Review Totto-chan: Si Gadis Kecil di Tepi Jendela (The Little Girl at the Window)

December 03, 2012

Paperback, 1st ed., 197 pages
Published : 1985 by Pantja Simpati (first published 1981)
edition language: Indonesian
original titleTotto-chan: The Little Girl at the Window
charactersTotto, Sosaku Kobayashi
settingnear Jiyugaoka Station, Tokyo (Japan)

Cetakan awal sebelum diterbitkan ulang oleh Penerbit Gramedia

cover 1984
versi bahasa arab


versi sekarang



Sinopsis:
Ibu Guru menganggap Totto chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto chan dikeluarkan dari sekolah.
Mama pun mendaftarkan Totto chan ke Tomoe Gakuen. Totto chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yng dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali kan? Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka.
Karena sekolah itu begitu unik, Totto chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.
Review:
Anak-anak memiliki karakter yang natural. Jiwa mereka bebas penuh rasa ingin tahu. Dan dunia pendidikan kita sering menjadi pembatas. Membatasi ruang gerak dan kreativitas mereka. Pendidikan kita sering menanamkan program-program tanpa kompromi yang membuat mereka seperti robot.
Dunia sekolah terkadang menjadi tempat yang menakutkan. Berbagai macam buku dijejalkan ke dalam tas mereka. Dan sekolah berlangsung dari pagi hingga sore hari. Setelah pulang tak ada aktivitas yang bisa mereka lakukan selain duduk melepas lelah bersama televisi. Dan waktu malam yang santai dihabiskan dengan mengerjakan segudang PR yang aduhai banyaknya. Singkat kata, sekolah tidak menjadi komunitas yang menyenangkan. Semua dilakukan dengan tujuan hanya menjadi pintar menurut standar rapot.
Membaca buku ini membuatku iri pada Totto-chan. Memiliki kesempatan belajar & bermain di sebuah sekolah dasar yang benar-benar mendidik, tidak hanya dari segi pengetahuan tapi juga budi pekerti.

source: goodreads.com
Post Comment
Post a comment

Terima kasih sudah berkunjung.
Komentar berisi LINK HIDUP akan DIHAPUS.

^^ @Innnayah

Auto Post Signature

Auto Post  Signature