[Review Buku] Burung Terbang Di Kelam Malam by @arafat_nur

November 12, 2014
Sampulnya menarik sekali, sayapun mengambilnya dari rak. Baca sinopsis, dan melihat penerbitnya yang cukup besar. Meyakinkan. Pergi ke kasir, lalu bayar. Tadaaa...setelah sampul depan, ada 2 lembar halaman testimoni dari orang-orang yang hampir semuanya tidak kukenal. Masuk ke daftar isi, hhmmm judulnya panjang-panjang dan agak 'liar'. Okey...mari dicoba baca.

    
Judul: Burung Terbang di Kelam Malam
Penulis: Arafat Nur
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2014
Jumlah halaman: 374
Genre: Novel

Sinopsis
Jika kehidupan adalah sebuah perjalanan, Fais adalah seorang petualang yang berjalan sendirian di antara riuhnya dunia. Di tengah masyarakat yang mengelu-elukan sosok Tuan Beransyah, Fais memilih jalannya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa kandidat wali kota yang dikenal alim, dermawan, dan pandai agama itu tidak lain adalah sosok yang amat munafik.

Maka, dimulailah sebuah perjalanan dengan kejutan di setiap tikungannya. Perjalanan itu tidak saja membuat Fais menemukan kebenaran di balik politik pencitraan yang memuakkan, tetapi juga kebenaran perasaannya. Fais akhirnya sadar, pertemuan dengan perempuan-perempuan yang sempat menggetarkan hatinya justru adalah jalan yang membawanya pulang pada cinta sejatinya.

Burung Terbang di Kelam Malam mengungkap kehidupan sosial yang begitu dekat; tentang sisi gelap politik dan cinta. Hubungan cinta terlarang, perasaan tidak berdaya, takut kehilangan, dan kesedihan yang begitu kental terpadu tanpa kehilangan rasa humor. Sebuah kisah yang berliku, tetapi diceritakan dengan sangat lugas dan mengalir.

Review

Soal selera sih,,,dan ini bukan selera saya. Susah payah ngeberesin baca. Cuma 1 bintang saya beri, itu untuk setting dan tema yang berbeda...Aceh pasca perang. Lainnya,,,hhmmm...biasa banget. Cara penuturan bahasanya seperti orang nulis diary tapi datar. Penulis cerita sendiri, tanpa peduli pembaca menyelami apa enggak. Pas adegan 'ngeri' atau 'kaget' aja disampaikan dengan cara datarrrr abis. Flat...tak ada yang mengejutkan dari awal hingga akhir. Bisa ketebak. 


Penokohan Fais bahkan nggak kuat, dia lebih sering berbicara tentang 'aku'. Entah ya, hikmah dan pesannya itu maunya apa. Hahahaha. Terlalu cabul? 

Lelaki macam Fais ini banyak berkeliaran. Kucing garong!!!!! Polos-polos tapi kemaruk. Ganteng dan merasa ganteng. Setelah berbuat salah, termenung, merasa berdosa,,,tapi tak tobat-tobat. Dan setelah menyakiti orang yang dicintainya, dia datang,,,merayu-rayu. Fais dan Tuang Beransyah,,sama saja.




Post Comment
Post a comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature