pembaca agar mengambil buku ini di rak adalah seperti di cover perahu kertas. Tebalnya buku tidak menyurutkan niatan pembaca membuka halaman-halamannya.
Tidak semua orang menyukai dan mampu memahami prosa. Seharusnya penulis memisahkan antara kumpulan cerita dan kumpulan prosanya, sehingga pembaca tidak akan meng “skip” halaman yang tidak ia mengerti. Penulis seakan memaksakan diri memasukan cerita-cerita yang tak senyawa dengan Madre sehingga terkesan mengambang.
Pesan penulis yang bisa ditangkap diantaranya adalah tentang passion. Di cerita Madre ada Tansen yang memiliki pasion hidup bebas tapi ternyata diberikan anugerah Tuhan berupa kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Seperti itulah hidup, tidak selamanya passion menghidupi kita, tapi kita tetap bisa hidup bersama passion.
Simpulan dari review ini, Madre memang recomended untuk dimiliki. Terutama bagi yang ingin tahu cara Dewi Lestari bercerita dalam versi singkat. Siapkan catatan kecil saat membacanya, karena buku ini memiliki quotes-quotes yang indah. "Madre" benar-benar imajinatif, membawa pembacanya kepada suasana toko roti tua, aroma ragi, tepung, dan hangatnya suasana dekat oven. Pantaslah jika akhirnya diangkat ke layar lebar.

untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu

dan menjembatani semuanya

demi memahami dirinya sendiri." (Hal.160)
 image source:
www.ceritamu.com
Post Comment
Post a comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature